
"Apa anak itu sudah menganggap aku ini sudah mati?" tanya Nenek Mariam.
Wanita tua itu semakin geram dengan kelakuan Jeff yang semakin liar. Setelah mangkir di acara ulang tahun tempo hari, jangankan datang untuk minta maaf. Jeff bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
Eliza yang duduk bersama mertuanya tidak tahu harus menjawab apa. Sama seperti Mariam, Eliza juga sangat jengkel dengan tingkah Jeffrey. Terlebih saat Jeff terang-terangan menunjukkan beberapa bukti bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengaturnya sekarang.
"Tunggu, Yasmine sempat mengatakan bahwa Jeff menerima asisten baru bernama Juwita. Apa itu Juwita yang asli. Apa Jeff semakin tidak terkendali karena wanita itu?" batin Mama Eliza. Eliza sepertinya terlalu larut dalam lamunannya sampai melupakan keberadaan mertuanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nenek Mariam penasaran.
"Ma, setahun yang lalu saat orang-orang kita membuang Juwita, apa Juwita sudah mati?" tanya Eliza.
Sontak saja pertanyaan itu sedikit mengganggu pikiran Nenek Mariam. Sejujurnya dia sendiri tidak tahu apa Juwita mati waktu itu. Karena dia hanya meminta orangnya untuk merusak wajah dan membuangnya di hutan. Berharap Juwita yang sekarat dimakan binatang buas.
"Kenapa kau tanya ini?" tanya Nenek Mariam.
"Karena asisten Jeff yang baru memiliki nama Juwita. Bagaimana kalau itu Juwita yang sama?" jawab Eliza. Dua wanita itu mulai panik. Sial, seandainya tahu begini harusnya mereka membunuh Juwita sebelum membuangnya waktu itu.
"Ayo, kita menemui Jeff sekarang juga. Aku juga ingin melihat seperti apa Juwita itu!" kata Nenek Mariam.
.
.
.
"Kau yang namanya Juwita?" tanya Eliza ketika masuk ke ruangan Juwita bersama Nenek Mariam tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
Juwita yang sibuk dengan pekerjaan langsung mengangkat wajahnya. Lalu melihat wanita yang seharusnya dia panggil dengan sebutan mama itu dengan tatapan menyelidik. Juwita tidak merasa kenal dengan wanita ini, tapi senyum tipis Juwita muncul sesaat kemudian. Karena dua wanita tua yang bisa seenaknya masuk ke perusahaan dan bersikap kasar seperti ini siapa lagi kalau bukan mamanya Jeffrey.
"Kau benar sekali, Nyona Besar!" sahut Juwita dengan senyum sinis. Dia bahkan tidak memiliki niat untuk berdiri dan menyambut kedua tamunya.
Jawaban dan sikap pemberani Juwita yang seperti ini sama sekali bukan yang mereka harapkan. Satu tahun yang lalu setelah mereka membuang Juwita, mereka mencari informasi tentang Juwita. Juwita istri Jeff tidak memiliki keberanian seperti ini. Lantas, mungkinkah Juwita ini palsu. Wajahnya rusak waktu itu. Bahkan meksipun ada yang menolongnya siapa juga yang mau membiayai pengobatannya sampai kembali normal.
"Kau bukan Juwita!" kata Nenek Mariam. Wanita tua itu akhirnya bereaksi. Mendekati Juwita dan melihatnya dengan bola mata yang nyaris keluar saking bencinya.
"Ambil uang ini dan pergi sekarang juga!" usir Nenek Mariam dengan melemparkan beberapa gepok uang dan selembar cek yang nominalnya tidak ingin Juwita lihat.
"Aku tidak mau!" tolak Juwita dengan santai.
Tentu saja jawaban itu membuat Eliza naik darah. Sama seperti yang dilakukan Nenek Mariam, dia pun juga mengambil beberapa gepok uang dan melemparkannya ke wajah Juwita. "Bagaimana dengan ini?" tanya Eliza jengkel.
"Suamiku memiliki uang dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari ini. Jadi kenapa aku harus meninggalkannya demi uang yang jumlahnya tidak seberapa ini?" tanya Juwita.
