
Hari itu, Jeff menghabiskan waktunya dengan mendengarkan cerita Juwita. Tidak berbelanja ataupun makan malam dari ketinggian seperti yang Jeff rencanakan. Jeff tersenyum tipis ketika mendengar cerita bagaimana mereka bertemu. Semakin tertarik saat Juwita mengatakan bagaimana Kakek Firman merampas semua tabungannya dan Jeff menggantinya. Tentu saja bagian yang lebih menarik adalah ketika Juwita menceritakan tentang hubungan antara keluarga, teman-teman, dan tetangga mereka yang sangat harmonis.
Yah, seperti itulah Jeff dan Juwita menghabiskan malam. Semakin dekat tapi masih ada jarak. Jarak itu adalah ingatan Jeff itu sendiri. Mereka memang tidur di ranjang yang sama, memeluk satu sama lain dan memberikan ciuman. Tapi tidak ada apapun yang terjadi selain itu sebagai rasa bentuk menghargai pasangannya. Juwita yang menunggu Jeff pulih dan Jeff yang tidak mengambil kesempatan.
"Jeff, hari ini ibu dan nenekmu menemuiku. Aku melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada mereka. Mungkin mereka akan segera mencari gara-gara kan?" kata Juwita di akhir obrolan.
"Apa kau takut?" tanya Jeffrey tanpa mengatakan bahwa dia sudah melihat semuanya.
"Tidak," jawab Juwita.
"Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanya Jeffrey.
"Aku hanya menepati janjiku untuk tidak menyembunyikan apapun darimu," jawab Juwita.
Juwita menutup matanya. Memeluk Jeff seperti dulu dan mencoba tidur. Sementara Jeffrey, dia menepuk pundak Juwita. Dan setelah Juwita terlelap dalam tidurnya dia juga menutup matanya. Bukan untuk tidur tapi untuk mengingat wajah Jouvis dengan mata tertutup. Membayangkan bagaimana dia merawat Jouvis, mengganti popok dan memandikannya pada saat itu.
"Jadi aku ini benar-benar sudah jadi seorang papa? Tunggulah sebentar lagi, Nak! Papa pasti akan menemukanmu dan membawamu melihat ibumu," batin Jeffrey dengan mencium kening Juwita.
Di kamar hotel yang mewah itu suasana sudah sepi. Sangat berbeda dengan salah satu ruangan yang ada di rumah mewah Papa Abian dan Mama Eliza. Eliza langsung menceritakan semuanya ketika suaminya baru pulang dari perjalanan bisnis.
"Jadi Juwita yang asli?" tanya Abian.
"Iya, sayang!" jawab Eliza frustasi.
Abian berpikir sejenak. Tidak bisa, Jeff harus tetap menikah dengan Yasmine apapun yang terjadi. Bahkan jika dia harus membunuh Juwita sekarang. Karena dia secara pribadi pernah berjanji dengan ayah Yasmine yang merupakan sahabatnya bahwa mereka akan menikahkan anak mereka ketika dewasa.
"Bagaimana sekarang?" tanya Eliza meminta pendapat.
"Karena dia masih hidup, maka kirim orang lagi saja untuk membunuhnya. Sebelum Jeff ingat dan sebelum Jeff mengumumkan Juwita adalah istrinya," jawab Abian mantap.
Eliza setuju dengan usul itu. Mereka harus bergerak cepat sebelum Jeff mengingat semuanya. Tapi membunuh Juwita pasti akan membuat Jeff curiga. Jadi Eliza mengusulkan ide lain yang pasti akan membuat Jeff membuang Juwita.
__ADS_1
"Sayang, aku ada ide lain!" kata Eliza.
"Apa itu?" tanya Abian.
"Kalau tiba-tiba Juwita menghilang Jeff pasti langsung mencurigai kita. Tapi, kalau kita mengirim pria bayaran untuk tidur dengannya dan menyebarkan fotonya di internet. Seluruh dunia pasti akan tahu dan saat Jeff tahu kita tidak perlu repot-repot lagi karena Jeff pasti akan dengan sendirinya menyingkirkan wanita miskin itu," jawab Eliza.
Abian tersenyum tipis atas ide cemerlang istrinya. Lalu segera menghubungi Nenek Mariam untuk membagikan rencana mereka selanjutnya sebelum bersulang dan menghabiskan malam dengan minum wine.
.
.
.
"Tetaplah tinggal di rumah selagi aku pergi. Karena hanya di rumah ini aku bisa memastikan kau baik-baik saja," pesan Jeffrey.
