
Setelah pembicaraannya yang panjang di dalam sana akhirnya Kakek Firman keluar juga. Tidak ada yang pria itu katakan karena orangtua dan nenek Jeff bersikeras menolak kedatangan Jeff. Jeff bisa saja kembali asalkan Jeff bersedia memenuhi satu syarat yang mereka ajukan. Yaitu tinggalkan bayi yang mereka anggap sebagai anak haram dan menantu yang tidak jelas asal-usulnya seperti Juwita.
Tentu saja persyaratan gila semacam itu tidak akan pernah Kakek Firman katakan pada Jeff demi menjaga perasaan Jeff dan Juwita. Selamanya biar hanya Kakek Firman saja yang tahu dan menjadikannya sebagai rahasia.
"Ayo, kita pulang saja. Tidak perlu kesini lagi meskipun ketiga orangtua itu mengemis meminta kalian pulang!" ajak Kakek Firman dengan wajah bersungut-sungut.
Jeff tidak berkomentar banyak melihat tingkah kakeknya. Dia tahu betul bagaimana tabiat orangtuanya. Jadi dia tidak protes lagi saat kakeknya mengajaknya pulang dan mengatakan tidak perlu kemari lagi. Karena sekali Jeff ditolak, maka jeff sudah enggan lagi.
Jeff menggenggam tangan Juwita semakin erat, melihat sekeliling sekali untuk yang terakhir kali sebelum tersenyum tipis kepada Juwita.
"Ayo!" kata Jeffsa.
Jeff membawa Juwita mengejar kakeknya dengan sumpah yang baru saja dia ikrar kan. Bahwa selamanya, Jeff tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya disini meskipun mereka yang memintanya. Tidak akan pernah sekalipun.
Mobil yang mereka tumpangi langsung meluncur membelah jalanan. Membawa mereka ke tempat selanjutnya, yaitu sebuah restoran untuk makan malam. Dalam perjalanan itu tidak banyak yang mereka bicarakan. Ketiganya lebih sering diam, kecuali Jouvis kecil yang terus berbicara meskipun hanya Juwita yang tahu apa artinya.
Keheningan itu baru pecah setelah di depan sana ada sebuah mobil yang mogok. Jeff memang hanya melihat sekilas. Tapi itu sudah cukup membuatnya mengenali siapa pemilik mobil itu.
"Berhenti!" kata Jeffsa.
"Baik, Tuan Muda!" sahut sopir.
Mobil itu berhenti tepat di depan mobil yang mogok. Juwita yang sudah melewati dua orang itu tidak bisa menutupi rasa harunya karena pemilik mobil mogok itu adalah Alan dan Caca.
Berbulan-bulan tidak bertemu. Juwita tidak menyangka bisa bertemu disini hari ini. Alan dan Caca juga membawa seorang bayi laki-laki yang usianya kurang lebih sama dengan usia Jouvis.
"Juwita, kau kenal dengannya?" tanya Kakek Firman saat melihat Juwita melepaskan sabuk pengamannya. Meskipun Kakek Firman pernah bertemu dengan Alan, tapi sepertinya dia sudah lupa karena hanya bertemu sekali saja.
"Kek, dia teman-teman kami," jawab Juwita dengan senyum merekah.
"Suruh mereka masuk. Kita bisa mengantarnya pulang setelah makan malam nanti," perintah Kakek Firman.
__ADS_1
Hari sudah sore dan cuaca kurang bersahabat. Terlebih tempat ini cukup sepi. Jadi Kakek Firman tidak ragu memberikan tumpangan untuk mereka.
Sementara itu Juwita dan Jeffsa segera turun. Berbincang sembari melepas rindu lalu naik ke mobil dan disusul Alan dan Caca yang menyempatkan diri untuk menyapa Kakek Firman terlebih dahulu.
"Ini anak kalian. Lucu sekali. Siapa namanya?" tanya Caca yang kebetulan duduk di urutan paling belakang bersama Alan.
"Namanya Jouvis," jawab Juwita.
Jeff yang duduk di sebelah Juwita tidak hanya duduk diam. Seingatnya Alan dan Caca di vonis susah punya anak. Tapi kenapa mereka membawa anak sekarang?
"Apa ini anak kalian?" tanya Jeff penasaran.
