Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 22 Untung Istriku Percaya


__ADS_3

Tin


Tin


Dua bunyi klakson itu membuyarkan lamunan Juwita yang sedang menunggu Jeff di tempat biasa. Juwita sempat menoleh sebentar sebelum kembali mengacuhkannya. Sementara Jeff yang melihat sikap acuh itu hanya bisa menggerutu sendirian. Bukankah Juwita yang mengajaknya jalan-jalan tadi, lalu kenapa sikapnya sudah acuh begini? Tidak bisakah sedikit romantis dengan menyambut dan memberikannya sebuah pelukan seperti adegan di film-film?


"Apa aku perlu menggendongmu naik, Wi?" tanya Jeff setelah turun dari mobil dan berdiri di hadapan Juwita.


"Oh J-Jeff?" sahut Juwita dengan ekspresi tak terduga.


Sumpah, Jeff ingin sekali memakan Juwita saking gemasnya. Apa perlu Juwita menunjukkan ekspresi seperti itu selagi cosplay jadi patung?


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jeff. Pria itu masih santai seperti biasa tanpa menyadari sebuah kesalahan besar telah dia lakukan.


"Baju siapa yang kau pakai. Lalu ini mobil siapa?" tanya Juwita sembari menunjuk mobil mewah yang Jeff kendarai.


Kini giliran Jeff yang mematung di tempatnya. Apa bertemu dengan Juwita sangat menyenangkan sampai membuatnya lupa untuk kembali dengan dandanan pria berandalan?


"Apa yang harus ku katakan? Kalau aku bilang ini semua hanya pinjaman, apa Juwita akan percaya?" batin Jeff setelah melihat setelan jas yang dia kenakan dan menyembunyikan jam seharga miliaran yang melingkar di tangannya.


"Oh, ini. Wi, teman baikku menikah. Jadi aku,-"


"Apa kau baru menyewa sebuah mobil untuk tampil lebih keren saat pergi ke kondangan?" potong Juwita.


Jeff terkejut dengan apa yang Juwita lontarkan. Dia bahkan belum sempat menjelaskan tapi Juwita sudah lebih dulu menebak meskipun salah kaprah. "Begitulah!" jawab Jeff. Sangat lega dengan kebodohan hakiki milik Juwita.


"Kenapa kau sangat buang-buang uang, Jeffsa? Daripada kau menggunakannya untuk ini bukankah lebih baik menggunakannya untuk membelikan aku es krim?" protes Juwita.


"Wi, sudahlah. Lagipula sudah terlanjur. Lagipula uangku masih cukup kok. Nanti aku akan membelikanmu es krim satu gentong. Tapi, karena mobil ini sudah ku sewa, kenapa kita tidak menggunakannya untuk jalan-jalan?" kata Jeff mengalihkan pembicaraan.


Juwita sebenarnya sangat tertarik dengan ide Jeffsa tapi selagi menunggu Jeff tadi dia sudah berubah pikiran. Daripada hanya jalan-jalan berdua, kenapa mereka tidak melakukan hal yang lebih menyenangkan. Berkumpul dan makan bersama dengan orang-orang terdekatnya misalnya.


"Jeff, bagaimana kalau kita barbeque an dengan Ayah Bubu saja. Apa boleh?" ijin Juwita.


Jeff tersenyum tipis melihat mata berbinar. Apa ini wajah dari seorang karyawan magang yang baru mengundurkan diri? Tapi ya sudahlah! Karena suasana hatinya sedang baik, maka dia akan mengabulkan apapun permintaan Juwi tanpa protes. Tapi kenapa hanya dengan Bang Bubu? Bukankah dengan mengundang banyak orang semakin baik?


"Tentu saja boleh. Tapi aku berencana mengajak teman-temanku juga. Lalu tetangga-tetangga kita juga, bagaimana?" tanya Jeff.


Juwita tidak menjawab pertanyaan Jeff. Tapi mengangguk dengan senyum merekah sebagai jawabannya. Juwita bahkan sampai memeluk dan mencium Jeff saking senangnya.

__ADS_1


"Lain kali, kau harus mencium disini. Apa kau mengerti?" protes Jeff dengan menunjuk bibirnya sehingga membuat Juwita segera melepaskan pelukannya karena malu.


"Maaf, aku tidak sengaja!" kata Juwita dengan wajah merah.


"Sudahlah, ayo pulang!" kata Jeffsa sembari mendaratkan sebuah ciuman di dahi Juwita yang membuat wajahnya semakin merah.


.


.


.


