
Satu tahun telah berlalu. Juwita memandangi gedung super mewah nan tinggi milik keluarga Zane itu dari halaman depan bersama Kakek Ham. Juwita yang wajahnya di rusak dan tulang-belulangnya patah sudah kembali normal. Kakinya sudah bisa berjalan sempurna dan wajahnya sudah dipulihkan pasca operasi.
Juwita menarik nafasnya dalam-dalam. Mengingat bagaimana tersiksanya terpisah dengan Jouvis dan Jeffsa selama satu tahun terakhir. Selama itu Juwita menghabiskan waktu dengan memulihkan kondisinya. Selama itu pula kerinduan selalu menggerogoti setiap bagian dari dirinya. Wanita mana yang tidak merindukan suami dan anaknya? Tidak ada bukan?
Setelah penantian itu. Juwita lega sudah berada disini sekarang. Berharap bisa segera melihat Jeff dan Jouvis secepatnya. Lalu pelan-pelan mendekati Jeff untuk membuatnya mengerti bahwa Juwita yang asli sudah kembali. Tanpa tahu Jouvis hidup di belahan bumi yang lain bersama Alan dan Caca. Menjalani hidupnya yang biasa di negeri yang asing.
"Kau yakin ingin bekerja disini?" tanya Kakek Ham setelah cukup lama tak bersuara.
Kalimat itu membuat Juwita tersadar dari lamunan singkatnya. "Aku yakin, Kakek!" jawab Juwita dengan senyum tipis.
Juwita sempat mencium tangan Kakek Ham. Lalu bersiap dengan berkas lamaran yang sudah dia siapkan. Sebelum memutuskan kesini, banyak hal yang sudah Juwita lakukan. Mengunjungi rumah masa lalunya bersama Jeff yang dibakar. Mengunjungi rumah teman-teman dan tetangganya yang sepi tak berpenghuni. Bahkan rumah Sadewa dan Anggara sudah berganti pemilik.
Kakek Ham memang berhasil menemukan sebagian besar dari mereka. Kakek Ham juga memberikan semacam bantuan dan berjanji akan melakukan yang terbaik yang dia bisa agar bisa memulangkan mereka secepatnya. Tapi Kakek Ham belum berhasil menemukan orang-orang terdekat Juwita termasuk Anggara dan Sadewa.
Selain itu, Kakek Ham memang sudah bertemu dengan Jeffsa. Tapi pria itu terlalu keras kepala sampai tidak mempercayai siapapun juga termasuk orangtua dan neneknya sendiri. Ngomong-ngomong, Kakek Ham belum pernah melihat Rayyan sampai saat ini. Entah apa alasannya, tapi Jeff melarang siapapun bertemu Rayyan. Dia hanya membiarkan Rayyan diasuh oleh dua orang pelayan paruh baya pilihannya sendiri dan dijaga ketat oleh bodyguard. Jadi sampai detik ini tidak ada satupun dari mereka yang tahu bahwa Jouvis mereka telah tertukar.
"Pergilah!" kata Kakek Ham.
Juwita mengangguk. Lalu dengan percaya diri masuk ke perusahaan dimana Jeff menyandang gelar sebagai Presdir. Satu tahun, hanya membutuhkan waktu satu tahun bagi Jeff untuk menduduki posisi tertinggi itu. Perusahaan yang popularitas dan keberhasilannya meroket fantastis di bawah kendali Jeffsa. Bahkan dia sudah memiliki kepemilikan saham yang lebih besar dari orangtua dan neneknya sehingga membuat mereka bertiga tidak berani melawan seorang Jeffrey.
Jeffrey?
Ya. Mereka memang selalu memanggil Jeff dengan sebutan Jeffrey sejak kecil.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku baru kembali sekarang. Meskipun wajahku sedikit berubah, seharusnya kau masih mengenaliku asalkan tidak amnesia. Tapi tidak masalah. Karena aku sudah datang, aku akan membantumu mengingatnya pelan-pelan agar kita bisa hidup bersama seperti sebelumnya," batin Juwita.
Kedatangan Juwita yang cukup mepet rupanya sukses membuat seluruh pelamar kerja di ruangan itu menoleh. Beberapa diantaranya acuh, beberapa yang lainnya mencemooh dalam hati karena berani datang mepet di hari penting. Dan sebagian lagi berbisik-bisik. Mereka adalah sebagian orang yang melihat Juwita turun dari mobil seharga miliaran rupiah saat di parkiran.
