Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 23 Kontrak Kerja


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Jeff setelah masuk ke mobil.


Sadewa menoleh ke arah Jeffsa. Memperhatikan Jeff dengan teliti sembari mengingat kembali apa yang dia lakukan tepat saat Jeff menikah dengan Juwita. Saat itu Sadewa sempat meragukan Jeff dan tidak membiarkan keduanya menikah. Tapi setelah melihat Juwita sangat bahagia, Sadewa sadar dia telah salah. Mungkin Jeff memang pria terbaik untuk melindungi Juwita.


"Terimakasih telah menjadi suami yang baik untuk Juwita ku," kata Sadewa.


Jeff membalas tatapan Sadewa tanpa ekspresi. Dia tidak memiliki dendam apapun dengan Sadewa. Lagipula saat itu Sadewa hanya takut Juwita menikah dengan pria yang salah, untuk itulah Sadewa melarang Juwita menikah. Bagaimanapun juga Sadewa adalah satu-satunya orang yang peduli dengan Juwita. Sudah pasti dia cemas saat mendengar Juwita menikah dengan berandalan kan? Tapi apapun itu, Jeff juga tetap harus berterimakasih.


"Tidak perlu berterimakasih. Justru aku yang harus berterimakasih denganmu," balas Jeffsa.


"Untuk apa?" tanya Sadewa dengan senyum getir.


Orang yang tidak bisa menepati janjinya untuk setia. Apa dia pantas mendapatkan ucapan terimakasih?


"Karena kau menjaga Juwita selama ini," jawab Jeffsa.


Sadewa tersenyum mendengarnya. Dia senang adik iparnya tidak berpikiran sempit dan bisa mengerti situasinya. Tapi, saat itu Jeff terluka. Sadewa jadi penasaran siapa yang melakukannya.


"Ngomong-ngomong, waktu itu kau babak belur. Siapa yang menghajarmu?" tanya Sadewa lagi.


"Oh, itu Anggara," jawab Jeff singkat.


Jeff selalu menutupi saat Juwita atau tetangganya bertanya seputar luka yang dia dapat. Tapi tidak menutupi lagi ketika Sadewa bertanya karena Jeff sudah menganggap Sadewa adalah kakak Juwita. Sementara itu Sadewa termenung sebentar mendengar jawaban itu. Anggara tidak pernah menganggap Juwita selama ini. Tapi kenapa dia menghajar Jeff saat Juwita menikah?


"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Sadewa lagi.


"Dia melarangku menikah. Lalu memberiku uang sebagai imbalannya," jawab Jeff.


"Oh, begitu?" sahut Sadewa.


Sadewa manggut-manggut. Terbersit sebuah kecurigaan karena beberapa hari yang lalu orangtua Anggara sedang mengurus pembatalan adopsi. Sadewa mengaitkannya dengan sikap Anggara yang melarang Jeff menikah. Apa Anggara sebenarnya menyukai Juwita?


"Ada apa?" tanya Jeff.


"Jeff, sebaiknya kau berhati-hati!" saran Sadewa.


"Kenapa. Apa kau tahu sesuatu?" tanya Jeffsa.


"Mungkin Anggara menyukai istrimu," jawab Sadewa.

__ADS_1


Jawaban itu membuat Jeff tersenyum sinis. Lain kali kalau dia datang lagi, maka Jeff tidak akan kalah seperti hari itu. "Kalau dia berani menyentuh istriku, maka aku tidak akan ragu untuk menghajarnya," kata Jeff percaya diri dan membuat Sadewa puas.


"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, sampaikan maaf dariku kepada Juwita atas perlakuan Melodi. Aku akan memastikan dia tidak akan begitu lagi lain kali," kata Sadewa.


"Aku akan menyampaikannya," janji Jeffsa.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Terimakasih menjaga adikku baik-baik. Kalau ada apa-apa, tolong beritahu aku!" pamit Sadewa dengan menyerahkan sebuah kartu nama kepada Jeffsa.


Malam itu mereka mengakhiri pembicaraan mereka sampai disitu. Sadewa segera pulang karena hari sudah larut malam. Sementara Jeffsa segera kembali berkumpul dengan teman-teman berandalan serta tetangganya untuk main kartu sampai dini hari sebelum menyusul tidur dengan memeluk Juwita.


.


.


.


"Mau kemana?" tanya Juwita saat melihat Jeff sudah rapi.


"Kerja," jawab Jeff singkat.


Jawaban itu membuat Juwita mengingat sesuatu. Kemarin Jeff mengganti uangnya sebanyak ratusan juta. Jadi sebenarnya pekerjaan Jeff itu apa?


"Wi, apa itu penting? Pekerjaanku ini halal. Meskipun hanya menghasilkan sedikit uang, tapi itu sudah cukup untuk membuat perut kita kenyang," jawab Jeffsa.


