
"Apa benar aku pernah tinggal disini?" gumam Jeffrey.
Jeff sudah berdiri di depan rumah kecilnya yang terbengkalai. Rumah kecil yang hangus terbakar setelah dirusak oleh sekelompok orang bayaran orangtuanya sendiri. Beberapa tumbuhan liar tumbuh subur menjulang tinggi. Membuat Jeff harus menyibak dan mencari celah hanya untuk menjangkau pintu utamanya. Sebelum masuk, Jeff memicingkan matanya untuk melihat sekeliling. Melihat rumah-rumah lain yang juga terbengkalai sama seperti rumah ini.
"Aku memiliki semuanya. Tapi kenapa aku memilih tinggal ditempat seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi sampai aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Apa yang dikatakan Juwita itu benar?" gumam Jeffrey.
Jeff memeriksa satu persatu bagian dari rumah mini yang menjadi saksi bagaimana hangatnya pernikahannya dengan Juwita. Berharap menemukan sebuah foto atau benda apapun yang bisa merangsang memori ingatannya yang hilang. Tapi jangankan mengingat sesuatu, Jeff bahkan tidak menemukan apapun karena tidak ada yang tersisa selain sofa dan beberapa furnitur rusak.
Cukup lama Jeff menghabiskan waktunya di tempat ini, tapi Jeff tidak mendapatkan apapun selain suara wanita yang mengatakan 'Jeffsa, aku mencintaimu'.
Soal siapa yang mengatakannya Jeff tidak tahu pasti, tapi Jeff memiliki keyakinan bahwa suara itu samar-samar memiliki kemiripan dengan suara Juwita yang saat ini dia tahan dirumahnya. Alasan mengapa membuat Jeff semakin yakin adalah tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Jeffsa selain Juwita.
"Cepatlah mengingat sesuatu, Jeff!" gumam Jeffrey sembari memijit keningnya.
Jeff larut dalam pikirannya. Merangkai satu demi satu berbagai kemungkinan yang terjadi. Sampai Jeff sampai pada sebuah kesimpulan bahwa demua yang dikatakan Juwita sangat masuk akal. Tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tapi Jeff ingin bukti konkrit. Bukan sesuatu yang dikatakan dari mulut ke mulut karena lidah itu tidak bertulang.
Otak Jeff serasa buntu sekarang. Lebih buntu lagi tatkala mengingat Juwita mengatakan mereka punya satu anak bernama Jouvis. Juwita juga sudah memohon untuk mencari anak mereka kemarin. Tapi tanpa mengingat wajah Jouvis bagaimana Jeff bisa mencarinya sementara tidak ada satupun foto yang mereka punya.
"Baiklah, aku akan membicarakannya lagi nanti. Karena Juwita ingat bagaimana wajah Jouvis, seharusnya aku bisa mengundang seorang ahli untuk membuat sketsa wajahnya. Setelah itu aku akan mencarinya lalu melakukan tes DNA," batin Jeffrey.
Setelah memutuskan itu, Jeff akhirnya bangkit untuk bergegas ke kantor. Hanya memeriksa beberapa hal penting lalu segera kembali ke rumah. Ya, itu adalah rencana Jeffrey. Tapi Jeff sepertinya harus tinggal lebih lama karena ada kunjungan dari orang yang selalu menekannya satu tahun terakhir ini.
"Kemana saja kau semalam, Jeffrey?" tanya Mama Eliza.
Wanita itu sudah menunggu Jeff di dalam. Memasang wajah tak ramah dan melipat kedua tangannya di depan. Disampingnya juga ada Yasmine yang memasang wajah memelas seperti biasanya.
"Tidak kemana-mana. Aku hanya tidur dirumah," jawab Jeff singkat. Jeff langsung duduk di singgasananya. Siap mengerjakan apa yang harus dia kerjakan dan pulang secepatnya untuk menemui Juwita.
__ADS_1
"Bisakah kalian pergi. Kalian mengganggu konsentrasi ku," kata Jeff lagi.
Mendengar itu membuat emosi Eliza meledak. Dia sudah bersabar satu tahun ini. Melakukan segala cara agar Jeff bertindak sesuai dengan keinginannya. Patuh dibawah kendalinya dan tidak terus-terusan membangkang. Tapi nyatanya Jeff semakin diluar kendali. Sama sekali tidak terkontrol dan selalu melanggar semua batasan yang dia berikan.
Tidak hanya menolak menikahi Yasmine seperti yang mereka rencanakan. Tapi Jeff juga berani merebut Rayyan dan Kakek Firman. Kemudian memberikan penjagaan yang ketat dan melarang siapapun bertemu dengan mereka tanpa ijin langsung dari Jeffrey. Jeff juga semakin tidak memberikan orangtuanya muka dan puncaknya adalah di acara ulang tahun Nenek Mariam semalam. Tidak dapat dijelaskan bagaimana malunya Eliza dan suaminya ketika sekumpulan wartawan mewawancarai mereka dan menagih kabar baik yang jauh-jauh hari sudah mereka sebarkan.
