Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 38 Puasa


__ADS_3

"Belum tidur, Mel?" tanya Sadewa.


Sebelumnya Sadewa menyelesaikan pekerjaannya di ruangan yang lain karena takut mengganggu istirahat Melodi. Tapi Sadewa tidak menyangka Melodi masih belum tidur meskipun malam sudah cukup larut. Apa yang membuatnya masih terjaga? Apa memikirkan kejadian siang tadi?


"Aku masih belum mengantuk," jawab Melodi.


Mendengar jawaban itu, Sadewa akhirnya mendekat. Menarik Melodi ke pelukannya dan mencium keningnya. Melodi pun memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan dirinya disana. Tanpa sepengetahuan Melodi, Sadewa tersenyum. Dulu, hampir setiap malam Sadewa melakukan hal seperti ini kepada Juwita sebelum Sadewa mengirim Juwita ke luar negeri.


Sebenarnya sangat banyak kejutan yang ingin dia berikan kepada Juwita saat dia kembali. Dan kejutan terindah yang ingin dia berikan adalah mengikatnya dengan sebuah ikatan pernikahan sebagai pembuktian cintanya seperti janjinya.


Semuanya sudah Sadewa siapkan dengan matang. Tapi takdir berkata lain karena kesalahan satu malam itu. Sebuah kesalahan yang sejujurnya Sadewa sendiri tidak ingat bagaimana dia melakukannya. Tapi yang jelas, saat dia terbangun dia sudah berada di ranjang yang sama dengan Melodi tanpa mengenakan apapun juga. Malam itu, Sadewa merenggut keperawanan Melodi dan Melodi dinyatakan hamil beberapa bulan berikutnya.


Mimpi Sadewa hancur. Hati Sadewa sangat sakit. Sakit karena tidak bisa memenuhi janjinya untuk Juwita. Sakit karena tidak bisa menikahi gadis yang sangat dicintainya. Semakin sakit begitu memikirkan bagaimana patahnya hati Juwita karena kesalahannya. Tapi sebagai seorang pria Sadewa tidak bisa lari dari tanggungjawab. Karena sebesar apapun cintanya untuk Juwita, dia tetap harus melepaskannya dan menikahi Melodi yang sudah terlanjur mengandung anaknya meskipun Sadewa tidak memiliki perasaan apapun.


Iya, sebelumnya Sadewa memang tidak memiliki perasaan apapun. Tapi Sadewa juga tidak bisa menutup mata bahwa Melodi benar-benar mencintainya dan Juwita sudah berbahagia hidup dengan Jeffsa. Untuk itulah Sadewa mulai berdamai dengan keadaan. Merelakan semuanya dan mulai belajar mencintai Melodi meskipun sampai saat ini masih belum bisa menumbuhkan rasa itu. Tapi hatinya mulai tersentuh dan luluh ketika Melodi memarahi Jeff saat insiden siang tadi. Sepertinya, mencintai Melodi seutuhnya hanya soal waktu.


"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Sadewa. Sadewa mencium kening Melodi, lalu menyentuh perutnya yang terasa hangat.


"Apa kau tahu apa yang Juwita suka?" tanya Melodi.


Sadewa melihat Melodi yang sebelumnya tidak pernah suka saat dirinya menyebut nama Juwita. Lalu tersenyum tipis sehingga membuat Melodi malu. "Tentu saja aku tahu," jawab Sadewa.


"Apa?" tanya Melodi lagi.


"Memangnya apa yang ingin kau lakukan. Membuatkannya sesuatu, membelikannya sesuatu, atau membawanya pergi ke suatu tempat?" tanya Sadewa lebih jelas.


"Aku tidak tahu akan melakukan apa. Tapi yang jelas aku ingin membuatnya senang," jawab Melodi.


"Dia sangat suka bubur kacang merah. Yang hangat dan tidak terlalu manis. Kalau kau ingin membuatnya senang, berikan saja itu untuknya," saran Sadewa.


Sadewa mengelus-elus perut Melodi. Melakukannya seolah-olah sedang bermain-main dengan anaknya di dalam sana.