Pria itu akan menjalankan misi rahasianya. Mendatangi sebuah alamat yang diberikan oleh Kakek Firman tempo hari. Sebuah alamat yang bahkan Juwita tidak tahu karena Jeff tidak pernah memberitahu siapapun. Kakek Firman awalnya juga tidak tahu, tapi setelah bertahun-tahun membentuk tim untuk mengawasi Jeff, dia akhirnya menemukan satu rahasia Jeff yang sesungguhnya. Yaitu sebuah biro arsitek lain yang Jeff rintis secara sembunyi-sembunyi dengan merahasiakan identitasnya. Bukan biro arsitek kecil yang dulu sempat dia tunjukkan pada Juwita.
"Kalau kau ikut, lalu siapa yang merawat Rayyan?" jawab Jeffrey sembari melirik Rayyan yang berjalan dengan di gandeng babbysitter.
"Ah, benar. Aku harus mengurusnya," kata Juwita.
Juwita segera menggendong Rayyan yang mengangkat tangannya sebagai isyarat ingin digendong. Tentu saja mulutnya yang kecil memanggil Juwita dengan sebutan 'aunty' meskipun belum fasih.
"Katakan selamat jalan untuk Uncle Jeff!" kata Juwita sembari mencium pipi Rayyan yang menggemaskan.
Rayyan menurut. Mengatakannya sesuai perintah Juwita meskipun dengan bahasanya yang masih sulit dimengerti oleh Jeffrey. Tapi apapun itu Jeff tersenyum, lalu menyentuh kepalanya dan meninggalkan satu ciuman di kepalanya.
"Bersabarlah, Rayyan! Paman Jeff pasti akan segera menemukan orangtuamu. Tidak hanya itu, Paman juga akan membawakan satu teman main untukmu!" kata Jeffrey.
Tentu saja kalimat itu membuat babbysitter dan pengurus rumah saling pandang. Meskipun kurang paham dengan apa yang terjadi. Tapi setidaknya mereka sudah sedikit mengerti. Bahwa Rayyan yang katanya anak Presdir Jeffrey, ternyata bukanlah anak kandung Jeffrey.
__ADS_1
Jeff segera pergi ditemani pengawal secukupnya. Sementara Juwita langsung masuk ke rumah dan menghabiskan waktunya dengan merawat Rayyan. Dalam kesempatan kali itu, Juwita juga menyisihkan waktu untuk menghubungi Kakek Ham dan melakukan panggilan video. Tanpa tahu bahwa saat ini Kakek Ham sedang berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek Firman.
.
.
.
"Kalian tunggulah disini. Aku akan masuk sendiri," kata Jeffrey setelah mereka sampai di tempat tujuannya.
"Tapi, Tuan Muda!" kata salah satu pengawal yang mencemaskan keamanan Jeffrey di tempat asing yang mereka kunjungi. Maklum, sekelompok pengawal itu tidak tahu apa tujuan Jeff kemari.
"Bukan masalah, ini adalah tempat yang aman!" kata Jeff meyakinkan.
Jeff meminta pengawalnya menunggu di mobil. Lalu dirinya sendiri segera bergegas menuju pintu utama. Jeff baru saja melangkahkan kakinya di pelataran. Tapi empat orang satpam langsung mengenalinya. Dari empat orang itu, satu diantara mereka langsung lari terbirit-birit memberitahu seseorang di dalam. Sementara satu yang lainnya berjaga di pintu dan dua lainnya menyambut Jeffrey.
"P-Pak Jeff! Anda akhirnya kemari?" tanya salah satu satpam.
"Apa Pak Jeff sudah mengingat kami, Pak?" tanya yang lainnya.
Jeff hanya tersenyum. Dia tidak ingat apapun. Tapi sambutan hangat ini juga terasa familiar. "Apa kalian mengenaliku?" tanya Jeffrey.
"Tentu saja kami kenal. Bapak setidaknya berkunjung kemari setiap seminggu sekali," jawab mereka.
"Mari, Pak! Saya antar ke dalam. Direktur Raihan pasti akan senang melihat Anda datang," kata satpam itu lagi.
Jeff mengikutinya satpam itu masuk. Benar saja, dia baru saja melangkahkan kakinya di dalam ruangan. Tapi seluruh kantor sudah gempar menyambutnya. Lalu di balik kerumunan itu, seorang pria sepantaran Jeffrey muncul. Dia adalah Raihan, anak yatim-piatu yang menjadi teman rahasia Jeffrey membangun biro arsitenya yang lain. Jeff bahkan mempercayakan posisi itu untuk memastikan dirinya aman dari kejaran keluarganya.
"Aku hampir mati menunggumu, Jeff!" kata Raihan dengan memberikan pelukan untuk Jeffrey.
...***...
__ADS_1