Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 73 Apa Masih Kurang?


__ADS_3

"Wi, bangun!" kata Jeff pelan.


Dalam perjalanan pulang, Jeff mencoba membangunkan Juwita yang pingsan akibat cekikan. Tanpa mengetahui bahwa sebaiknya Juwita pingsan saja karena jika dia bangun sesuatu yang memalukan akan terjadi.


"Sayang, buka matamu!" kata Jeff sekali lagi.


Perlahan Juwita membuka matanya. Jeff kira Juwita akan kaget, lalu segera memeluknya dan mengucapkan syukur karena sudah ada di tempat yang aman bersama Jeffsa. Tapi Jeff harus panik karena Juwita tidak hanya tidak mengenalinya tapi juga mulai membuka pakaiannya sendiri karena efek obat yang disuntikkan padanya semakin bereaksi.


"Panas!" ucap Juwita.


"Eh, Wi apa yang kau lakukan?" tanya Jeffsa dengan bola mata yang hampir loncat.


Jeff segera menutup aurat istrinya sebelum terlihat. Lalu memegangi kedua tangan Juwita agar tidak melakukan hal sembrono itu lagi. Bagaimanapun juga mereka sedang berada di mobil dan ada dua orang asing di depan sana. Jadi bagaimana bisa Juwita melakukan ini. Tapi tindakan Jeff itu malah membuat Juwita tersiksa.


"Lepaskan aku! Panas sekali!" ucap Juwita lirih dengan mata sayu. Juwita berontak, mencoba melepaskan diri untuk membuka bajunya lagi karena panas yang dia rasakan. Tapi kungkungan Jeffsa membuat Juwita tidak bisa melakukannya dengan bebas.


"Sial, apa Juwita diberi obat? Kenapa dia begitu liar?" batin Jeffsa.


Jeff memegangi tangan Juwita lebih kuat. Berharap Juwita tidak lagi membuka bajunya. Cara itu memang sukses membuat tangan Juwita diam tapi tidak dengan mulutnya karena Juwita semakin aktif dan menyerang Jeffsa dengan ciuman.


"Wi, tenangkan dirimu!" bisik Jeffsa.


Jeff melepaskan tangan Juwita untuk menghalau ciuman yang datangnya bertubi-tubi itu, tapi keputusannya sangat salah karena Juwita memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuh seluruh tubuh Jeffsa. Sebagai pria normal, tentu saja sentuhan-sentuhan itu sukses memancing sesuatu milik Jeffsa yang tertidur pulas.


"Tidak bisakah menunggu sampai di rumah, Wi?" rutuk Jeffsa.


Jeff menelan ludah dengan kasar. Melirik kedepan untuk memastikan dua orang bawahannya tidak melihat apa yang baru saja Juwita lakukan. Jeff lalu menarik Juwita ke pelukannya dan mengekangnya agar tidak melakukan pergerakan liar lagi. Dengan cepat satu tangan Jeff yang kekar membungkam mulut Juwita, sementara satu tangannya yang lain memegangi tangan Juwita yang semakin merajalela. Sialny, sekarang bukan hanya Juwita saja yang on fire, tapi Jeff pun juga ikut-ikutan on fire.


"Berhenti!" perintah Jeffsa.


Dua pria yang sibuk dengan dunianya itu akhirnya menoleh. "Ada apa, Bos?" tanya sopir.


"Apa terjadi sesuatu dengan Nona? Haruskah kita ke rumah sakit sekarang?" tanya seorang pria yang duduk di samping sopir ketika melihat Jeff memegangi Juwita.


"Tidak ada apa-apa. Aku baru ingat aku harus pergi ke suatu tempat. Kalian turunlah dan bergabung dengan mobil lainnya," jawab Jeffsa.


Melihat wajah Jeff yang tegang dan kurang bersahabat, dua orang itupun segera turun. Lalu cepat-cepat menghubungi temannya untuk numpang di mobilnya tanpa protes. Sementara Jeffsa dia membiarkan Juwita duduk sendirian di belakang disaat dirinya mengemudikan mobil untuk mencari hotel terdekat. Karena jika harus menunggu sampai rumah, Juwita tidak bisa menahan selama itu.

__ADS_1


"Tunggulah sebentar, Wi!" kata Jeffsa.


Tapi Juwita sedang tidak bisa berkompromi saat ini. Karena tidak ada siapapun yang memeganginya, sebagian besar pakaiannya sudah terbuka. Juwita juga mulai menyentuh bagian-bagiannya sendiri dan mulai bersuara. Tentu saja hal itu membuat Jeff marah. Kali ini Jeff tidak lagi melanjutkan perjalanan ke arah hotel, melainkan memarkirkan mobilnya di jalanan buntu yang sepi.