"Hanya bubur kacang merah saja?" tanya Melodi.


Melodi sedikir mengernyitkan dahi saat Sadewa mengatakan bubur kacang merah. Melodi pikir Juwita yang ceriwis itu menyukai makanan mewah dan berkelas. Tidak disangka makanan favoritnya sesederhana itu.


"Sebenarnya dia tidak pilih-pilih makanan. Dia suka semua jenis makanan. Tapi diantara makanan lainnya, bubur kacang merah itulah yang paling dia suka," jawab Sadewa.


Melodi manggut-manggut sebentar. Jika hanya bubur kacang merah saja, bukankah itu sangat mudah dibuat. Tapi jika jauh-jauh datang hanya mengantar itu apa itu pantas?


"Sudahlah, pantas tidak pantas bukan masalah. Karena Sadewa bilang itu yang paling dia suka ya buat itu saja. Aku hanya perlu membuat dalam jumlah porsi yang lebih besar nanti," batin Melodi.


"Bisakah mengantarku ke rumahnya besok. Aku ingin membuatnya bubur kesukaannya itu," ijin Melodi.


"Sebaiknya jangan!" larang Sadewa.


"Kenapa, bukankah kau bilang Juwita menyukainya?" tanya Melodi.


"Dia memang menyukainya. Tapi dia akan marah jika tahu kau yang membuatnya," jelas Sadewa.


"Apa karena dia masih membenciku karena merebutmu darinya?" tanya Melodi.


"Bukan seperti itu. Juwita itu spesial, yang membuatnya marah adalah kau yang sedang hamil ini harus sibuk membuat kacang merah. Dia tidak suka itu," jelas Sadewa.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Melodi.


"Daripada membuatnya lebih baik beli saja. Sekalian bawa dia ke street food, pasti dia senang!" lanjut Sadewa.


Melodi mengangguk tanda mengerti. Tapi jika hanya mereka berempat sepertinya akan canggung. "Tapi aku canggung," keluh Melodi.


Sadewa yang sedari tadi mengelus perut Juwita akhirnya berhenti. Bukankah masih ada Anggara dan Prita, jadi kenapa tidak membawanya sekalian. Lagipula mereka semua kan keluarga.


"Aku akan menghubungi Anggara untuk membawa serta Prita. Bagaimana?" tanya Sadewa.


"Siapa itu Prita?" tanya Melodi.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu siapa Prita?" tanya Sadewa.


"Tidak!" jawab Melodi.


"Prita itu seharusnya calon kakak ipar Juwita juga," jelas Sadewa.


"Kakak ipar?" tanya Melodi.


"Eum. Jadi berjuanglah. Jangan sampai posisimu direbut oleh Prita," jawab Sadewa.


Sadewa segera menghubungi Anggara malam itu juga. Saling menanyakan kabar sebelum Sadewa mengatakan apa rencananya. Telepon mereka baru terputus setelah Anggara menyetujui ajakan Sadewa.


"Beres. Sisanya tinggal Si Jeff itu," kata Sadewa.


Sadewa langsung meletakkan ponselnya. Lalu memeluk Melodi sangat erat dan mencium lehernya. Jujur saja itu membuat Melodi merasa aneh. Meskipun mereka sudah menikah tapi mereka tidak pernah melakukan adegan seintim ini. Biasanya Sadewa hanya akan memeluk dan mencium keningnya saja. Bahkan hubungan mereka di ranjang juga hanya terjadi sekali saat itu. Itupun dilakukan Sadewa saat tidak sadar. Jadi bisa dikatakan Sadewa belum pernah melihat dan menikmati Melodi seutuhnya.


"Sadewa, ada yang ingin ku katakan," kata Melodi tiba-tiba.


"Apa?" tanya Sadewa.


"Sebenarnya malam itu ada yang belum ku ceritakan padamu," jawab Melodi.


"Apa maksudmu, Mel?" tanya Sadewa.


Melodi akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan semua kronologinya lebih detail. Semuanya berawal ketika Melodi secara tidak sengaja mendengar percakapan seorang wanita yang sedang hamil di sebuah acara pesta. Wanita itu tidak tahu ayah dari anaknya itu siapa. Untuk itulah dia memberikan sebuah obat di minuman Sadewa untuk menjebaknya.


