Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 56 Ditolak


__ADS_3

"Sarapan apa?" tanya Jeffsa.


"Ada roti ada nasi juga," jawab Juwita.


Jawaban Juwita yang jauh dari bayangan Jeff membuat Jeff lemas seketika. Padahal, Jeff sangat berharap dia akan diberi sarapan berupa susu yang langsung diminum dari sumbernya tadi.


"Aku mau memakanmu saja boleh kan, Wi?" tanya Jeffsa.


"Tidak boleh!" tolak Juwita.


Jeff tahu jawabannya akan seperti ini. Tapi ya sudah, tidak diijinkan memakan Juwita tapi dia kan masih bisa melakukan yang lainnya. Sekarang Jeff sudah memeluk Juwita dan anaknya bersamaan sekarang. Mendekap mereka sangat erat seolah tak ingin melepaskan keduanya. Jeff tidak tahu kenapa tapi hari ini dia ingin terus-terusan memeluk mereka seperti ini.


"Papi Jeffsa, kau kenapa. Kenapa hari ini aneh. Kau tidak akan mati kan, Jeff?" tanya Juwita ketika melihat ada yang salah dengan suaminya.


"Sayang, apa sih yang kau katakan. Aku hanya terlalu mencintai kalian," kata Jeffsa sembari menyambar bibir Juwita sebagai hidangan pembuka.


Jeff berharap Juwita akan memberikannya hidangan utama. Tapi Juwita menolak dengan halus permintaan Jeff sekali lagi. "Apa kau tidak lihat anakmu masih bangun?" tanya Juwita.


"Biar saja dia melihatnya. Dia kan masih kecil, dia tidak akan ingat pernah melihat ayah dan ibunya membuat adik untuknya kan, Wi?" jawab Jeffsa.


Juwita tersenyum, lalu berinisiatif mencium Jeff sangat lama. Tapi bukan untuk memberikan sajian utama. Dia hanya ingin memberikan bonus agar Jeff bersabar hingga malam nanti. "Malam saja," kata Juwita sembari menyerahkan Jouvis kepada Jeffsa.


"Mau kemana?" tanya Jeff dengan wajah cemberut. Baru dua menit yang lalu dia ditawari sarapan, tapi sekarang sudah disuruh jaga anak.


"Kamar mandi," jawab Juwita.


Jeff hanya geleng-geleng kepala. Tapi karena sudah lapar, dia pun berinisiatif mengambil sarapan sembari momong anak seperti yang selalu Juwita lakukan.


"Jouvis mau makan?" tanya Jeff saat Jouvis terus melihatnya.


Tentu saja bayi itu tidak menjawab selain mengeluarkan suara-suara khas bayi. Dan ekspresi lucu Jouvis membuat Jeff semakin tertarik untuk menggoda dengan menyodorkan makanan tepat ke mulut Jouvis. Jangankan membuka mulut, bayi itu malah menyingkirkan sendok ayahnya sehingga berakhir dengan drama sendok jatuh. Seolah tahu makanan mana yang boleh masuk ke mulutnya. Apapun yang diberikan papi, Jouvis harus curiga karena papi tidak se-waspada mami.


"Oh, Jouvis hanya mau minum susunya mami?" tanya Jeff lagi.

__ADS_1


Jouvis kecil langsung tertawa dengan menggerakkan kaki dan tangannya. Sontak saja itu membuat Jeff memakan pipi anaknya karena tidak kuat dengan keimutan itu. Setelah itu, Jeff meletakkan Jouvis di ayunan bayi. Lalu segera sarapan sebelum nasinya jadi bubur. Tapi Jouvis sepertinya tidak ingin ayahnya sarapan secepat itu karena dia sudah menangis.


Jeff meninggalkan sarapannya, menenangkan Jouvis agar tidak menangis lagi atau maminya akan memarahinya dari kamar mandi. Biasanya, anak itu akan berhenti menangis saat Jeff menggendongnya, tapi kali ini berbeda. Anak itu tidak hanya tidak berhenti menangis, tapi juga mulai mengeluarkan bau aneh.


"Sayang, kau pub kan?" tanya Jeffsa sembari mengintip popok Jouvis.


Jeff lagi-lagi menggigit pipi Jouvis. Belum juga sarapan, tapi Jouvis sudah buang hajat tepat saat Jeff akan makan. Meskipun begitu, Jeff segera mengganti popok Jouvis. Tapi menunda memakaikan popok yang baru karena tertarik dengan burungnya yang mini. Jeff menyentuhnya sejenak dan Jouvis menanggapinya dengan tawa yang lucu. Mungkin, Jeff sedang apes hari ini. Anaknya pub saat dia akan makan, dan sekarang Jeff tidak bisa menghindar dari semburan hangat yang berasal dari burung mini milik Jouvis.


