
Beberapa bulan telah berlalu semenjak kedatangan Juwita di rumah Kakek Abraham. Dua kakek dan satu nenek Jeff itu menyambut Juwita dengan antusias. Hubungan mereka juga terjalin baik dan sudah semakin akrab dari hari ke hari. Sesekali mereka akan datang berkunjung. Lalu sesekali pula Jeff juga akan membawa Juwita menemui mereka.
Keadaan semua orang juga semakin membaik. Juwita sudah benar-benar bebas layaknya burung yang terbang di langit. Anggara sudah menikah dengan Prita dan saat ini sedang pergi berbulan madu. Melodi sudah melahirkan anak pertamanya. Seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Ayah Bubu sudah sehat seperti sedia kala dan sering berkunjung bersama Bunda Nindi untuk membantu Jeff menjaga Juwita. Sementara itu, tidak ada perubahan yang berarti dengan tetangganya karena mereka masih sama baiknya. Jika ada yang berubah, itu hanyalah mulut mereka yang semakin cerewet, terlebih Ayunda dan Natalie.
Juwita senang semua orang sudah berbahagia. Tapi sayangnya kebahagiaan itu belum sempurna karena berita yang belum lama ini dia terima. Caca dan Alan, mereka diperkirakan akan sulit punya momongan setelah mengalami kecelakaan.
Saat ini keduanya memilih untuk pergi entah kemana. Sebelum pergi, mereka hanya bilang ingin refreshing dan menyegarkan pikiran. Dan sekarang mereka hilang tanpa kabar bak ditelan bumi.
"Ca, aku berharap Tuhan akan memberikanmu kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya hamil sepertiku. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti saat waktunya tepat," batin Juwita.
Juwita memegangi perutnya yang sudah buncit. Lalu tersenyum sendiri saat melihat kaki calon buah hati yang menendang perutnya. Bentuk kaki itu terlihat sangat jelas. Membuat Juwita semakin tidak sabar untuk melihat wajah buah cintanya bersama Jeffsa.
"Sayang, apa kau sudah kangen dengan ayahmu? Tunggu sebentar lagi. Ayah pasti akan segera pulang!" kata Juwita.
"Mbak Wi, kapan adik bayinya lahir?" tanya adik angkat Juwita yang paling besar.
Anak laki-laki yang dari tadi sibuk momong keempat adiknya itu tersenyum saat mengetahui calon keponakannya bergerak-gerak.
"Mungkin bulan depan," jawab Juwita.
Kalau semuanya berjalan normal, seharusnya anak itu akan lahir sekitar tiga minggu lagi. Itulah alasan Bubu dan Nindi sering berada di rumah ini.
"Mbak Wi, kami boleh pegang tidak?" tanya adik angkatnya yang lain. Mereka sekarang sudah berjejer rapi mengerumuni Juwita. Berharap kakak cantiknya tidak keberatan membiarkan mereka menyentuh calon keponakan yang kata dokter berjenis kelamin laki-laki.
"Tentu saja boleh!" jawab Juwita.
Anak-anak itu tersenyum lebar. Tidak ragu menyentuh perut Juwita secara bergiliran dan menunjukkan ekspresi senang.
"Sudah ya? Jangan ganggu Mbak Juwi lagi. Kalian main sendiri sini!" tegur Ayah Bubu ketika melihat kelima anaknya mengerubunginya Juwita.
__ADS_1
"Iya, Yah!" jawab anak-anak itu barengan.
Akhirnya Bubu muncul juga setelah sibuk membantu istrinya di dapur. Rencananya mereka akan pulang setelah melihat batang hidung Jeff nanti. Ngomong-ngomong, Jeff masih belum kembali dan membantu perusahaan sang kakek meskipun sudah berjanji pada kakeknya waktu itu. Maklum, fokus Jeff saat ini hanyalah menjaga Juwita dengan sepenuh hati. Memastikan anaknya lahir selamat tanpa adanya gangguan yang datang dari orangtuanya.
Setelah anak-anak itu menyingkir, kini giliran Bubu yang mendekat. Memberikan segelas jamu tradisional yang katanya bisa memperlancar proses persalinan nanti. Meskipun rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi Juwita tetap meminumnya hingga habis.
"Sehat-sehat terus ya, Nak! Semoga tidak ada halangan apapun saat melahirkan nanti. Bayinya sehat, ibunya sehat, bapaknya juga sehat biar bisa jadi suami siaga," kata Bubu dengan mengacak-acak rambut Juwita.
"Iya, Yah!" jawab Juwita.
"Ya sudah, ayah mau masuk dulu. Nanti bundamu marah kalau ayah kelamaan ngasih jamunya," pamit Bubu.