Juwita tidak mengulik lebih jauh. Karena Jeff bilang pekerjaannya halal, maka itu sudah cukup. Gadis itu melihat Jeff dengan tatapan iri. Seandainya dia bekerja, pasti Jeff akan mengantarnya seperti hari biasa. Tapi berhubung dia sudah menjadi pengangguran, apa yang harus dia lakukan selain rebahan?


"Apa ini?" tanya Jeff sembari mengambil ponsel Juwita yang menyala.


"Aku sedang mencari lowongan pekerjaan," jawab Juwita.


Sebuah toyoran kembali mendarat di kepala Juwita. Kemarin Jeff sudah mengatakan bahwa Juwita tidak perlu kerja karena Jeff bisa menghidupinya. Seharusnya belum genap 24 jam sejak Jeff mengatakannya, apa Juwita sudah lupa? Untung saja Jeff sudah mengantisipasi hal ini.


"Aku menemukan pekerjaan yang sangat cocok untukmu," kata Jeff sembari menyodorkan selembar kertas.


"Ini?" tanya Juwita.


Juwita ingin mengambil kertas itu, tapi Jeff sudah menariknya kembali. "Gaji pertama 10 juta dan tidak perlu rajin bekerja. Selain itu masih ada uang makan, uang jajan, uang skincare, uang begadang dan bonus lainnya. Apa kau mau?" tanya Jeff.


Juwita berpikir sejenak. Gaji pertama sudah sebanyak itu memangnya pekerjaan apa yang Jeff tawarkan? Selain itu kenapa kerajinan tidak diutamakan dan masih ada uang skincare juga?

__ADS_1


"Aku sedang bertanya padamu, Wi!" ulang Jeff sembari memukul ringan kepala Juwita dengan kertas itu.


"Aku tidak mau. Mana ada pekerjaan yang seperti itu. Hanya malas-malasan lalu digaji setinggi langit," tolak Juwita.


"Tapi ini benar-benar ada dan sangat terbatas," kata Jeff meyakinkan.


"Tapi aku tidak mau!" tolak Juwita lagi.


"Tapi aku tidak mengijinkanmu untuk menolak," kata Jeffsa.


Jeff tidak menunggu persetujuan dari Juwita. Mau atau tidak, Juwita tetap harus menerima tawaran itu. Jeff meletakkan kertas putih itu di meja. Menarik jempol Juwita lalu menekannya ke tinta sebelum membubuhkan cap jempol Juwita diatas kertas bermaterai itu.


"J-Jeffsa, apa yang sedang kau lakukan?" teriak Juwita panik. Itu bukan surat utang-piutang kan?


Jeff menyunggingkan senyum kemenangan. Lalu segera memalsukan tanda tangan Juwita diatas materai itu. Setelah itu Jeff juga membubuhkan cap jempol miliknya sendiri lengkap dengan tanda tangannya.


"Beres!" kata Jeff.


"J-Jeffsa, darimana kau belajar memalsukan tanda tanganku?" tanya Juwita semakin panik. Bukan hanya tanda tangan, tapi cap jempol juga dan itu diatas kertas bermaterai. Itu bukan semacam surat persetujuan perbudakan kan?


"Buku nikah," jawab Jeff singkat.


Jeff bangkit, menenteng tas kecilnya sebelum mencuri kening Juwita dan pamit kerja. "Ingat, kau sudah mulai bekerja hari ini. Jadi jangan lupa datang kesini siang nanti!" kata Jeff sembari menyodorkan sebuah alamat.


"T-tunggu, tapi pekerjaanku itu apa?" tanya Juwita.


"Periksa dan baca baik-baik!" kata Jeff lalu menyodorkan kertas putih yang sudah Jeff foto. Untuk jaga-jaga saja, siapa tahu Juwita merobeknya setelah tahu apa isinya.


Juwita segera membaca satu demi satu isi kertas itu. Sementara Jeff duduk manis dan terus melihat Juwita yang mulai berkeringat dingin.


Menjadi istri Jeffsa selamanya. Mencium Jeffsa. Menemani Jeffsa makan. Tidur dengan memeluk Jeffsa. Jalan-jalan dan liburan dengan Jeffsa. Menurut dengan Jeffsa. Melahirkan anak untuk Jeffsa dan masih banyak lagi.


"I-ini ini apa?" tanya Juwita dengan menunjukkan tulisan 'melahirkan anak untuk Jeffsa'.


"Haruskah aku menjelaskannya?" tanya Jeff.


Juwita belum sempat menolak. Tapi Jeff sudah lebih dulu membisikkan sesuatu ke telinga Juwita. "Kenapa kita tidak praktek saja? Aku tahu kau lemah soal teori."


...***...

__ADS_1


__ADS_2