
Beberapa saat yang lalu.
BRUK
Juwita terjerembab di tepi jalan raya yang sepi dan minim penerangan. Dia menunduk memegangi dadanya yang sesak. Perasaan familiar ini mengingatkannya pada kejadian belasan tahun yang lalu saat orangtuanya mati karena kecelakaan. Mungkinkah ini sebuah pertanda? Apa Ayah Bubunya baik-baik saja disana?
Tidak. Juwita tidak bisa meninggalkan Ayah Bubunya seperti ini. Apa yang akan dia katakan pada Bunda Nindi dan adik-adiknya jika terjadi sesuatu dengan ayahnya? Dengan kaki gemetar Juwita berdiri, kembali menerobos semak-semak untuk pergi ke tempat ayahnya tanpa tahu di ujung jalan itu melintas sebuah mobil berisikan dua pria yang Juwita kenal.
"Wa, pelankan mobilmu!" perintah Anggara ketika melihat beberapa mobil terparkir yang salah satunya tidak asing untuknya.
Meskipun berada di dalam satu mobil, sebenarnya Sadewa dan Anggara masih tidak akur. Sadewa hanya memberikan tumpangan kepada Anggara yang mobilnya macet di jalanan sepi. Tapi meskipun begitu Sadewa tetap menuruti permintaan Anggara. Tidak hanya memelankan laju mobilnya, Sadewa malah berhenti tidak jauh dari mobil yang semuanya berwarna hitam.
"Kenapa?" tanya Sadewa acuh.
"Ini mobil adikku. Apa yang mereka lakukan disini?" tanya Anggara dengan menunjuk mobil Anggita.
"Mana aku tahu. Karena mobil adikmu ada disini, maka turun dan pulang dengan adikmu!" usir Sadewa.
Anggara tidak menghiraukan Sadewa yang mengusirnya. Tapi langsung turun untuk memeriksa isi dalam mobil. Sadewa yang memastikan situasinya aman akhirnya ikut turun juga karena penasaran.
"Kenapa tidak ada orang?" batin Anggara.
Sadewa yang curiga dengan keberadaan mobil itu tidak bisa menahan untuk bertanya.
"Apa yang dilakukan adikmu malam-malam di tempat seperti ini?" tanya Sadewa.
"Kalau aku tahu kenapa aku memintamu untuk berhenti?" sahut Anggara.
Anggara segera menghubungi adiknya. Sementara Sadewa berjalan-jalan disekitar tempat itu untuk memeriksa. Di seberang jalan itu Sadewa bisa melihat sebuah bangunan tua yang sangat luas yang membuatnya cukup bergidik ngeri.
Sadewa terus menyusuri jalan itu hingga dua puluh meter. Sejauh ini tidak ada apapun yang Sadewa dapatkan sampai matanya melihat sebuah sebuah sepatu yang sepertinya dia kenal.
"Wa, sepertinya ada orang di bawah sana!" seru Anggara.
Entah sejak kapan Anggara mengikuti Sadewa. Tapi pria itu sudah berdiri hanya beberapa meter saja dari tempat Sadewa. Anggara menyimpan kembali ponselnya. Menunjuk ke arah bawah agar Sadewa melihatnya. Tapi Sadewa tidak mendengar karena terlalu fokus mengingat pemilik sepatu yang dia pegang.
"Sadewa!" panggil Anggara.
__ADS_1
Anggara menepuk pundak Sadewa untuk menyadarkannya dari lamunan. Melihat wajah pucat milik Sadewa itu cukup membuat Anggara penasaran. "Kau kenapa?" tanya Anggara. Sadewa tidak melihat setan kan?
"Gara, i-ni sepatu ini seharusnya milik Juwita!" jawab Sadewa terbata.
Anggara melihat kearah semak tadi. Jika sepatu Juwita ada disini, mungkinkah yang barusan menerobos semak-semak itu Juwita? Tapi apa yang dia lakukan di tempat seperti ini. Terlebih, kenapa ada kedua adiknya juga disini. Mengingat perangai dua adiknya yang buruk, Anggara segera menarik Sadewa untuk ikut dengannya karena firasatnya mengatakan hal yang buruk akan terjadi.
"Ikuti aku sekarang. Aku melihat orang di sana. Mungkin itu Juwita!" kata Anggara.
Untungnya Sadewa bereaksi cepat dan berpikir waras. Selagi Anggara mencari jalan di depannya, dia segera menghubungi Jeffsa untuk memastikan keberadaan Juwita serta mencari bantuan. Dilihat dari jumlah mobil yang terparkir, seharusnya ada lebih dari dua puluh orang.
"Hallo!" jawab Jeff dari seberang sana.
Dari suara angin kencang disela-sela suara Jeff itu Sadewa tahu Jeff sedang mengendarai sepeda motor. "Kau dimana. Apa Juwi bersamamu?" tanya Sadewa.