Maklum, Nindi sedang sibuk-sibuknya masak di dapur. Entah kenapa calon nenek muda itu tidak mau menurut. Padahal Jeff sudah sering mengatakan untuk tidak perlu repot-repot memasak. Lebih baik beli saja agar mereka bisa beristirahat saat datang ke rumah ini. Mengurus lima anak mereka yang aktifnya kelewatan bukankah seharusnya membuat mereka lelah? Tapi Kenapa energinya malah semakin bertambah?
Bubu kembali masuk rumah. Sementara kelima anak-anak tadi sibuk bermain di pekarangan rumah. Beberapa anak tetangga juga mulai berdatangan untuk main bersama kelima Pandawa itu. Mereka baru berhenti ketika si tuan rumah datang.
"Sudah sore, pulang sana. Mandi, mengaji, sholat, makan, belajar lalu tidur. Besok kesini main lagi!" kata Jeffsa sembari menyerahkan satu kantong besar oleh-oleh berupa kinder joy.
Meskipun Jeff selalu di labrak tetangganya karena selalu memberikan jajan gratis, nyatanya Jeff masih tidak kapok juga.
"Terimakasih, Bang Jeff!" kata anak-anak itu bersamaan. Wajah mereka berseri-seri. Kapan lagi diberikan kinder joy secara gratis.
"Dimakan sama-sama, ya?" kata Jeffsa.
"Iya, Bang!" jawab anak-anak itu bersamaan.
Setelah membagi rata jajan dari Jeffsa, anak-anak itu benar-benar pulang ke rumah. Tentu saja setelah mencium tangan Jeff dan Juwita dulu sebagai bentuk hormat mereka.
"Tidak takut dilabrak lagi?" tanya Juwita saat Jeff menghampirinya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Jeff singkat.
Jeff mencium pipi kanan kiri Juwita. Mencium pucuk rambutnya juga lalu memeluknya sebentar sebelum mencium perut yang kian membesar.
Pria itu duduk dilantai beralaskan kursi berkaki pendek. Kalau sudah duduk di depan perut Juwita seperti ini, biasanya Jeff akan menyibak daster yang Juwita kenakan. Lalu berbicara dengan anak pertamanya tanpa kain penghalang. Tapi karena mereka sedang duduk di teras rumah, Jeff terpaksa harus berbicara meskipun daster itu menghalanginya.
"Apa anakku nakal hari ini?" tanya Jeffsa.
"Dia terus menendang sejak tadi," jawab Juwita.
"Hey, Boy! Kalau berani cepat keluar dari perut ibumu dan tendang ayahmu ini. Kau ini seorang pria, bagaimana bisa menendang perempuan? Dia itu ibumu, apa kau tidak takut kualat?" tanya Jeffsa.
Pria itu sudah mulai lagi. Berbicara sendiri dengan anak yang masih dibungkus perut Juwita. Jeff meletakkan tangannya, dan anaknya semakin bergerak tak beraturan di dalam sana. Juwita sedikit meringis, lalu menyingkirkan tangan Jeff dari perutnya agar bayi mereka tenang.
"Wi?" protes Jeffsa ketika Juwita melarangnya menyentuh calon anaknya sendiri.
"Dia bergerak terus saat kau pegang. Bagaimana kalau tiba-tiba dia keluar?" tanya Juwita.
"Maka kita akan segera jadi orangtua," jawab Jeff singkat. Sangat singkat. Bahkan juga langsung mencuri ciuman dari Juwita dengan singkat pula.
Juwita yang bibirnya hanya bisa tersenyum sendiri. Antara Senang, tersanjung, dan semua perasaan yang terkumpul jadi satu. Bersyukur karena hari-hari gelapnya benar-benar sudah hilang berkat kerja keras Jeffsa. Juwita tidak bisa mengalihkan pandangan matanya sekarang. Dia terus melihat Jeff dengan tatapan penuh cinta. Memiliki suami yang baik dan pengertian seperti Jeffsa, lalu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Sungguh Juwita merasa menjadi wanita yang paling beruntung sedunia.
Ngomong-ngomong, Juwita sudah hampir melahirkan sekarang. Jeff pernah bilang sudah menemukan nama untuk anak mereka. Tapi sampai sekarang masih merahasiakannya. Juwita semakin penasaran nama apa yang sebenarnya Jeff berikan pada anaknya nanti.
"Jeff, kau mau memberi nama anak kita siapa?" tanya Juwita.
"Rahasia, tapi yang jelas harus ada unsur 'J' seperti nama kita kan?" sahut Jeffsa.
...***...
__ADS_1