Juwita mengambil semua uang beserta selembar cek yang mereka lempar dan merapikannya. Lalu secara tidak terduga kembali melemparkannya ke wajah Eliza dan Mariam. "Ambil uang kalian. Aku tidak membutuhkannya!"
"Dasar wanita rendahan!" umpat Eliza.
Tangannya sudah melayang di udara. Tentu saja niatnya untuk memberikan beberapa tamparan untuk Juwita. Entah Juwita yang ini asli atau palsu Eliza sudah tidak peduli lagi karena selamanya hanya Yasmine yang akan mereka berikan restu untuk hidup bersama Jeffrey. Sayangnya tamparan itu tidak mengenai targetnya karena Juwita dengan sigap bangkit dan menangkapnya.
"Nyonya, jangan lakukan ini. Karena kalau sampai wajahku rusak lagi, akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk memulihkannya!" kata Juwita dengan mendorong Eliza hingga terdorong kebelakang.
"K-kau benar-benar Juwita?" tanya Nenek Mariam.
"Iya, Nyonya Tua. Aku ini Juwita yang asli. Satu-satunya istri Jeff dan memberikannya satu anak. Aku adalah Juwita, wanita yang kalian rusak wajahnya lalu kalian buang layaknya sampah," jawab Juwita.
__ADS_1
Jawaban itu membuat Nenek Mariam sempoyongan. Sebelum akhirnya terduduk di sofa yang ada di belakangnya. Untung saja Eliza segera berdiri dan menangkapnya. Karena kalau tidak, bisa-bisa Nenek Mariam jatuh lebih keras.
"Nenek, kenapa kau gemetaran. Kau tidak berencana mati secepat ini kan?" tanya Juwita.
Mariam dan Eliza tidak tahu kapan Juwita mendekat. Tapi Juwita sudah berdiri di depan mereka dan membuat mereka sedikit takut.
"Juwita kau berani bersikap seperti ini dengan kami. Apa kau tidak takut aku memberitahu Jeff. Kalau sampai dia tahu kau tahu apa yang akan terjadi padamu kan?" ancam Eliza.
"Oh, apa itu sebuah ancaman untukku? Nyonya Besar, apa kau yakin Jeff akan berada di pihak kalian? Kalau kalian berpikir demikian maka aku akan memberitahu ini. Jeffsa akan ada di pihak ku apapun yang terjadi," kata Juwita.
"Itu tidak mungkin. Aku ini ibunya dan kau hanyalah wanita rendahan yang bernasib baik bisa menikah dengan anakku. Baiklah, jika itu dulu Jeff pasti membelamu. Tapi Jeff tidak mengingat apapun. Bagaimana bisa dia membelamu?" tanya Eliza.
Wanita itu merasa menang. Tanpa tahu Juwita lah pemenang yang sebenarnya.
"Beberapa hari yang lalu Jeff tidak hadir di acara tidak penting itu kan? Apa kalian tahu apa alasannya?" tanya Juwita.
Wajah Eliza merah padam. Sementara Nenek Mariam semakin gemetaran saking marahnya. "Apa itu karena ulahmu?" tanya Eliza.
"Benar, itu ulahku. Jadi apa kalian masih berpikir Jeff ada di pihak kalian?" jawab Juwita.
"Kau benar-benar wanita murahan. Lihat saja bagaimana aku akan membunuhmu nanti!" teriak Eliza.
"Aku akan dengan senang hati menantikannya, Nyonya!" kata Juwita kemudian pergi begitu saja.
Adegan itu sebenarnya Jeff melihatnya. Sebuah CCTV khusus dan tersembunyi yang tidak Juwita ketahui. Tidak hanya bisa melihat, tapi Jeff juga bisa mendengar apa yang mereka katakan. Tapi Jeff tidak berencana untuk melerai. Malahan dia sangat menikmati perseteruan diantara mereka dan ingin tahu sejauh mana mereka berseteru.
"Dia sangat konsisten," puji Jeff ketika mendengar apa yang Juwita katakan selalu sama meskipun berbicara dengan orang yang berbeda.
__ADS_1
Jeff tersenyum tipis. Bukan hanya karena melihat Juwita yang berani melawan ibunya. Tapi karena Jeff mulai percaya bahwa Juwita ini memanglah istrinya.
...***...