Sebelumnya, Mama Eliza sudah mengatur sebuah rencana agar Jeff setidaknya bertukar cincin dengan Yasmine semalam. Itulah kabar baik yang rencananya akan mereka ekspose. Tapi jangankan bertukar cincin, Jeff bahkan tidak hadir tanpa memberikan sebuah konfirmasi.
"Jeffrey, kalau kau masih saja seperti ini mama dan papa tidak akan segan lagi untuk mengambil kembali apa yang kau miliki sekarang ini," ancam Mama Eliza.
"Mama mau aku melakukan apa?" tanya Jeffrey. Pria itu meletakkan alat tulisnya. Melihat mamanya dengan tatapan sinis tanpa rasa takut.
"Nikahi Yasmine secepatnya dan hidup normal layaknya keluarga," jawab Mama Eliza.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tanya Jeffrey.
Jangankan takut, Jeff malah tersenyum. Mana mungkin Jeff takut dengan ancaman seperti itu. Merebut kembali posisinya? Mimpi saja sana. Karena saat ini pemilik saham terbesar adalah Jeffrey. Bukan lagi mama, papa nenek ataupun kakeknya. Karena sekarang, Kakek Firman yang memegang saham terbesar harus berpuas diri di urutan kedua. Sayangnya beliau masih koma sampai hari ini, jika tidak dia pasti sudah marah besar dan tidak ragu untuk melawan istri, anak dan menantunya sendiri.
Satu tahun ini Jeff tidak hanya bersenang-senang. Dia berusaha sangat keras untuk mengamankan posisinya. Tujuannya tentu saja untuk menghindari hal-hal yang tidak dia inginkan seperti hari ini. Karena Jeff tidak suka diperintah dan Jeff tidak suka orang lain mengatur hidupnya. Seorang Jeffrey, dia itu bebas. Melakukan apa yang ingin dia lakukan dan mengabaikan apapun yang tidak dia perlukan.
"Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi, Ma!" jawab Jeffrey dengan senyum tipis.
Tentu saja senyum Jeff itu membuat Eliza sedikit was-was. Lebih was-was lagi saat Jeff menyerahkan sebuah map dan meletakkannya di meja.
"Baca itu baik-baik, Ma!" kata Jeff lagi.
Eliza membuka map itu dengan was-was. Membaca isinya dengan teliti dengan ekspresi yang membuat Yasmine penasaran.
__ADS_1
"Ini mana mungkin?" tanya Eliza.
Tangan wanita itu bergetar setelah membaca keseluruhan isinya. Sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa Kakek Firman sudah membagi seluruh hartanya. Sama seperti yang lain, Jeff mendapatkan harta dengan total yang sama dengan cucu-cucu Kakek Firman yang lain. Tapi disana tertulis bahwa Kakek Firman menunjuk Jeffrey yang menjabat sebagai CEO seandainya terjadi sesuatu padanya.
"Masih ada ini juga," jawab Jeff santai.
Jeff memberikan berkas yang lain. Beberapa bukti pengalihan saham dari beberapa pemilik saham sebelumnya yang dialihkan kepada Jeffsa karena mereka menjual sahamnya dan Jeff membelinya secara diam-diam. Dengan begini, sudah dipastikan Mama Eliza dan Papa Abian ataupun Nenek Mariam tidak memiliki hak untuk menggeser posisi Jeffrey.
"Ini ... ini bagaimana mungkin?" tanya Eliza.
Wanita itu nyaris tumbang. Tidak menyangka akan ada hal semacam ini. Kenapa mertuanya mempercayakan pengelolaan perusahaan itu pada Jeffrey bukan pada suaminya. Rasanya sedikit tidak terima. Karena jika sudah begini dipastikan mereka tidak akan pernah bisa mendikte Jeffrey lagi.
"Ini pasti salah, Jeff!" teriak Eliza histeris.
"Sudahlah, Ma. Tidak akan ada yang berubah. Semuanya akan tetap seperti ini asalkan mama tidak mengusikku. Jadi jangan memaksaku untuk menikah dengan wanita pilihanmu," kata Jeffrey memperingatkan.
Jeff bangkit lagi. Meringkas surat-surat penting itu dan membawanya pergi. Mengabaikan Yasmine yang marah tapi tidak bisa melakukan apa-apa seperti biasanya. Jeff bahkan tidak melihat mamanya kembali meskipun Eliza memulai aktingnya dengan berpura-pura pingsan.
"Jeff, mama pingsan! Cepat bawa mama ke rumah sakit!" teriak Yasmine melengkapi akting Eliza.
Jeff yang terlanjur muak tidak berencana membawanya ke rumah sakit. Jujur saja awalnya dia tidak ingin membuka rahasia itu sekarang. Tidak ingin mengungkapkan bahwa dia sudah memiliki saham terbesar. Tapi mamanya benar-benar kelewatan dan Jeff sudah tidak tahan dengan sikapnya.
"Ingin menipuku dengan akting murahan seperti ini. Apa kau pikir Jeff percaya, Ma?" batin Jeffrey.
"Bawa mamaku kerumah sakit. Meskipun aku tidak menyukainya, tapi bukan berarti aku ingin dia cepat mati," kata Jeff kepada Robin. Orang kepercayaannya yang selalu menunggu perintahnya dan melakukan tugasnya dengan sempurna.
...***...
__ADS_1