
Jeff sudah memesan beberapa menu kesukaan Juwita. Tapi Juwita masih belum menyentuh makanannya meskipun waktu sudah berlalu hampir setengah jam. Juwita memang lapar tadi. Tapi setelah tahu ternyata Jeff membawanya makan bersama Sadewa dan Melodi, rasa laparnya langsung menguap entah kemana.
Selama setengah jam terakhir, yang Juwita lakukan hanyalah saling pelotot-pelototan dengan Melodi yang duduk tepat di depannya.
Jeff dan Sadewa yang mengerti situasi buruk ini juga hanya saling tatap-tatapan. Tidak tahu harus melakukan apa lagi agar dua wanita itu akur layaknya keluarga sungguhan. Mau bagaimana lagi, mereka sudah melakukan segala cara untuk mendamaikan mereka tapi hasilnya nihil sampai sekarang.
"Mel, makanannya sudah dingin!" kata Sadewa sembari memberikan sebuah sendok kepada Melodi.
"Wi, buka mulutmu. Aku akan menyuapimu!" kata Jeff sembari menyodorkan sesendok daging untuk Juwita.
Tapi kedua pria itu harus lebih bersabar karena keduanya menolak mentah-mentah diwaktu yang bersamaan. "Aku tidak lapar!"
Keduanya baru tertarik dengan makanan yang tersaji di meja setelah seorang pelayan membagikan Panna Cotta Dessert secara gratis sebagai uji coba dessert baru untuk pengunjung restoran.
"Aku mau itu!" kata Juwita dan Melodi bersamaan. Keduanya bahkan menyentuh piring kecil itu di waktu yang bersamaan pula.
"Ini milikku!" kata Juwita. Sepertinya dia enggan mengalah kepada ibu hamil yang perutnya sudah mulai terlihat membuncit.
"Tidak, ini milikku. Aku yang mengambilnya lebih dulu!" kukuh Melodi. Sama seperti Juwita, Melodi pun juga enggan mengalah.
"Omong kosong! Aku yang lebih dulu menyentuhnya. Aku juga yang lebih dulu melihatnya!" lanjut Juwita.
"Aku melihatnya sejak pelayan membawanya keluar dari ujung sana!" kata Melodi.
Jeff dan Sadewa menjadi semakin tertekan, mereka sama-sama menggaruk kepalanya yang tidak gatal atas perseteruan yang tidak ada habisnya. Jelas-jelas ada dua Panna Cotta di meja mereka. Kenapa tidak membaginya satu untuk satu orang. Kenapa harus memperebutkan satu Panna Cotta yang ada di hadapan mereka dan mengabaikan satu Panna Cotta lain yang diletakkan di hadapan Jeff dan Sadewa?
"Mel, bukankah disini juga ada Panna Cotta?" tanya Sadewa.
Sadewa memberikan dessert itu kepada Melodi tapi Melodi sedikitpun tidak tertarik dengan dessert yang sudah Sadewa letakkan di depannya.
"Aku mau yang ini!" jawab Melodi.
Karena gagal membujuk Melodi, Sadewa pun melirik Jeff yang masih anteng saja. Memberikan sebuah kode agar Jeff ganti membujuk Juwita. Jeff akhirnya mulai bergerak, mengambil dessert yang di tolak Melodi dan menggesernya lebih dekat kepada Juwita.
"Wi, ada bayi di perutnya. Berikan saja yang itu untuknya. Kau bisa makan yang ini," bujuk Jeffsa.
"Memangnya kenapa kalau ada bayi di perutnya. Bayinya kan belum lahir. Jadi jangan gunakan bayi yang ada di dalam perut sebagai alasan," sahut Juwita.
__ADS_1
"Atau begini saja. Aku akan meminta yang baru untukmu. Kau mau berapa Panna Cotta, satu atau dua?" bujuk Jeff lagi.
Sekarang Juwita baru menoleh kearah Jeffsa. Sumpah, tatapan mata Juwi yang seperti itu membuat Jeff mati kutu seketika. Apa Jeff salah bicara lagi?
"Apa yang baru saja kau katakan, Jeffsa? Apa kau mau aku makan lebih banyak Panna Cotta? Apa kau mau aku gendutan?" tanya Juwi.
"B-bukan begitu maksudku, Wi!" jawab Jeff.
Hanya kata itulah yang bisa Jeff katakan. Jeff sudah menyerah sekarang. Begitu salah begini salah. Bicara salah tidak bicara pun juga salah. Lebih baik dia diam saja sampai restorannya tutup dan diusir sekalian. Dengan begitu mungkin keduanya akan berhenti berdebat.
Setelah Jeff diam, kini giliran Sadewa yang kembali bersuara meksipun tahu akan gagal. "Mel, Juwita itu adikmu. Mengalah saja, ya?" kata Sadewa.
