Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 29 Berbaikan


__ADS_3

"Tentu saja boleh. Sini, biar kakak memelukmu. Kakak sangat rindu," jawab Anggara.


Jujur saja Anggara sangat bersyukur. Dia mengira Juwita enggan menemuinya setelah apa yang dia lakukan selama ini. Tapi sepertinya perkiraannya meleset. Karena Juwita tidak hanya mendatanginya, tapi juga memanggilnya dengan sebutan kakak dan secara terang-terangan meminta sebuah pelukan.


Juwita yang mendapatkan ijin langsung menyambut pelukan Anggara. Mendekap erat pria yang belasan tahun dia benci tapi melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk melindunginya semalam. Sementara Anggara, dia tidak bisa menahan untuk mencium kepala gadis yang sudah turun tahta dari tingkatan hatinya. Jika sebelumnya Anggara menginginkan Juwita sebagai istrinya, maka sekarang sudah tidak lagi. Karena mulai sekarang, Juwita akan menjadi adik kesayangannya untuk selamanya.


"Maafkan sikap kakak selama ini, Wi! Seharusnya kakak melindungimu sejak dulu. Sejak mama dan papa serta kembar nakal itu selalu memperlakukanmu dengan buruk. Kakak sungguh sangat menyesal," bisik Anggara.


"Juwi juga minta maaf, dan terimakasih karena sudah menolong Juwi," sahut Juwita.


Dua kakak beradik itu menghabiskan waktu cukup lama dengan saling berpelukan. Mengenang masa kecil mereka yang dihabiskan tanpa bertegur sapa ataupun uluran tangan. Lalu tertawa bahagia karena akhirnya tembok permusuhan mereka runtuh saat ini juga.


Juwita dan Anggara sepertinya terlalu larut dalam luapan kegembiraan sampai tidak menyadari bahwa Prita yang sempat pergi sudah kembali. Saat ini dia sedang berdiri di depan pintu dan melihat semuanya. Melihat pemandangan menyejukkan mata yang entah bagaimana bisa menghadirkan seulas senyum di sudut-sudut bibirnya.


Sudah lama Prita tidak melihat atasannya bahagia dan tersenyum lepas seperti ini. Karena merasa momennya tidak tepat dan tidak ingin mengganggu keduanya, Prita pun berbalik arah. Berencana membawa kembali makanan yang sebenarnya akan dia berikan kepada Anggara. Tapi langkah kakinya terhenti saat Juwita dan Anggara kembali bersuara dan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Kakak, aku ini adikmu. Kau tidak boleh mencintaiku," kata Juwita tiba-tiba.


"Kenapa tidak boleh. Juwita, selamanya aku akan tetap mencintaimu. Tapi sebagai adikku!" kata Anggara.


Mendengar jawaban itu membuat Juwita tersenyum lebar dan semakin memeluk erat tubuh Anggara. Tentu saja tidak lupa memanfaatkan kesempatan itu untuk merekomendasikan Prita untuk dijadikan calon kakak iparnya. Meskipun baru bertemu satu kali, tapi Juwita merasa Prita orang yang baik. Sangat berbeda dengan Melodi yang masih Juwi benci setengah mati sampai detik ini.


"Kakak, suster bilang Prita menemanimu semalaman," beritahu Juwita.


"Dia, benarkah?" tanya Anggara.


Anggara melihat sekeliling, tapi tidak ada siapapun. Anggara tidak ingat ada wanita yang menemaninya semalam. Yang Anggara ingat hanyalah Jeffsa yang langsung menemuinya saat dia tersadar. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi karena terlalu sakit dan lelah sehingga membuatnya tertidur pulas.


"Dia pergi saat aku masuk. Kakak, bukankah dia cantik?" tanya Juwita.


Anggara diam sebentar. Kemudian mengingat-ingat wajah Prita yang beberapa tahun terakhir selalu menemaninya. Tak terhitung berapa banyak kerja sama yang mereka dapatkan saat keduanya menjadi partner di perusahaan. Tapi Anggara tidak memperhatikan lebih detail karena keberadaan Prita tertutup sempurna oleh Juwita.

__ADS_1


Anggara tersenyum tipis. Setelah mengingat semuanya, Anggara baru sadar bahwa Prita itu cantik. Dia selalu sopan, baik, ramah dan tidak neko-neko. Tak terasa senyum Anggara semakin lebar. "Eum, dia memang sangat cantik," puji Anggara.


"Kalau aku bilang dia menyukai kakak, apa kakak percaya?" tanya Juwita.


