
Malam harinya.
"Jeff!" panggil Juwita.
"Apa?" tanya Jeff.
Pria yang matanya sudah setengah tertutup itu berbalik arah untuk melihat Juwita yang terus-terusan memegangi ujung baju yang dia kenakan. Untung hanya ujung bajunya saja yang Juwita tarik, bukan ujung kolor pendek yang pasti langsung melorot jika seseorang menariknya.
"Bagaimana kalau ada maling lagi?" tanya Juwita. Akal sehatnya sebenernya tidak mempercayai perihal maling, tapi dia tetap takut saja. Kalau kemarin maling itu berhasil masuk dan mencuri tanpa dia sadari, bagaimana kalau malam ini maling itu datang lagi untuk memperkosanya?
Mata Jeff yang nyaris tertutup mulai terbuka kembali. Apa Juwita benar-benar percaya dengan apa yang Jeff katakan tentang maling yang masuk tadi pagi?
"Lalu?" tanya Jeff sembari menarik ujung bajunya sebelum semakin melar.
"Kita tidur bersama malam ini, ya?" pinta Juwita sembari menunjuk ke arah sofa.
"Tapi aku tidak bisa tidur jika tidak membuka baju," kata Jeff.
Apa-apaan, sudah mengajak tidur bersama tapi kenapa harus di sofa? Dengan begini seharusnya Juwita akan membawanya ke kamar kan? Masa Juwita akan membiarkannya berpakaian minim di luar kamar.
"Kalau begitu buka saja. Aku janji tidak akan mengintip" sahut Juwita cepat.
"Juwita, aku tidak bisa tidur tanpa memeluk sesuatu," kata Jeff beralasan.
Jeff berharap Juwita akan menjawab 'kau bisa memelukku' lalu Jeff akan mengatakan 'kalau begitu tidur di kamar saja'. Tapi sepertinya Jeff harus kecewa karena jawaban yang diberikan Juwita sangat jauh dari harapannya.
"Kau bisa memeluk ini. Ini boneka kesayangan milikku. Malam ini aku meminjamkannya untukmu," kata Juwita dengan menyerahkan boneka beruang kesayangannya kepada Jeff.
"Kalau aku memeluk beruang ini lalu siapa yang akan kau peluk?" tanya Jeff.
"Aku tidak akan memeluk siapapun," jawab Juwita.
__ADS_1
Juwita tersenyum lega. Ada dua sofa di ruangan ini. Mereka bisa menguasai satu sofa untuk satu orang. Jadi memangnya kenapa kalau Jeff membuka baju. Lagipula hanya baju saja kan, paling-paling Juwita hanya melihat ABS-nya saja. Juwita mengabaikan Jeff yang masih belum mengatakan permintaan terakhirnya. Lalu pergi mengambil bantal dan selimut dari kamar dan menatanya sedemikian rupa agar Jeff bisa langsung tidur.
"Tuhan, kenapa istri oonku ini sangat tidak peka. Haruskah aku langsung praktek saja agar dia mengerti?" gumam Jeff sembari menggaruk rambut dan membuang nafas panjang.
"Jeff, aku sudah menyiapkan tempat tidur untukmu. Cepatlah berbaring dan jangan lupa mengganti lampu!" kata Juwita yang saat ini sudah berbaring di salah satu sofa.
"Wi, kalau ada kamar kenapa kita harus tidur di sofa? Aku tidak suka tidur di sofa tanpa alasan yang jelas seperti ini," kata Jeffsa mulai jengkel.
Lagipula kenapa harus takut dengan maling yang semalam mencuri lehernya. Maling itu kan sudah menyuapinya makan sampai kenyang tadi pagi.
Jeff yang awalnya bersandar mulai beraksi. Dia mengambil kembali bantal dan selimut yang sempat Juwita keluarkan dan mengembalikannya ke kamar. Membuang boneka beruang kesayangan Juwita ke kursi kecil di depan meja rias lalu segera mengangkat Juwita untuk di bawa ke kamarnya.
"Jeffsa, apa yang kau lakukan. Turunkan aku!" teriak Juwi tapi segera di bungkam Jeff.
"Jangan teriak-teriak. Tetangga kita yang menggemaskan bisa mengira aku melakukan KDRT padamu," omel Jeff.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Juwita.