Melodi bimbang. Dia tahu Sadewa mencintai Juwita. Dia tidak rela Sadewa menikah dengan Juwita tapi dia lebih tidak rela melihat Sadewa menikah dengan wanita jahat itu. Jadi selagi Sadewa mabuk, Melodi menolong Sadewa dengan membawanya ke tempat yang lain.


Entah apa yang merasuki Sadewa, mungkin dia terlalu rindu dengan Juwita. Atau terlalu mabuk sehingga salah mengenali orang. Tapi yang jelas Sadewa langsung meraih Melodi dan melakukan hubungan terlarang itu. Sebenarnya Melodi masih bisa menolak jika dia mau. Karena Diujung kesadarannya, Sadewa sempat meminta ijin meskipun menyebut nama yang salah. Sadewa bersedia berhenti, tapi Melodi yang terlalu mencintai Sadewa memilih memanfaatkan kesempatan itu untuk memiliki Sadewa.


"Maafkan aku!" kata Melodi.


Melodi melepaskan pelukan Sadewa. Merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Sadewa. Dia tahu, Sadewa pasti marah. Tapi Melodi tidak sedih. Setidaknya dia sudah jujur, lalu selanjutnya biarkan Sadewa yang memutuskan.


"Apa?" tanya Melodi.


"Karena kau menolongku dari wanita itu," kata Sadewa kemudian membalik Melodi dan mencium bibirnya.


Melodi melihat Sadewa dengan tatapan yang berbeda. Apa ini benar terjadi. Sadewa mencium bibirnya. Melodi mengira ini semua hanya mimpi. Tapi ciuman kedua Sadewa di bibirnya menyadarkannya bahwa ini bukan mimpi.


Melodi menyambut ciuman Sadewa. Dua-duanya membalas dengan ciuman yang panas. Ciuman itu terhenti ketika Melodi merasakan tangan Sadewa mulai menyelinap dan membuka pengait pakaiannya.


"Sadewa, apa yang kau lakukan?" tanya Melodi.


"Mel, bukankah kita sudah pernah melakukannya?" tanya Sadewa dengan tatapan mata yang bergairah.


"Tapi waktu itu,-"


"Mel, kita sudah akan punya anak. Kenapa kau harus malu. Lagipula, saat itu aku tidak ingat bagaimana rasanya. Jadi bisakah membantuku mengingatnya?" tanya Sadewa meminta ijin.


Melodi mengingat kembali bagaimana kejadian waktu itu. Melodi masih ingat jelas bagaimana sakitnya saat Sadewa menembus dan menidurinya dengan panas. Itu membuat Melodi sedikit takut. Apa itu akan terjadi lagi malam ini?


"Apa yang membuatmu ragu, Mel?" tanya Sadewa.


"Sadewa, itu sakit!" jawab Melodi.


"Itu karena pertama kalinya. Aku janji aku akan pelan-pelan!" bisik Sadewa dibarengi dengan tangannya yang membebaskan Melodi dari lilitan pakaiannya.


Sadewa akhirnya melihat tubuh Melodi untuk pertama kalinya saat dia sadar. Semuanya sangat menarik, terlebih perut buncit yang di dalamnya ada bayi mereka yang belum tumbuh sempurna.


Melodi yang merasa diperhatikan menutupi dirinya dengan apapun tapi Sadewa menghalaunya dan mulai memuaskan hasratnya yang tiba-tiba naik. Malam itu, sepertinya menjadi malam pertama mereka setelah menikah. Entah siapa yang terlalu bersemangat tapi yang jelas mereka melakukannya berulang-ulang dan baru berhenti ketika Melodi mengeluh sakit di bagian perutnya satu jam kemudian.


"Mel, kau baik-baik saja?" tanya Sadewa.


"Perutku sedikit sakit," jawab Melodi.

__ADS_1


.


.


.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan calon anak saya. Apa mereka baik-baik saja?" tanya Sadewa saat Dokter keluar dari ruangan Melodi.


