
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Melodi setelah Juwita mencicipi bubur favoritnya.
"Suka," jawab Juwita.
"Kalau begitu makanlah yang banyak," kata Melodi.
Melodi meraih semangkuk bubur yang lain, lalu memberikannya pada Prita dengan senyum mengembang. "Ini untukmu!"
"Terimakasih!" jawab Prita.
Saat ini ketiga wanita itu sedang jalan-jalan untuk menikmati aneka makanan yang dijajakan di sepanjang jalan. Melihat ketiga wanita itu akur saat menikmati bubur kacang merah, ketiga pasangan mereka pun juga lega. Kebetulan tiga pria itu duduk di tempat yang berbeda karena lebih memilih untuk ngopi di stand yang berbeda pula.
"Bukankah dia sangat manis?" tanya Anggara membuka obrolan.
"Eum, dia sangat manis!" jawab Sadewa.
"Siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Jeff setelah mendengar dua pria itu memuji seseorang. Jeff yang awalnya sibuk dengan gadgetnya akhirnya mulai ikut berbaur. Kebetulan sedikit urusannya sudah dia selesaikan barusan.
"Istrimu!" jawab Sadewa dan Anggara bersamaan.
Jeff tersenyum sinis. Jelas-jelas dua pria ini membawa pasangan mereka masing-masing. Kenapa mereka malah sibuk memperhatikan Juwita dan memujinya? Di depan suaminya pula.
"Jaga sikap kalian, dia itu sudah punya suami. Dan suaminya ada disini," kata Jeff memperingatkan.
Sadewa dan Anggara yang sejak tadi menyangga dagu menoleh ke arah Jeff secara bersamaan. Lalu menyemburnya dengan satu kalimat secara bersamaan pula. "Apa masalahnya, dia kan adikku!"
"Ya, dia memang adikmu!" gerutu Jeff.
Jeff tidak berkomentar lagi setelah mendapatkan semburan dari Sadewa dan Anggara. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain untuk melihat-lihat. Mungkin, dunia begitu sempit. Karena di ujung jalan sana Jeff melihat Alan dan Caca sedang bergandengan tangan dengan mesra.
"Lan!" panggil Jeff.
Jeff mengangkat satu tangannya. Bersiul dan membunyikan tangannya untuk memanggil Alan layaknya seekor burung. Alan dan Caca menoleh, lalu segera bergabung setelah tahu siapa yang memanggil mereka. Meskipun tidak kenal dengan Prita dan Anggara, tapi mereka kenal dengan Sadewa dan Melodi. Jadi mereka tidak sungkan lagi terlebih saat mengetahui hubungan antara Juwita dan Melodi sudah membaik. Toh setelah berkenalan, mereka sudah langsung akrab.
"Jeff, terimakasih!" kata Alan setelah dia bergabung kurang lebih setengah jam.
Spontan kalimat itu menyita perhatian Sadewa dan Anggara yang duduk bersama mereka. Sementara Jeff hanya menatap Alan dengan tatapan aneh. Memangnya apa yang dia lakukan sampai mendapatkan ucapan terimakasih dari Alan?
"Untuk?" tanya Jeff.
"Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu kau anak sultan," jawab Alan santai.
__ADS_1
Tentu saja jawaban itu Alan lontarkan dengan suara pelan. Seharusnya, hanya mereka berempat saja yang mendengarnya.
"Apa yang sedang kau katakan?" tanya Jeffsa.
Jeff rupanya masih belum mengerti. Apa hubungannya terimakasih yang Alan ucapkan dengan anak sultan. Apa Alan tahu sesuatu? Sekarang, tidak hanya Jeff saja yang penasaran, tapi Anggara dan Sadewa pun juga sama. Karena soal anak sultan, seharusnya tidak ada yang tahu selain mereka berdua.
Alan akhirnya menceritakan semuanya. Bahwa seorang kakek menemuinya dan menawarinya sebuah pekerjaan untuk dirinya. Awalnya Alan menolak karena tidak saling kenal, tapi kakek itu bersikeras dan mengatakan bahwa Jeff yang merekomendasikan mereka. Dari situlah pembicaraan berlanjut dan Alan tahu siapa sebenarnya Jeffsa.
Jeff tersenyum simpul. Sebelum dia pergi menemui Juwita saat Juwita mengundurkan diri hari itu, dia memang sempat meminta dua posisi di salah satu perusahaan cabang untuk diberikan kepada Alan dan Caca.
"Lan, seharusnya aku yang berterimakasih," kata Jeff setelah tahu alasan Alan berterimakasih.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Karena kau menawariku untuk menikah dengan Juwita waktu itu," jawab Jeffsa.
Alan yang mendengarnya tersenyum. Lalu mengingat kembali kejadian waktu itu. "Setelah kupikir-pikir, meminta Jeff menikah dengan Juwita sepertinya adalah keputusan terbaikku selama hidup," batin Alan dengan menikmati segelas kopinya.