"Hey, Boy! Pintar sekali kau, Nak! Beraninya mengencingi ayahmu sendiri sih?" keluh Jeffsa dengan menyeka wajahnya.


Sontak saja adegan itu membuat Juwita yang baru saja keluar dari kamar mandi tertawa. Jeff hanya melirik lalu segera memakaikan popok Jouvis sebelum dia dikencingi untuk yang kedua kali.


"Wi, apa ini yang kau ajarkan padanya selagi aku tidak di rumah?" protes Jeffsa.


"Apa sih yang aku katakan, Jeffsa? Mana mungkin aku mengajari anak kita tidak sopan pada ayahnya?" kilah Juwita.


Juwita segera mengelap wajah Jeff dengan handuk basah. Lalu membereskan popok kotor itu dan menyuapi Jeffsa sebelum bayi besarnya itu marah.


Jeff sudah menunggu hari ini sejak lama. Menunggu anaknya besar sedikit dan Juwita sudah sehat agar dia bisa tenang saat membawanya pulang. Jujur saja Jeff masih takut membawa Juwita pulang, tapi bagaimanapun juga dia perlu memberitahu orangtuanya bahwa dirinya sudah menjadi suami dan mereka sudah punya cucu. Selain itu, sebagai seorang perempuan bukankah Juwita akan lebih senang jika dia dikenalkan kepada mertuanya?


"Pulang ke rumahmu?" tanya Juwita.


"Bukan rumahku. Tapi rumah mertuamu," jawab Jeffsa. Jeff memeluk Juwita lagi. Menciumnya lagi dan lagi seolah tidak akan ada lagi hari esok.


"Terserah kau saja," jawab Juwita.


Meskipun dia sendiri tidak berani. Tapi kalau Jeff sudah mengatakan pulang ya ikut saja. Karena jika Jeff sudah meminta, pasti Jeff sudah memikirkannya masak-masak.


Jeff tersenyum mendengar jawaban Juwita. Dia tahu sebenarnya Juwita takut tapi tidak berani menolak karena terlalu percaya padanya. Dan untuk menyingkirkan ketakutan itu, Jeff tidak hanya pulang sendirian. Tapi juga meminta Kakek Firman mengantarnya pulang.


"Kita akan menemui mereka diantar Kakek Firman. Jadi jangan takut!" bisik Jeffsa.


.

__ADS_1


.


.


Dan disinilah Jeff sekarang, berdiri di depan pintu rumah orangtuanya sendiri dengan tatapan sendu. Jeff menggenggam erat tangan Juwita dengan tangan kanannya, lalu di tangan kirinya menopang Jouvis yang tertidur lelap di pelukannya.


Jeff bukannya tidak ingin masuk. Tapi kedatangannya ditolak orangtuanya sendiri. Sementara saat ini, Kakek Firman yang datang bersama mereka langsung masuk ke dalam. Menemui istrinya yang memutuskan untuk tinggal dengan anak dan menantunya sejak Jeff pergi. Tujuannya adalah membantu Jeffsa dan memberitahukan semuanya.


"Jeff, kau tidak apa-apa?" tanya Juwita saat melihat Jeff diam saja.


Jeff menoleh, menarik istrinya ke pelukannya dan mencium keningnya. Tentu saja Jeff tidak baik-baik saja. Tapi di hadapan istri dan anak yang dicintainya, tidak mungkin Jeff mengakui itu kan?


"Aku baik-baik saja. Aku hanya teringat masa kecilku," jawab Jeffsa.


Jeff merapikan rambut Juwita yang tertiup angin. Lalu memandangnya dengan penuh cinta seperti biasanya sampai membuat Juwita malu. "Jeff?" tanya Juwita.


"Sayang, maaf! Sepertinya aku gagal membawamu melihat mereka," kata Jeffsa.


"Tidak apa-apa. Setidaknya kau sudah beritikad baik bukankah itu sudah cukup?" kata Juwita.


"Karena aku tidak diterima di rumah orangtuaku sendiri, selanjutnya kita hidup dengan keluarga kecil kita seperti biasanya saja. Kau tidak keberatan hanya hidup denganku dan anak kita selamanya, kan?" tanya Jeffsa.


"Aku tidak keberatan. Hanya denganmu dan anak-anak kita, bukankah itu sudah cukup?" jawab Juwita dengan memeluk Jeff dan memegangi tangan Jouvis.


"Anak-anak?" tanya Jeffsa.


"Bukannya kau mau lebih banyak anak?" jawab Juwita.


"Apa kau mau memberikannya?" tanya Jeffsa.


"Tentu saja mau," jawab Juwita.


...***...

__ADS_1


__ADS_2