"Apa kau senang, Wi?" tanya Jeff.


"Eum," jawab Juwita sumringah.


Malam itu suasana di sekitar tempat tinggal Jeff sangat ramai. Seluruh tetangga hadir, begitupun dengan seluruh teman yang Jeff undang. Beberapa penjual makanan bahkan dipersilahkan mampir karena diborong dagangannya. Di bawah sinar bulan purnama dan jutaan bintang, ratusan orang itu menikmati santap malam mereka dengan lahap. Beberapa teman Jeff bahkan ada yang sampai ketiduran di teras-teras rumah warga karena terlalu kenyang untuk pulang. Sementara beberapa yang lainnya masih sibuk bermain kartu layaknya ada bayi yang baru lahir.


Jeff melihat semua orang itu dengan teliti. Tapi pandangannya tertuju pada seseorang yang melihatnya dari kejauhan. Mereka sempat berpandangan meskipun hanya sesaat sampai orang itu pergi dan masuk ke mobil yang terletak di ujung gang.


"Wi, sudah malam. Sebaiknya kau tidur!" kata Jeff.


"Bagaimana denganmu?" tanya Juwita.


"Tentu saja begadang dengan mereka," jawab Jeff menunjuk sekumpulan pria yang asyik dengan dunianya.


Akhirnya Jeff membawa Juwita pulang. Mereka membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Maklum, teras dan ruang tamunya yang mini juga ditempati beberapa teman Jeff. Kamar Juwita bahkan disulap hingga sedemikian rupa dan digunakan Nindi beserta anak-anaknya.


"Tidur di kamarku saja," kata Jeff lagi.


"Apa aku boleh masuk kamarmu?" tanya Juwita ragu.


"Dulu tidak boleh. Sekarang sudah boleh," jawab Jeff.


Jeff segera membuka pintu kamarnya dan masuk. Sementara


Juwita tidak fokus lagi dengan apa yang Jeff lakukan karena perhatiannya tertuju ke tumpukan kertas dan alat tulis lengkap milik Jeffsa. Terlebih ketika melihat penggaris berbagai model dan ukuran yang tak terhitung jumlahnya.


"Ini untuk apa?" tanya Juwita.

__ADS_1


"Untuk mengukur punyaku!" jawab Jeff asal.


Juwita mengangkat satu alisnya. Apa pria selalu begini, mengukur berapa besar dan panjang benda miliknya? Jeff tidak mengalami kelainan kan?


"Jeff, menurutmu kalau besok kita pergi ke dokter bagaimana?" tanya Juwita.


"Dokter?" tanya Jeff heran.


"Itu, untuk memastikan kau normal!" jawab Juwita tanpa rasa bersalah.


Jeff menyeringai mendengar jawaban absurd dari Juwita. Dia itu sangat normal. Jadi kenapa harus ke dokter? Tapi lupakan saja karena ada hal yang lebih penting daripada membahas itu sekarang.


"Wi, ayo baring sini!" kata Jeff dengan memperbaiki bantal untuk Juwita.


Juwita tersenyum canggung. Dia juga ingin tidur, tapi kalau Jeff ada disana bagaimana dia bisa tidur. Bagaimana kalau Juwita malah begadang seperti tempo hari?


"Wi?" ulang Jeff.


"Kau tidur saja dulu. Aku belum terlalu ngantuk," tolak Juwita sopan.


"Wi, berapa kali kau menguap barusan. Aku akan mengangkatmu jika kau masih tidak kemari juga," ancam Jeff.


"Jeff?"


"Juwita?" panggil Jeff dengan nada yang lebih tinggi.


Juwita segera naik ke ranjang. Lalu menutup dirinya dengan selimut sembari memastikan dirinya tak terlihat oleh Jeff yang duduk di pinggiran ranjang. Sementara Jeff tidak beranjak dari tempatnya selain tangannya yang mengelus rambut Juwita dan memperlakukannya seperti anak kucing sampai Juwita tertidur.


"Wi, kau sudah tidur?" tanya Jeff.


Karena tidak ada sahutan, akhirnya Jeff bangkit. Memastikan Juwita tetap hangat sebelum pergi keluar rumah untuk menemui tamu yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Malam-malam begini kenapa kemari?" tanya Jeff setelah mengetuk pintu mobil beberapa kali.


"Terimakasih, Jeff!" kata orang itu setelah menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum.


"Bukan itu yang kutanyakan," kata Jeff kesal.


"Naiklah, kita bicarakan di dalam mobil!" kata seseorang yang tak lain adalah Sadewa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2