Tapi kalimat dari Sadewa itu membuat Melodi tidak hanya marah tapi juga membangkitkan kembali api cemburu yang sempat padam. "Sadewa, kenapa kau membelanya. Apa kau masih mencintai adik sepupumu ini?" tanya Melodi dengan ekspresi seperti ingin memakan Sadewa.
Jika tadi Jeff yang kicep, kini giliran Sadewa yang kicep. Dua pria sayang istri itu akhirnya tidak lagi bersuara demi ketenangan dunia. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama karena Juwita angkat bicara.
"Kenapa kau menyebut-nyebut namaku dalam urusan rumah tangga kalian. Kalau orang lain mendengarnya orang bisa salah paham!" kata Juwita.
"Tapi begitulah kenyataannya, Juwita! Kalian pernah saling mencintai. Kau bahkan merusak acara pernikahanku dengan Sadewa hari itu," kata Melodi.
"Juwita, bagus kalau kau sudah menemukan pengganti Sadewa. Tapi apa maksudmu dengan mengatakan suamimu lebih tampan dari suamiku. Apa kau baru saja mengatakan bahwa suamiku jelek?" tanya Melodi.
"Apa telingamu itu tuli, kapan aku bilang suamimu jelek? Aku hanya mengatakan suamiku lebih tampan dan lebih baik!" jawab Juwita.
"Bukankah kau baru saja mengatakannya?" tanya Melodi.
Juwita yang merasa dijebak dengan pertanyaan Melodi pun mengumpat tepat di hadapan Melodi. "Melodi, apa kau bodoh. Itu karena kau menjebakku agar aku mengatakan Sadewa jelek!" kata Juwita.
Mereka berdua akhirnya saling diam sebelum saling memalingkan muka.
"Hmph! Aku sudah tidak ingin makan!" kata Juwita dan Melodi yang lagi-lagi dilakukan secara bersamaan sehingga membuat dua pria itu kehilangan harapan.
"Wi, bukannya tadi kau bilang lapar?" tanya Jeffsa.
"Aku sudah kenyang makan angin. Kalian makan saja, aku akan menunggu diluar."
Juwita bangkit. Meninggalkan meja makannya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Sementara Sadewa yang kembali membujuk Melodi juga mendapatkan perlakuan yang sama karena Melodi juga pergi dengan alasan yang nyaris sama.
__ADS_1
"Aku mau cari hawa segar diluar. Kalau sudah selesai makan cepat pulang!"
Jeff dan Sadewa hanya bisa melihat punggung Juwita dan Melodi yang semakin menjauh. Lalu melihat makanan favorit Juwita dan Melodi yang sudah mereka pesan tapi tak disentuh oleh keduanya.
.
.
.
Di luar sana Juwita dan Melodi memilih tempat yang berbeda dan lantai yang berbeda pula. Juwita sibuk dengan dunianya di lantai bawah dan Melodi sibuk dengan dunianya di lantai atas. Tapi sepertinya mereka memang benar-benar berjodoh hari ini.
Karena saat Juwita ingin naik keatas untuk memanggil Jeffsa, Melodi malah turun karena ingin menunggu Sadewa di mobil. Keduanya kembali berpapasan di tangga. Tanpa melihat dan tanpa menyapa. Tapi meskipun begitu Juwita tahu Melodi sedang terancam bahaya karena seseorang yang berdiri di belakang Melodi menuruni tangga dengan berlari tanpa memperhatikan keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Melodi yang tersenggol akhirnya kehilangan keseimbangan. Wanita hamil itu nyaris jatuh tapi sesuatu yang tak terduga terjadi karena Juwita dengan sigap menahan Melodi dan berencana membiarkan dirinya sendiri jatuh.
"Kenapa aku tidak nyungsep kebawah?" batin Juwita saat menyadari dirinya selamat.
"Juwita, kau sangat berat tahu?" umpat Melodi.
Juwita akhirnya tahu penyebab dirinya gagal jatuh. Rupanya Melodi yang sempat dia tolong kembali menolongnya.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Juwita. Juwita segera memperbaiki posisinya dan melepaskan pegangan Melodi untuknya.
"Karena kau yang duluan menolongku," jawab Melodi.
"Siapa juga yang menolongmu. Aku hanya menolong bayi di perutmu itu agar tidak lahir lebih awal," kilah Juwita.
"Itu sama saja, bodoh!" umpat Melodi lagi.
Akhirnya terjadi lagi. Perdebatan yang sempat terhenti akhirnya terjadi lagi hanya karena mereka saling menolong. Keduanya baru berhenti ketika perut mereka berbunyi di waktu yang bersamaan.
"Makan sana, kau sudah lapar!" usir Melodi.
"Kau bicara seolah-olah tidak lapar saja. Sana pergi, anakmu itu butuh gizi!" kata Juwita.
...***...
__ADS_1