Caca hanya menjawab dengan senyuman. Lalu menoleh kepada Alan agar dia saja yang menjelaskannya. "Sebenarnya beberapa minggu yang lalu kami baru pulang dari panti asuhan dan kami menyukai anak ini. Namanya Rayyan. Jadi kami memutuskan untuk mengadopsinya," jawab Alan dengan mengelus rambut anak adopsinya.
"Dia pasti sangat beruntung karena memiliki orangtua seperti kalian," puji Jeffsa sembari menyentuh pipi Rayyan.
Kakek Firman yang duduk di depan juga tidak ingin ketinggalan. Orangtua itu sedikit memberikan petuah kepada Alan dan Caca. Tidak lupa memberikan pujian untuk mereka dan berharap mereka akan memperlakukan Rayyan dengan baik layaknya anak sendiri.
"Wi, bolehkah aku menggendong Jouvis sebentar?" ijin Caca.
"Berikan Rayyan pada kami juga!" pinta Jeffsa.
Tanpa menunggu lama Juwita langsung memberikan Jouvis kepada Alan. Sementara Caca juga memberikan Rayyan kepada Jeffsa. Saat ini mereka bertukar anak. Tidak ada perbedaan perlakuan diantara mereka. Keempat orangtua itu saling memuji, mencium bahkan memeluk erat-erat Jouvis dan Rayyan. Jujur saya ketulusan empat orangtua baru itu menyentuh hati Kakek Firman. Seandainya saja anak dan menantunya tidak memiliki hati sekeras batu, mungkin semuanya akan jauh lebih indah.
Dua pasangan itu masih bertukar anak hingga dua bayi itu tertidur di pelukan orangtua yang salah. Jouvis di pelukan Alan dan Rayyan di pelukan Jeffsa. Dua bayi itu bahkan tidak terganggu meskipun kelima manusia dewasa itu berbincang-bincang selama dalam perjalanan.
Sampai sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dan hilang kendali di depan sana. Tawa renyah dan senyum kebahagiaan itu berubah menjadi teriakan karena mobil yang mereka tumpangi gagal menghindari serudukan truk yang dikemudikan seorang pria mabuk.
.
.
__ADS_1
.
"Mereka kecelakaan?" tanya Mama Eliza.
Wanita yang melahirkan Jeff ke dunia itu langsung bangkit setelah mendapatkan laporan dari orang yang sengaja dia kirim untuk mengikuti mobil mertuanya.
"Benar, Nyonya! Kami baru saja mengeluarkan mereka. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang," jawab pengawal.
"Bagaimana keadaan anak dan ayahku?" tanya Papa Abian yang ikut menguping pembicaraan Eliza.
"Mereka luka cukup serius. Sementara yang lainnya,-"
"Aku tidak peduli dengan yang lainnya. Cepat bawa ayah dan anakku ke rumah sakit sekarang juga!" titah Papa Abian panik.
Berbeda dengan Abian yang tidak peduli dengan yang lainnya. Berbeda dengan Nenek Mariam yang sekarang merebut telepon genggam di tangan Abian.
"Dengar, bawa suami dan cucuku beserta bayi itu ke rumah sakit. Dan untuk wanita bernama Juwita itu, buang dia ke luar kota!" titah Nenek Mariam.
"Baik, Nyonya. Lalu bagaimana dengan tiga penumpang yang lain?" tanya pengawal itu.
"Penumpang lain?" tanya Nenek Mariam.
Pengawal itupun menjelaskan bagaimana kronologi Alan dan Caca naik ke mobil yang sama. Setelah mendengar penjelasan itu, Nenek Mariam pun meminta mengirim ketiga korban itu ke rumah sakit yang berbeda.
"Ma, Mama yakin akan membuang Juwita?" tanya Eliza kepada mertuanya.
"Akan lebih bagus kalau dia mati. Dengan begitu kita tidak perlu repot-repot mengotori tangan kita untuk membunuhnya, kan?" jawab Mama Eliza.
Dua wanita itu tersenyum puas. Begitu juga dengan Abian yang selalu setuju dengan ide gila ibunya.
"Kalau begitu ayo. Kita harus segera pergi ke rumah sakit, kan?" kata Abian.
__ADS_1
...***...