Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 51 Cemburu Sampai Mati


__ADS_3

Jeff melihat Mama Reta dan Papa Albert dengan tatapan tidak suka. Tapi daripada disebut melihat dengan tatapan tidak suka, sepertinya melihat dengan tatapan jijik lebih cocok untuk menggambarkan bagaimana cara Jeff melihat mereka saat ini. Baru beberapa menit yang lalu dua orangtua dan dua kembar itu merendahkan Jeff habis-habisan. Tapi mereka langsung merubah sikap setelah Jeff mengeluarkan cek miliknya.


Dua kembar itu bahkan mengabaikan gagdetnya dan mulai melihat Jeff dengan cara yang berbeda.


"Kalau kalian ingin uang ini, seharusnya kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Jeffsa.


"Kami tahu," jawab Papa Albert dengan senyum mengembang tanpa rasa malu.


Setelah mendengar jawaban itu, Jeff bangkit dengan membawa Juwita serta. Lalu meninggalkan rumah itu setelah mengatakan kalimat terakhirnya. "Kalau begitu tunggu apalagi. Cepat lakukan tugas kalian dan temui aku secepatnya. Karena kalau terlalu lama, bisa saja cek berisi uang yang kalian inginkan ini dimakan oleh kawanan tikus yang ada di rumahku."


Jeff meninggalkan rumah itu dengan percaya diri. Tidak takut apapun juga meskipun sekelompok pengawal sedari tadi mencegatnya. Karena hanya dengan satu tatapan dari mata Jeff saja, mereka mulai menyingkir dengan sendirinya. Lagipula kalau mereka tidak tuli, seharusnya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan karena tadi Jeff berbicara dengan suara lantang.


Tepat sebelum mereka keluar, Jeff berhenti. Melihat Juwita yang masih takut meskipun Jeff sudah hampir menyelesaikan semuanya.


"Angkat kepalamu, Princess! Nanti mahkotamu jatuh," kata Jeffsa.


Pria itu sudah berdiri di depan Juwita sekarang. Mengangkat kepala Juwita yang lebih banyak menunduk sejak tadi. Jeff ingin membuat Juwita lebih percaya diri mulai hari ini. Menunjukkan bagaimana caranya meninggalkan rumah masa lalu itu dengan kepala tegak dan tanpa bayang-bayang masa lalu kelam itu.


"Aku menepati janjiku lagi kan? Semuanya sudah beres. Mulai sekarang aku tidak mengijinkanmu menunduk dan takut seperti ini lagi. Apa kau mengerti?" tanya Jeffsa dengan menyentil hidung Juwita.


Juwita tidak bisa menutupi rasa harunya. Meksipun tidak bisa mengeluarkan banyak kata saking bahagianya, tapi dia menjawab permintaan Jeff dengan tindakannya.


"Terimakasih!"


Tidak hanya mendapatkan pelukan, Jeff juga mendapatkan ciuman di bibirnya di hadapan banyaknya pengawal yang sedang melihatnya. Tapi daripada dua hadiah yang Juwita berikan barusan, sejujurnya Jeff sudah mendapatkan hadiah yang lebih besar lagi. Yaitu kepercayaan diri Juwita yang tidak hanya berani mengangkat kepalanya, tapi juga tersenyum lebar di rumah yang dulunya seperti neraka.


Jeff membalas pelukan Juwita dengan hangat. Tidak malu meskipun tahu Anggara sudah menyusul mereka. Tapi seorang tamu tak diundang datang. Masih dengan gayanya yang sombong, masih dengan keyakinannya yang mengira bahwa Juwita pasti akan jadi miliknya. Pria itu siapa lagi kalau bukan Dante Adhyaksa.


"Apa kau mau membuatnya mati cemburu?" cibir Anggara saat sudah berada beberapa langkah di belakang Jeffsa.


"Tentu saja. Tapi ini masih belum cukup. Karena setelah ini aku baru akan menunjukkan padanya apa yang disebut dengan mati karena cemburu," kata Jeffsa.


"Bagaimana kalau orang itu berani menambah lebih dari satu triliun?" tanya Anggara.


"Itu tidak akan pernah terjadi!" jawab Jeffsa.

__ADS_1


Jeff tersenyum dengan senyum kemenangan. Dengan bantuan dua kakeknya yang berkuasa, tidak sulit baginya untuk membuat Dante tidak memiliki banyak pilihan. Jeff memang tidak meminta Dante bangkrut dalam semalam, tapi Jeff sudah melakukan sesuatu agar Dante tidak memiliki peluang untuk menaikkan 'harga' lebih dari satu triliun. Kecuali jika Dante ingin kehilangan semua hartanya.


"Sayang, ayo pulang!" ajak Jeffsa.


Jeff menarik Juwita pergi. Melewati Dante begitu saja tanpa basa-basi sehingga membuat Dante meminta keduanya berhenti.


"Berhenti! Kau mau membawa Juwita kemana?" tanya Dante saat Jeff sudah satu langkah di belakangnya.


"Tentu saja membawanya pulang. Dia kan istriku," jawab Jeff bangga.


"Apa kau sangat bodoh. Kalau kau mau pulang, pulang saja sendiri dan tinggalkan Juwita disini. Orangtuanya sudah sepakat untuk memberikannya padaku dengan 850 miliar sebagai gantinya," kata Dante percaya diri.