"Kau ini punya suami. Kalau kau ingin dipuaskan, mintalah pada suamimu dan gunakan dia untuk memuaskanmu. Bukan malah menggunakan tanganmu sendiri seperti ini," omel Jeffsa sembari melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


Entah mengerti atau tidak, tapi Juwita langsung merespon omelan Jeffsa. Juwita yang nyaris rebahan bangkit, lalu menarik Jef dan terus menciuminya.


"Tolong! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" pinta Juwita dengan wajah sayu.


Tentu saja ajakan Juwita disambut baik oleh Jeffsa. Istrinya yang cantik dan seksi meminta jatah setelah satu tahun puasa. Siapa yang bisa menolaknya. Terlebih celana Jeff juga sudah sangat ketat akibat juniornya yang bangun karena ulah Juwita.


"Kau yang memintanya, Wi! Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi," kata Jeffsa.


Jeff membuka beberapa kancing yang tersisa. Tersenyum tipis melihat pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat. Wajah itu memang sedikit berubah. Tapi yang lainnya masih tetap sama. Bahkan semakin menggoda seolah melambai meminta Jeffsa segera menjamahnya.


"Sayang, aku datang!" kata Jeffsa.


"Mmh," rintih Juwita ketika Jeff memulai pertempuran kecil sebelum pertempuran besar mereka.


.


.


.


Dini hari tadi Jeff dan Juwita sudah kembali ke rumah. Dengan telaten Jeff mengurus Juwita. Sebisa mungkin membuatnya tetap tidur agar keesokan harinya bisa bangun dalam keadaan segar. Tapi Juwita seperti orang mati saja. Dia tidak kunjung bangun meskipun hari sudah pagi. Berbeda dengan Jeff yang sudah ganteng maksimal, dan siap pergi ke kantor. Entah lelah setelah bercinta semalam atau karena hal lainnya Jeff tidak tahu pasti. Tapi yang jelas Jeff sudah mengambil sebaskom air hangat untuk menyeka tubuh istrinya. Juwita yang merasa sentuhan kain hangat akhirnya bangun juga. Lalu mengambil jarak sejauh mungkin karena mengira sentuhan itu berasal dari pria hidung belang yang kemarin membawanya pergi.


"J-Jeff?" panggil Juwita ketika menyadari siapa yang ada di depannya.


"Jangan takut, ini aku!" kata Jeffsa.


"Kau yang menolongku kemarin?" tanya Juwita.


"Apa kau berharap ditolong orang lain?" tanya Jeff balik.


"Tidak, b-bukan begitu maksudku!" jawab Juwita. Juwita yang sebelumnya menjauh kembali mendekat. Tanpa ragu memeluk Jeffsa.

__ADS_1


Jeff tersenyum tipis. Lalu membalas pelukan istrinya lebih erat sehingga membuat Juwita tergencet di pelukannya.


"K-kemarin apa yang terjadi. Maksudku apa yang kau lihat saat kau datang?" tanya Juwita dengan rasa bersalah. Meskipun dirinya sudah baik-baik saja sekarang tapi dua tidak ingat dengan apa yang terjadi kemarin.


"Kau hanya pingsan!" jawab Jeffsa.


"L-lalu pria menjijikkan itu?" tanya Juwita lagi.


Lagi-lagi Jeff tersenyum. Lalu mengatakan yang sejujurnya. "Dia tidak melakukan apa-apa karena aku membunuhnya," jawab Jeffsa.


"Dia tidak melakukan apa-apa padaku sebelum kau membunuhnya kan?" tanya Juwita dengan memasang wajah harap-harap cemas.


"Tidak," jawab Jeffsa.


Juwita membuang nafas lega mendengar jawaban itu. Tapi meskipun begitu tetap saja kebenciannya terhadap orangtua Jeffsa semakin besar. Tidak cukup membuangnya, merusak wajahnya, mencari wanita lain untuk menggantikan posisinya. Mereka juga menjebaknya dengan cara yang hina seperti ini.


"Jeff, aku-,"


"Kenapa?" tanya Jeffsa saat Juwita menggantung ucapannya.


"Apa kau tahu siapa yang merencanakan semua ini?" tanya Juwita.


"Aku tahu," jawab Jeffsa.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Juwita.


"Memangnya apalagi. Tentu saja membalasnya. Tapi bisakah nanti saja membalasnya. Maksudku, tolong lepaskan aku dulu," jawab Jeffsa.


"Tidak mau!" tolak Juwita.


Bukannya melepaskan, Juwita semakin memeluk Jeffsa lebih kuat. Lalu mencium harum dan hangat tubuh Jeffsa yang selalu Juwita rindukan. Ulah Juwita baru berhenti ketika Jeff membisikkan sesuatu ke telinganya lengkap dengan sebuah tawaran yang membuat bulu kuduk Juwita meremang.


"Apa kau mau memperkosaku lagi seperti semalam? Aku tidak keberatan jika kau masih belum puas dengan pelayananku semalam," bisik Jeffsa dengan menyelipkan sebuah tiupan.


...*** ...


...***...

__ADS_1


__ADS_2