Keempat pria itu larut dalam pikirannya masing-masing. Melihat pasangannya yang mengabaikan mereka karena sibuk dengan celotehan mereka di depan sana.
"Aku tidak menyangka kita bisa duduk bersama seperti ini," kata Anggara tiba-tiba.
Sadewa yang merasakan hal sama tersenyum. Duduk berdampingan dengan Anggara rasanya masih seperti mimpi. Sementara Jeff dan Alan hanya tersenyum tipis tanpa berkomentar apa-apa.
Ketiga pria itu melihat Sadewa bersamaan. Mengajukan pertanyaan yang sama pun juga bersamaan. "Apa?" tanya mereka.
"Aku sudah menikah. Alan sudah menikah. Jeff pun sudah menikah. Jadi, kapan giliranmu?" tanya Sadewa dengan menunjuk Anggara.
Anggara menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat kepalanya dan berkelakar, "Aku dan Prita baru saja memulai sebuah hubungan yang baru. Jadi kenapa aku harus buru-buru menikah?"
Tapi jawaban itu langsung mendapatkan tanggapan yang berbeda dari Alan. Sepertinya dia tidak setuju dengan pemikiran Anggara yang dinilai kurang berani. "Apa kau sudah lama kenal dia?" tanya Alan.
"Lumayan," jawab Anggara.
"Dengarkan aku, Brother! Dia bisa diambil orang jika kau tidak segera menikahinya. Tirulah Jeff. Pria ini bahkan menikah tanpa persiapan. Jadi kenapa kau harus menunda?" tanya Alan.
Anggara melirik Jeff yang berpura-pura tidak mendengar apapun. Lalu melihat Prita yang tersenyum manis saat bercengkerama di depan sana. Alan memang benar. Hubungan percintaan mereka memang baru dimulai. Tapi mereka sudah kenal lama. Jadi kenapa tidak cepat menikah saja?
"Kalau aku melamarnya sekarang, menurut kalian bagaimana?" tanya Anggara meminta pendapat.
"Itu ide yang sangat bagus," jawab Jeff mewakili.
__ADS_1
Anggara akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Mendekati meja sekumpulan wanita yang sibuk dengan obrolan seputar pria tampan. Tentu saja kedatangannya membuat keempat wanita itu merasa aneh.
"Prita, ada yang ingin ku katakan padamu!" kata Anggara.
"Katakan saja," jawab Prita.
Prita menggeser satu kursi untuk Anggara tapi Anggara menahannya. Dia malah menekuk lututnya dan memegang kedua tangan Prita sehingga membuatnya salah tingkah. Terlebih saat melihat ketiga teman wanitanya memperhatikan apa yang mereka lakukan
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Prita gugup.
"Maukah kau menikah denganku, Ta?" tanya Anggara.
DEG
Jantung Prita rasanya seperti berhenti berdetak. Kenapa tiba-tiba Anggara mengajaknya menikah. Mereka baru berpacaran tidak lama setelah Anggara keluar dari rumah sakit. Meksipun Prita senang, tapi ini masih sulit untuk di percaya.
Prita menunduk karena malu. Terlebih saat Anggara mengutarakan niatnya di depan umum.
"Calon kakak ipar, kau belum menjawab pertanyaan kakakku," kata Juwita menyadarkan Prita.
Ucapan Juwita itu membuat Melodi dan Caca memberikan cubitan kasih sayang di paha Juwita. Lalu meletakkan jarinya di depan mulut dan mengisyaratkan agar Juwita diam saja.
"Aku mau!" jawab Prita dengan membalas genggaman tangan Anggara.
"Maafkan aku! Aku tidak menyangka akan mengatakan ini disini. Jadi aku tidak membawa cincin, tapi ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu," kata Anggara.
"Apa?" tanya Prita.
Prita menatap Anggara yang bangkit dari duduknya. Lalu secepat kilat sudah mendaratkan sebuah ciuman di bibir Prita tepat di hadapan Juwita.
"Lihatlah, kenapa mereka ciuman di depanku sih?" keluh Juwita.
Juwita menoleh ke kanan dan kiri. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat adegan ciuman itu selain dirinya sendiri karena Melodi dan Caca melihat kearah yang lain.
"Oh, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?" batin Juwita. Cukup canggung, tapi Juwita tidak memiliki keinginan untuk menutup matanya. Malahan yang dia lakukan adalah melihat adegan itu dengan menyangga kedua tangannya.
Iya, Juwita sangat menikmati pemandangan langka itu sampai merasakan bulu kuduknya meremang. Juwita menyentuh bagian belakangnya, tidak ada setan disini. Karena penyebab bulu kuduknya berdiri adalah Jeffsa yang memberikan tiupan di bagian itu.
"Apa kau sudah puas melihatnya, Wi?" tanya Jeffsa kesal.
"Oh, apa aku tidak boleh melihatnya?" tanya Juwita dengan salah satu alis yang terangkat.
__ADS_1
"Tentu saja tidak boleh!" jawab Jeffsa.
...***...