"Tapi aku memberikan satu triliun pada mereka. Di mata manusia serakah seperti mereka, menurutmu mana yang akan mereka pilih. 850 miliar darimu atau satu triliun dariku?" tanya Jeff dengan senyum sinis.


"Satu triliun?" tanya Dante.


Pria itu tertawa keras. Masih mengira Jeff hanya membual soal uang satu triliun. "Jangan bercanda. Kau tidak mungkin punya uang sebanyak itu," kata Dante.


Tapi kata-kata dari Dante tidak membuat Jeff ambil pusing. Karena percuma juga bicara dengan pria tanpa otak seperti Dante. "Bercanda atau tidak kau akan tahu sebentar lagi. Oh iya, bukankah ada Anggara disini. Jadi kenapa tidak bertanya saja padanya?" tantang Jeffsa.


Seluruh urat Dante menegang. Apa yang mereka katakan sungguhan. Bukankah Jeff hanya pria miskin, tapi kenapa dia punya banyak uang. Sebanyak apa uang yang Jeff punya sampai rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk mempertahankan Juwita?


"Sebenarnya kau ini siapa?" tanya Dante.


Jeff yang sejak tadi menggenggam erat tangan Juwita mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam. Lalu menciumnya sembari mengatakan, "Aku hanyalah seorang suami yang tidak akan membiarkan istriku diambil orang."


"Tidak, kalian pasti berbohong. Ini hanya akal-akalan kalian kan?" sanggah Dante.


"Namamu Dante Adhyaksa kan? Dengarkan aku kali ini saja. Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi aku sebagai suami Juwita ingin memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya. Jangan lagi mengganggu Juwita atau mencoba mencurinya dariku lagi di masa depan. Karena jika kau melakukannya, aku bisa menghancurkanmu."


Jeff kembali meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda. Tapi kembali terhenti saat dia melupakan sesuatu yang penting. Yaitu menunjukkan pada Anggara bagaimana caranya membuat Dante mati karena cemburu.


"Dante, istriku ini sudah memutuskan hanya akan melahirkan anak-anak yang berasal dariku saja. Jadi jangan bermimpi untuk tidur diatasnya. Ngomong-ngomong, bayi pertama kami sudah tidur di perutnya sekarang. Mengingat usiamu yang sudah tidak lagi muda, sebaiknya kau segera mencari wanita pengganti Juwita dan membuat anak kalian sendiri. Lalu hidup berbahagialah dengan wanita itu," kata Jeffsa.


Dante merasakan dunianya benar-benar gelap sekarang. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain mengepal erat dan terdiam di tempatnya. Sementara Anggara yang baru tahu Juwita hamil segera menyusul Jeff dan Juwita sebelum mereka meninggalkannya.

__ADS_1


"Wi, kau benar-benar hamil?" tanya Anggara.


Anggara menarik tangan Juwita yang lain, lalu memegang dua pundaknya untuk mendengar jawaban itu dari mulut Juwita sendiri.


Juwita tersenyum dengan sebuah anggukan. Lalu mengatakan, "Kakak, kau akan jadi paman sebentar lagi."


"Aku sangat senang mendengarnya, Wi!" kata Anggara.


Anggara memeluk Juwita sangat erat. Dia juga mencium dahi Juwita beberapa kali sebagai bentuk mengekspresikan rasa bahagianya. Tapi tindakannya itu membuat Jeff cemburu.


"Anggara, apa yang sedang kau lakukan. Apa kau baru saja mencium dan memeluk istri orang di depan suaminya? Kenapa kau sangat tidak punya akhlak?" tanya Jeffsa.


Jeff kembali merebut Juwita. Memeluknya, mendekapnya sampai Anggara tidak punya kesempatan untuk mencuri ciuman dan pelukan yang seharusnya hanya miliknya.


"Jeff, aku ini kakaknya!" protes Anggara.


"Tapi sebentar lagi kau bukan kakaknya!" kata Jeff tidak mau mengalah.


"Tapi,-"


"Stop! Cukup!" potong Jeffsa.


"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Tidak masalah kalau kau masih ingin jadi kakaknya. Tapi aku tidak mau anakku punya paman yang perusahaannya hampir bangkrut sepertimu. Jadi, bukankah sebaiknya kau pergi dan berusaha keras agar perusahaanmu kembali normal lalu membelikan susu untuk anakku?" lanjut Jeffsa.


Anggara sangat ingin memukul Jeff sekarang. Tapi menahannya setelah mengingat 500 miliar yang Jeff berikan secara cuma-cuma untuknya. Tapi Jeff malah mengatakan sesuatu yang lain sehingga Anggara tidak tahan untuk mencubit ginjal Jeffsa.


"Aku sudah akan jadi ayah. Jadi kapan kau akan menikah?" tanya Jeffsa dengan gaya yang parlente.


"Jeff, kau memang benar-benar brengsek!" umpat Anggara.


"Hei, meskipun brengsek begini, tapi adikmu ini mencintaiku setengah mati," kata Jeff menyombongkan diri.


Dua pria itu hampir bertengkar lagi. Untung saja Juwita yang sudah baik-baik saja segera melerainya dan membawa Jeff pulang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2