Juwita melepaskan pelukannya, lalu berbicara lebih semangat dari sebelumnya dengan ekspresi seperti anak kucing.


"Jangan bicara omong kosong. Kakak selalu memujimu di depannya. Bahkan meskipun dia sempat menyukai kakak, pasti rasa suka itu hilang dengan sendirinya," jawab Anggara dengan menyentil dahi Juwita.


Tak terhitung berapa kali Anggara menceritakan semua tentang Juwi kepada Prita. Memuji Juwita dan membungkai fotonya untuk di simpan di laci meja kerja. Anggara bahkan menggunakan foto Juwita sebagai hiasan yang tergantung di mobil meskipun ditutup agar orang tidak bisa melihat. Jadi bukankah semua itu seharusnya sudah cukup untuk membuat Prita membuang rasa sukanya?


"Tapi dia sempat mengatakannya padaku tadi. Dia sangat mencintaimu. Kakak, apa kau tidak ingin memberikan kakak ipar yang cantik dan baik seperti itu untukku?" usul Juwita.


"Kau mau dia jadi kakak iparmu?" tanya Anggara.


"Kalau kakak menyukainya dan dia menyukai kakak, kenapa tidak?" jawab Juwita.


"Kakak akan memikirkannya," janji Anggara.


.


.


.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Jeff pada Sadewa saat melihat istrinya menjadi setan dadakan saat Anggara disuapi oleh Prita. Dua pria itu mengintip dari balik kaca yang ada di pintu. Ragu lanjut masuk atau tidak.


"Sepertinya dia mendapatkan calon kakak ipar yang baru," jawab Sadewa.


"Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin membuat istri dan adikmu berbaikan seperti mereka?" tanya Jeff dengan menunjukkan hubungan baik antara Juwita dan Prita.


"Kenapa kau bertanya padaku. Bukankah itu tugasmu?" protes Sadewa.

__ADS_1


"Kenapa jadi tugasku?" tanya Jeffsa.


"Karena kau adik iparku," jawab Sadewa kemudian segera kabur dengan membuka pintu sebelum Jeff kembali memukulnya.


Ketiga orang yang ada di dalam menoleh. Menyambut dua tamu yang datangnya tidak tepat. Juwita dan Anggara memang biasa saja, tapi tidak dengan Prita yang menjadi canggung.


"Tidak perlu malu, teruskan saja. Aku kemari hanya untuk mengambil Juwita," kata Sadewa mencairkan suasana.


"Kau mau membawanya kemana?" protes Anggara.


"Dia sudah terlalu lama tinggal disini. Bukankah sekarang gilirannya untuk menjengukku?" tanya Sadewa.


Sadewa tidak perlu berdebat lagi dengan Anggara. Karena saat ini dia sudah menarik Juwita bersamanya tanpa merasa berdosa sedikitpun. Bahkan melewati Jeff yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan keadaan sekitar tanpa kata-kata.


Setelah dua orang itu melewati pintu, barulah Jeffsa mulai bereaksi. "Apa kau tidak ingin pergi dengan mereka?" tanya Jeff pada Prita.


Prita melihat Jeff dan Anggara bergiliran, lalu melihat nasi yang baru masuk ke mulut Anggara kurang dari setengah porsi.


"Biar aku yang menyuapi pria ini. Cepat susul calon adik iparmu selagi masih sempat," kata Jeff lagi.


"Baiklah, ini kuberikan untukmu," kata Prita sembari menyerahkan peralatan makan yang dia pegang kepada Jeffsa. Dia tahu pasti Jeff ingin berbicara empat mata saja dengan Anggara. Jadi menurut saja saat Jeff memintanya menyusul Juwita. Toh memang ada yang ingin dia bicarakan dengan Juwita nanti.


Tanpa persetujuan Anggara, Prita pun meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Jeff yang sudah siap dengan suapan penuh dan Anggara yang jijik karena harus disuapi oleh seorang pria.


"Singkirkan itu dariku, Jeffsa!" tolak Anggara.


Tapi Jeff tidak memiliki kesabaran layaknya seorang gadis. Meksipun Anggara menolak sekalipun dia akan tetap menepati janjinya untuk menyuapi Anggara. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena pria yang membuatnya lecek di hari pernikahan ini telah menolong istrinya semalam.


"Biasa sajalah. Aku terbiasa menyuapi Juwita saat makan. Jadi jangan sungkan," kata Jeffsa.


"Tapi aku bukan Juwita, Bodoh!" umpat Anggara tapi tetap menerima suapan dari Jeffsa karena terakhir dia makan adalah kemarin pagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2