Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 27 Aku Mencintaimu, Jeff!


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Jeff yang semalaman berbaring di ranjang akhirnya bangun sebelum ada yang masuk. Sebenarnya Jeff ingin berlama-lama seperti ini, tapi apa yang orang katakan seandainya melihat Jeff yang tidur di ranjang karena Juwita yang tidak ingin ditinggal?


Jeff baru saja membuka selimutnya, sangat pelan dan hati-hati tapi Juwi bereaksi cepat dengan memeluk suaminya. "Jangan pergi!" katanya tanpa membuka mata.


"Aku tidak akan pergi. Tapi biarkan aku turun ya?" kata Jeffsa dengan membelai kepala Juwi.


Juwi enggan berkomentar. Tapi Jeff tahu Juwita tidak mengijinkannya pergi karena pelukan dari tangan itu semakin kuat. Jeff akhirnya mengalah, melihat mata Juwi yang bengkak dan dahi yang di perban sebelum mencium pipinya dan kembali berbaring untuk memeluknya. "Wi, apa kau suka begini?" tanya Jeffsa.


"Eum," jawab Juwi.


"Wi, buka matamu!" pinta Jeffsa.


"Aku masih ingin tidur," jawab Juwi.


Jeff tersenyum tipis. Jeff tahu Juwita berbohong. Sekarang ini, disaat tangan Juwita yang lain memeluk Jeffsa, tangan yang satunya lagi Juwita gunakan untuk memegangi pakaian rumah sakit yang dia kenakan. Juwita selalu seperti ini sejak semalam karena takut seseorang merobek bajunya lagi.


"Wi, aku sudah disini jadi jangan takut. Aku tidak akan membiarkan orang jahat itu menyakitimu. Jadi lepaskan tanganmu dan berikan padaku. Kalau kau ingin memegang, pegang saja tanganku," hibur Jeffsa.


Jeff mengambil tangan istrinya. Menggenggamnya erat dengan tangannya yang besar dan hangat. "Bukankah seperti ini lebih nyaman?" tanya Jeffsa.


Juwita hanya mengangguk, lalu menyembunyikan wajahnya di pelukan Jeffsa. Di dalam pelukan hangat dan nyaman itu akhirnya Juwita membuka matanya. "Apa mereka sudah sadar?" tanya Juwita.


"Sudah, mereka sedang beristirahat sekarang. Aku akan mengantarmu melihat mereka nanti," jawab Jeffsa.


Juwita kembali menutup matanya. Dalam diamnya itu, Juwita berpikir keras. Kenapa dia selalu melihat orang-orang yang ada untuknya terluka. Kenapa orang baik itu selalu mati dan hampir mati? Bagaimana kalau dimasa depan masih seperti ini. Bagaimana kalau lain kali Jeffsa yang terkapar seperti itu?


Juwita menghapus air matanya yang hampir tumpah. Lalu memeluk Jeff lebih erat dan mencium harum suaminya yang belakangan sering dia rindukan. "Apa aku sudah jatuh cinta dengan pria ini. Kenapa tiba-tiba aku takut kehilangan dia. Lalu, saat dia mengatakan tidak ingin bercerai waktu itu, apa dia bicara sungguhan?" batin Juwita.


"Wi, kau kenapa. Apa kau menangis?" tanya Jeffsa sembari mengintip Juwita yang sedang menghapus air mata yang keluar dari mata lebamnya.


"Apa aku membebanimu, Jeff?" tanya Juwi.


"Wi, kau tidak menindih tubuhku. Jadi bagaimana bisa kau membebaniku," jawab Jeff dengan candaan.


"Jeffsa, aku serius!" lanjut Juwi.


"Tidak!" jawab Jeff tanpa berpikir.


Semenjak menikah, Juwi adalah tanggungjawabnya. Entah hal baik atau buruk yang akan menimpa mereka Jeff sudah tahu konsekuensinya dan Jeff siap. Jadi bagaimana mungkin Jeff menganggap Juwita sebagai beban? Tidak ada beban dalam kamus kisah cinta yang tulus dan sejati kan?

__ADS_1


Lagipula Jeff yakin ujian kecil ini hanya permulaan. Karena ujian yang sebenarnya seharusnya akan datang saat Juwita tahu siapa dirinya dan keluarganya menemukan Jeff. Jeff bisa menjamin dia akan tetap setia, tapi bagaimana dengan Juwita. Dibawah teror orangtua dan neneknya yang kejam beserta ribuan trik yang mereka gunakan dengan kekuasaannya, apa Juwita masih akan memeluknya seperti ini sementara kejadian semalam saja sudah membuatnya frustasi?


Entahlah, tapi apapun itu Jeff akan terus meyakinkan Juwita bahwa keinginannya untuk tidak bercerai bukanlah sebuah candaan. Suka atau tidak, cinta atau tidak. Jeff akan untuk tetap membuat Juwita tinggal disisinya apapun yang terjadi.