Juwita melotot mendengar jawaban Jeff. Semakin melotot lagi saat mengingat ukuran ranjang miliknya yang tidak terlalu besar. Apa artinya dia akan tidur di lantai dan Jeff tidur di ranjang karena Jeff adalah pemilik rumah? Juwita masih membayangkan bagaimana dinginnya lantai itu, tapi Jeff sudah lebih dulu menurunkannya ke ranjang. Tunggu, kalau seperti ini apa artinya Jeff akan mengalah dan tidur di lantai?
Tentu saja jawabannya tidak, karena Jeff ingin tidur di ranjang yang sama dengan Juwita. Jeff bahkan sudah melepaskan bajunya sekarang. Tidak hanya melepas bajunya saja, tapi juga kolor pendek kesayangannya sehingga menyisakan satu-satunya onderdil dengan ukuran super pendek nan ketat sehingga membentuk lekukan yang membuat Juwita beringsut.
"J-Jeffsa apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau mempreteli bajumu seperti itu?" tanya Juwita dengan menutupi wajahnya dengan jari yang renggang.
"Aku sudah bilang kan, aku tidak suka tidur dengan memakai baju. Aku juga tidak suka tidur di sofa dan aku harus memeluk sesuatu, tapi kau malah ingin tidur denganku. Jadi tanggung sendiri akibatnya," jawab Jeff panjang lebar.
"Aku menanggung akibatnya?" tanya Juwita mulai gelagapan.
"Eum," jawab Jeff dengan membelai rambut Juwita.
Pria itu tersenyum sebentar, lalu langsung menerkam Juwita tanpa aba-aba sebelum membaliknya dan tidur dengan posisi memeluk Juwita dari belakang.
__ADS_1
"Jeffsa, sepertinya posisi ini tidak benar," kata Juwita saat merasakan benda menonjol di belakang sana.
"Oh, Juwita tidak suka posisi seperti ini? Kalau begitu aku akan ganti posisi," kata Jeff dengan suara penuh kasih sayang.
Jeff membalik Juwita. Lalu mencari kehangatan dengan meletakkan kepalanya di dada Juwita serta melingkarkan tangannya untuk memeluk pinggang ramping itu.
"B-Bukan seperti ini juga, Jeff!" tolak Juwita. Tangan lemah itu mendorong Jeff tapi gagal karena Jeff terlalu berat seperti gunung.
"Wi, kenapa malam ini bajumu lengkap sekali. Bukankah kemarin malam kau tidak mengenakan apapun selain onderdil mini bertali itu. Kalau tidak salah, lebar penutup dibagian bawah hanya selebar dua atau tiga jari saja kan?" tanya Jeff.
Muka Juwita merah padam mendengar omongan Jeff dan menghentikan perlawanannya. Kenapa Jeff bisa tahu. Apa Jeff melihatnya?
"J-Jeffsa apa kau mengintip?" tanya Juwita.
"Tidak. Baiklah, aku akan mengatakannya sekarang. Semalam aku masuk ke kamarmu untuk memeriksa jendela. Tapi kau terlalu seksi untuk ku abaikan. Jadi aku memutuskan untuk menciummu seperti ini," kata Jeff sembari mempraktekkan bagaimana proses Juwita mendapatkan tanda merah di ceruk lehernya semalam. Alhasil bertambah lagi satu tanda merah itu di leher Juwita.
"Jeffsa, kenapa kau sangat mesum. Keluar sana, aku sudah tidak takut lagi sekarang!" usir Juwita kemudian mendorong Jeff dengan tenaga yang lebih kuat. Tapi Jeff juga semakin menempel sehingga membuatnya geli setengah mati.
"Sstt! Juwita, cepatlah tidur dan jangan bergerak sembarangan. Kalau sampai belalai gajahku bangun, kau bisa keracunan nanti. Apa kau tahu akibatnya jika sampai keracunan belalai gajah? Perutmu ini bisa membesar selama sembilan bulan. Apa kau tidak takut?" ancam Jeff.
Kalimat itu sukses membuat Juwita menurut. Tidak, Juwita masih tidak ingin punya anak. Juwita masih tidak ingin melahirkan dan begadang mengurus bayi. "Jeff, jangan lakukan itu," kata Juwi memohon.
"Tentu saja asal kau menurut," kata Jeff.
"A-aku akan menurut mulai sekarang," kata Juwita.
"Istri pintar, bukankah kalau kau patuh begini lebih menyenangkan?" puji Jeff dan semakin merapatkan pelukannya.
Sementara itu Juwita segera menutup matanya mencoba untuk tidur. Tapi bagaimana caranya dia tidur kalau posisinya seperti ini?
...***...
__ADS_1