Tidak lama berselang, beberapa orang yang akan mewawancarai para pelamar masuk ke ruangan itu. Satu persatu masuk. Sampai akhirnya tiba giliran Juwita. Juwita belum sempat di wawancara. Sementara orang yang mewawancarainya bahkan belum membuka berkas milik Juwita. Tapi seseorang memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
"Presdir ingin seorang asisten pribadi. Tolong carikan satu saja. Diutamakan yang sudah menikah dan berusia matang. Ingat, dandanannya harus wajar dan tidak suka memakai parfum," kata orang itu tanpa mengambil nafas.
"Aku akan segera memasang iklannya setelah wawancara," jawab si pewawancara.
"Tidak bisa. Presdir ingin sekarang juga!" kata orang itu.
Si pewawancara hanya bisa melongo. Sudah tidak ada lagi yang tersisa selain Juwita. Lagipula seluruh pelamar adalah kawula muda. Setidaknya umur mereka tidak lebih dari 28 tahun sesuai dengan syarat yang mereka tetapkan. Jadi kalau Presdir yang dingin itu minta asisten dengan ketentuan yang seperti itu, bukankah sebaiknya bersabar dulu?
Juwita yang mendengar keributan itu tersenyum tipis. Sepertinya waktu sedang berpihak padanya. Dia sebenarnya akan melamar sebagai karyawan biasa. Tapi siapa sangka ada posisi yang lebih menggiurkan seperti ini.
"Tolong biarkan aku yang mengisi posisi itu," pinta Juwita.
"Apa kau tidak dengar? Presdir ingin yang tua. Kalau kami membawamu bertemu Presdir, kami bisa dipecat tahu?" protes dua orang itu bersamaan.
"Presdir meminta asisten hari ini juga. Apa ada orang lain selain aku? Aku janji, Presdir tidak akan memecat kalian nanti," kata Juwita.
Tepat saat itu, ponsel salah satu dari mereka berdering. Itu adalah panggilan dari ruangan Jeffsa. "Baik, Pak! Kami sudah mendapatkan asisten yang Anda inginkan!" jawab orang itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, orang itupun menarik Juwita bersamanya. Tanpa tahu nama wanita yang dia tarik adalah Juwita. Sebuah nama yang paling dihindari Jeffrey selama setahun terakhir. Alasannya adalah, sudah terlalu banyak wanita yang mengaku sebagai Juwita selain Yasmine itu sendiri.
"Dengar, jangan berani-berani menggoda Presdir atau kau akan mati, mengerti?" kata orang itu memperingatkan.
"Tenang saja. Aku sudah menikah dan punya anak. Kalau aku ingin menggoda, aku lebih suka menggoda suamiku sendiri," kata Juwita sembari melirik beberapa bodyguard besar yang berdiri di sekitar ruangan Jeffrey.
"Bagus kalau begitu!" kata orang itu.
Mereka baru akan masuk. Tapi ada beberapa orang yang lebih dulu keluar dari ruangan itu. Mereka adalah dua babbysitter Rayyan dan dua bodyguard besar lainnya.
"Baby Jouvis, Presdir Jeff sedang bekerja. Kita pulang dulu, ya?" kata salah satu babbysitter itu sembari memperbaiki penutup kepala yang Rayyan gunakan.
"Bukan Presdir Jeff, tapi Paman Jeff!" ralat babbysitter yang lain.
Juwita sempat melihatnya. Meskipun sekilas, tapi Juwita tahu anak itu bukan Jouvis, melainkan Rayyan. Itu adalah bagian pentingnya. Tapi masih ada bagian penting lain yang membuat Juwita heran. Kenapa mereka mengajari Rayyan memanggil Jeff dengan sebutan paman?
"Dia siapa?" tanya Juwita.
"Dia anak Presdir, namanya Jouvis. Tapi Presdir tidak suka dipanggil papa. Presdir tidak percaya pada siapapun, bahkan bersikeras menolak untuk menikah ulang dengan Nona Yasmine yang jelas-jelas telah melahirkan anak untuknya," jawab orang itu.
Juwita tersenyum sinis. "Bagus kalau Jeff memiliki sifat seperti itu. Tapi kalau Rayyan bersama Jeffrey, lalu dimana Jouvis ku? Mungkinkah mereka terbawa Alan karena saat kecelakaan kami membawa Rayyan dan mereka membawa Jouvis?" batin Juwita.
Apapun itu, Juwita akan memikirkannya nanti dan berdiskusi dengan Kakek Ham. Sekarang yang lebih penting adalah membuat Jeff menerimanya sebagai asisten pribadinya apapun caranya.
__ADS_1
...***...