"Ibu Melodi baik-baik saja. Dia hanya cidera ringan. Setelah istirahat sebentar dia akan segera pulih. Mohon lebih menjaganya lagi!" jawab Dokter.


"Saya mengerti. Terimakasih, Dokter!" kata Sadewa lagi.


Sadewa masih berdiri di depan ruangan. Memijit kepalanya yang sakit saking paniknya. Malam yang seharusnya menyenangkan kenapa bisa jadi berantakan. "Ck, sepertinya aku memang harus puasa sampai Melodi melahirkan," batin Sadewa.


Sadewa masih merenungi kesalahannya di depan pintu. Tanpa tahu Jeff dan Juwita sudah berdiri di belakangnya.


"Baru siang tadi aku memintamu menjaganya. Kenapa tengah malam begini sudah membuatnya masuk rumah sakit. Kak, kau ini sebenarnya bisa menjaga istrimu tidak sih?" protes Juwita.


"Wi, bukan seperti itu," bela Sadewa.


"Lalu seperti apa?" tanya Juwita.


Sadewa hanya diam saja. Tidak mungkin Sadewa akan mengatakan Melodi sakit karena mereka baru saja bercinta kan?


Juwita mengintip Melodi yang sedang tidur dengan selang infus yang menancap di tangannya dari kaca. Lalu melihat Sadewa untuk memarahinya lagi. Tapi Jeff segera membungkam mulut dan menjepit tubuhnya agar tidak bergerak dan bersuara.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Jeffsa.


"Dia akan baikan setelah istirahat," jawab Sadewa.


Jeff memperhatikan Sadewa dengan teliti. Lalu menemukan bekas merah yang mengintip dari balik kemejanya. Bekas yang tersembunyi itu Juwita sudah tentu tidak bisa melihatnya. Dia kan pendek.


"Sepertinya kau terlalu bersemangat, Bro!" ledek Jeffsa melalui bisikan.


Sadewa tersenyum. Lalu memperbaiki kemejanya yang sempat diintip oleh Jeffsa. Kemudian membalas ledekan itu dengan bisikan pula. "Ini pelajaran untukmu, Jeff! Saat adikku hamil nanti, pastikan pelan-pelan saat melakukannya agar tidak pergi ke rumah sakit tengah malam begini."


"Aku tidak bisa janji soal itu," jawab Jeffsa.


Sadewa melihat Melodi sekilas, lalu melihat jam tangannya. "Kalian pulang saja. Tidur yang nyenyak dirumah," usir Sadewa.


"Sesuai keinginanmu," sahut Jeffsa.


Jeff langsung membawa Juwita pergi tanpa memberikannya kesempatan untuk menjenguk Melodi. Menjenguk untuk apa, dia kan baik-baik saja. Mungkin dia hanya terlalu lelah bercinta. Ngomong-ngomong, tiba-tiba Jeff menjadi sedikit iri kepada Sadewa. Kenapa dia tidak pernah mendapatkan bekas seperti itu dari Juwita?


"Wi, gigit aku!" kata Jeff saat mereka sudah sampai di mobil.


"Kenapa aku harus menggigitmu?" tanya Juwita.


"Karena aku ingin," jawab Jeffsa.


Juwita mengabulkan permintaan suaminya. Dia menarik tangan Jeff dan menggigit jari telunjuknya hingga meninggalkan bekas dua buah cekungan akibat dua gigi kelinci yang Juwita punya.


"Sakit, Wi!" keluh Jeff dengan mengibaskan jarinya.


"Bukannya kau sendiri yang minta digigit?" tanya Juwita.


"Bukan disitu, Wi!" keluh Jeffsa.


"Lalu dimana?" tanya Juwita.


Jeff melihat Juwita sebentar. Tidak yakin akan mengatakan dimana dia ingin digigit. Lagipula percuma juga, karena untuk meminta Juwita yang oon tidak bisa hanya dengan kata-kata. Tapi dari praktek langsung.


"Nanti saja setelah sampai di rumah," jawab Jeff.


...***...

__ADS_1


__ADS_2