"Jeff?" panggil Juwita.


"Hm?" sahut Jeff.


"Kalau aku memintamu untuk tetap bersamaku. Apa kau akan menolak?" tanya Juwita.


"Apa kau ingin terus bersamaku, Wi?" tanya Jeffsa.


"Eum," jawab Juwi.


"Kenapa, apa karena kau takut diganggu penjahat?" tanya Jeffsa.


Juwita kembali membenamkan wajahnya. Lalu menjawab pertanyaan Jeffsa tanpa berani melihat mata suaminya. "Ya, aku takut. Tapi kurasa aku lebih takut kalau aku kehilanganmu," jawab Juwi.


"Kenapa?" tanya Jeff. Pria itu mencoba stay cool and calm meskipun sebenarnya hatinya ingin bersorak.


"Karena sepertinya aku menyukaimu," jawab Juwi.


"Lihat aku, Wi!" kata Jeffsa dan kembali mengintip Juwita yang sembunyi nyaris di keteknya.


"Hanya menyukaiku saja, atau mencintaiku?" tanya Jeffsa setelah berhasil mendapatkan tatapan Juwita.


Mendengar pertanyaan itu rupanya kembali membuat wajah Juwi memerah. "Kalau aku bilang aku mencintaimu, apa boleh?" tanya Juwita.


"Tentu saja boleh karena aku juga mencintaimu, Wi!" jawab Jeffsa yang membuat wajah Juwi semakin merah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Juwita ketika tangan Jeff sudah menyentuh dagunya.


"Mengambil DP darimu," jawab Jeffsa.


Jeff tidak menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Karena sekarang sebuah ciuman yang hangat sudah mendarat di bibir Juwita lengkap dengan tangannya yang berani menyusuri beberapa bagian milik Juwita dengan lembut.


"J-Jeffsa?" panggil Juwi ketika Jeff melepaskan ciumannya.


"Aku tahu. Kita lanjutkan nanti setelah kau sehat," ucap Jeffsa

__ADS_1


"Bukan itu maksudku," kata Juwi.


"Oh, apa Juwi mau sekarang?" tanya Jeffsa sebelum cubitan mendarat di perutnya.


"Bukan itu juga," jawab Juwita.


"Lalu?" tanya Jeffsa.


"Jangan menciumiku lagi. Aku ingin cuci muka kemudian pergi melihat mereka," jawab Juwita.


Tapi Jeff tidak mengindahkan larangan itu karena larangan dari Juwita terkadang adalah sesuatu yang harus Jeff langgar.


.


.


.


"Mel, kau pulang saja!" kata Sadewa pada Melodi.


Melodi sedang hamil muda. Tentu saja Sadewa tidak akan membiarkan Melodi terlalu lelah demi keamanan janin yang dikandungnya


"Kalau aku pulang siapa yang akan menjagamu disini?" tanya Melodi.


Meskipun Melodi tidak suka Juwita, tapi perasannya untuk Sadewa tidak perlu diragukan lagi. Karena sebenarnya Melodi sudah lama menyukai Sadewa dan untuk menjadi istri Sadewa pun banyak yang harus dia perjuangkan. Termasuk mengambil kesempatan dengan menyerahkan dirinya untuk ditiduri Sadewa yang sedang mabuk berat.


"Bukankah sudah ada aku. Lebih baik kau istirahat baik-baik di rumah. Jangan sampai terjadi apa-apa pada calon keponakanku karena merawat kakak ipar sialan ini!" sahut Jeffsa yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Keponakan?" tanya Melodi.


"Apa istrimu amnesia. Bukannya dia hamil anakmu sekarang?" tanya Jeffsa sembari duduk di dekat ranjang milik Sadewa.


Sadewa memukul pelan kepala Jeffsa. Lalu menjelaskan maksud Jeffsa sekali lagi sebelum meyakinkan Melodi untuk pulang. Maklum, Melodi tidak pernah sekalipun bertemu dengan Jeffsa dan tidak tahu berandalan inilah suami dari Juwita.


"Mel, dia suami Juwita. Namanya Jeffsa," jelas Sadewa.


Melodi tidak peduli apapun tentang Juwita sebelumnya. Dia juga tidak peduli Juwita menikah dengan siapa. Tapi karena Melodi sudah bertemu dengan Jeff sekarang, maka tidak perlu sungkan lagi untuk mengingatkan Jeff untuk menjaga Juwita baik-baik. Karena ketakutan terbesar Melodi adalah kehilangan Sadewa.


"Jadi kau suaminya? Jeffsa, lain kali perhatikan istrimu itu baik-baik. Karena jika hal seperti ini terulang lagi aku tidak akan memaafkannya," kata Melodi kemudian pergi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2