"Juwi hilang. Aku sedang mencarinya sekarang. Apa dia bersamamu?" jawab Jeff.
"Aku menemukan sepatu Juwita di pinggir jalan. Anggara melihat orang di semak-semak. Mungkin itu Juwi. Kami sedang mencarinya sekarang," beritahu Sadewa.
"Kau dimana. Aku akan segera kesana!" tanya Jeffsa.
Jeff segera menepi. Memeriksa pesan berisi lokasi dimana Sadewa mencurigai sosok Juwita sekarang, lalu mengirimkannya ke grup chat teman berandalannya sebelum bergegas menuju lokasi.
"Wi, jangan sampai terjadi sesuatu denganmu!" gumam Jeffsa.
Di saat Jeff masih dalam perjalanan, Anggara dan Sadewa segera bergegas turun kebawah untuk menyusul sesosok manusia yang memang Juwita. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya mereka tiba di bangunan luas yang terbengkalai yang sebelumnya Sadewa lihat.
"Juwita, apa kau disini?" panggil Anggara.
"Wi, Kak Dewa datang menjemputmu. Jangan takut dan keluarlah!" kata Sadewa.
Dua pria itu terus menjelajahi setiap sudut bangunan. Memang tidak ada jawaban dari Juwita tapi keduanya yakin Juwita ada di tempat ini. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka mendengar suara manusia.
"Anggara, apa kau mendengarnya?" tanya Sadewa. Sepertinya dia mendengar teriakan Juwita yang menyebut nama 'Ayah Bubu'.
"Cepat, kearah sini!" jawab Anggara.
Dua pria itu berlarian dengan penerangan yang ada di senter ponsel. Mendekati sumber suara secepat yang mereka bisa. Benar saja, dari kejauhan mereka melihat Juwita memukul pria menggunakan balok kayu tepat di kepala mereka sebelum memeluk tubuh bersimbah darah.
__ADS_1
.
.
.
"Wi, kenapa kembali?" tanya Bubu dengan mulut penuh darah. Tangannya sempat terangkat, sebelum terjatuh karena kehilangan kesadaran.
"Ayah Bubu?" pekik Juwita.
Juwita memukul siapapun yang menghalangi jalannya. Lalu mendekati Bubu dan menangisi keadaannya yang mengenaskan. Juwita mencoba membangunkan ayah angkatnya yang sekarat dengan menggoyangkan tubuhnya meskipun tahu caranya sia-sia. Tidak ada satupun yang simpati. Mereka tertawa diatas luka hati Juwita yang kembali menganga.
"Sepertinya sudah mati," kata kepala penjahat.
Orang besar itu segera menghubungi Anggita yang saat ini sedang berpesta di bagian yang lain. Melaporkan kondisi Juwita dan Bubu dengan menunjukkan videonya.
"Pastikan mereka berdua mati! Kami pergi sekarang!" kata Anggita tanpa tahu bahwa kejahatannya diketahui Anggara dan Sadewa.
"Baik, Bos!" jawab penjahat kemudian menyudahi panggilannya.
"Hanya tersisa satu lagi. Karena dia perempuan, kenapa tidak bersenang-senang dulu sebelum membunuhnya?" kata yang lainnya memberikan ide.
"Kebetulan aku sudah lama tidak menyalurkannya karena istriku datang bulan. Gadis ini lumayan," timpal yang lain.
Juwita merinding hebat ketika mendengar apa yang mereka rencanakan. Tapi juga mengepal erat setelah tahu siapa dalang dibalik semua ini. Sekarang, apa dia akan diperkosa bergilir oleh sekumpulan penjahat? Juwita tertawa sendirian memikirkan nasibnya yang menyedihkan. Kenapa takdir selalu mempermainkannya. Kenapa tidak ada hal baik yang terjadi padanya?
Orangtuanya mati. Diangkat jadi anak hanya agar pembunuh itu bebas dari penjara. Ditinggal Sadewa, lalu masih harus diperkosa sebelum dibunuh. Kalau dipikir-pikir, kenapa lucu sekali. Jika tahu akhirnya seperti ini, bukankah lebih baik Juwita tidak menolak saat suaminya mengajaknya berhubungan badan waktu itu?
Suami ya?
Mungkin, satu-satunya hal baik untuk Juwita adalah menikah dengan Jeffsa dan hidup ditengah-tengah manusia berhati baik saat dia menjadi istri dari seorang Jeffsa.
"Jeff, maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu malu. Daripada aku harus melihat mereka melakukan hal keji itu padaku, lebih baik aku mati saja. Setidaknya, jika mereka ingin berpesta mereka berpesta dengan seorang mayat," batin Juwita.
Juwita menutup matanya rapat-rapat, siap mengakhiri hidupnya sendiri meskipun sebenarnya tidak siap. Tapi panggilan atas namanya itu membatalkan niatnya.
...***...
__ADS_1