
Sudah beberapa hari setelah kejadian malam itu. Baik itu Juwita, Bubu, Anggara maupun Sadewa semuanya sudah keluar dari rumah sakit. Saat ini Anggara langsung meluncur ke rumah mamanya untuk membuat sebuah kesepakatan. Di ruangan besar itu mereka tidak hanya berdua karena kembar Anggita dan Anggika juga ada disana.
"Anggara, akhirnya kau pulang juga, Nak?" sambut Mama Reta.
Pagi harinya setelah malam yang penuh darah itu, Mama Reta kaget begitu tahu Anggara menjadi korban pengeroyokan oleh orang suruhannya sendiri. Bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa Anggara adalah anak kesayangannya. Jadi, saat tahu Anggara terluka dia segera bergegas menemui Anggara. Sayangnya gagal karena Anggara menolak untuk bertemu. Hanya Anggita dan Anggika yang sempat bertemu dengan Anggara saat itu meskipun keduanya harus pulang dengan emosi meluap karena kakaknya memberikannya dua buah tamparan sebagai hadiah.
Karena Anggara sudah berdiri di depannya sekarang, maka Mama Reta tidak perlu membuang waktu lagi untuk segera meminta maaf.
"Sayang, maafkan mama. Mama tidak menyangka akan seperti ini," kata Mama Reta dan memeriksa luka yang Anggara dapat.
Mama Reta segera memeluk Anggara. Bagaimana perasaannya saat ini tidak bisa dibohongi karena pancaran kekhawatiran itu terlihat sangat jelas. Bahkan Anggita dan Anggika langsung pergi setelah melihat sikap ibunya yang dinilai terlalu berlebihan.
Sementara itu, Anggara membiarkan saja saat mamanya memeluknya. Anggara tahu mamanya sangat menyayanginya hanya saja sering melakukan hal yang salah. Bahkan seringkali menghalalkan segala cara agar semua hal terjadi sesuai dengan keinginannya.
"Kenapa mama melakukannya?" tanya Anggara sembari melepaskan pelukan ibunya. Kali ini saja, Anggara akan bersikap lembut. Dia tidak ingin menggunakan cara kekerasan atau teriakan kasar agar mamanya mengerti.
"Karena mama tidak menyukai Juwita," jawab Mama Reta.
Anggara menarik nafasnya dalam-dalam, dia tahu jawabannya pasti akan seperti ini. Karena sepertinya tidak ada kemungkinan untuk membuat mamanya menyukai Juwita, akhirnya Anggara memegang dua tangan mamanya dan menyampaikan satu permintaan terakhirnya.
"Ma, mama sayang Gara bukan?" tanya Anggara dengan tatapan tulus.
"Apa yang sedang kau katakan Gara. Tentu saja mama sayang," jawab Mama Reta.
"Lalu bagaimana dengan Juwita. Apa mama masih membencinya?" tanya Anggara untuk memastikan.
Mama Reta tidak menjawab pertanyaan itu. Dia sangat ingin menjawab tidak tapi takut Anggara semakin membencinya jika mengatakan itu. Mama Reta segera melepaskan tangan Anggara, berpaling dari Anggara untuk menenangkan perang batin di dalam hatinya. Wanita tua itu memukul-mukul dadanya sendiri. Dari sudut manapun, dia tidak melihat hal spesial yang dimiliki Juwita.
Dia hanya anak orang miskin yang menyedihkan, jadi kenapa Anggara harus menyukainya. Sampai kapanpun, Mama Reta tidak akan pernah rela. Tidak akan pernah sedikitpun.
Anggara yang berdiri di belakang mamanya cukup tahu diri. Dia tahu mamanya masih tidak bisa menerima Juwita meskipun tidak mengatakannya lewat kata-kata. Jadi Anggara memeluk wanita itu dari belakang dan menenangkannya.
"Ma, Anggara tahu salah. Sekarang Anggara sudah tidak ingin menikah dengan Juwita lagi. Jadi bisakah nama berjanji untuk tidak melakukan hal seperti malam itu lagi?" tanya Anggara.
__ADS_1
"Gara, k-kamu serius?" tanya Mama Reta.
"Serius, jadi bisakah mama berjanji untuk tidak mencelakai Juwita dan menepati janji mama?" tanya Anggara.
"Mama janji. Mama tidak akan seperti itu lagi," janji Mama dengan wajah berbinar.
"Terimakasih, Ma!" kata Anggara.
"Tapi mama akan tetap mengajukan pembatalan adopsi itu. Mama tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan anak itu," lanjut Mama Reta.
"Ajukan saja," jawab Anggara.
Anggara tersenyum tipis. Memangnya kenapa kalau pembatalan adopsi itu tetap diajukan? Bukankah itu hanya diatas kertas? Karena sebenarnya hubungan adik dan kakak diantara mereka yang sesungguhnya baru akan dimulai sekarang.
Anggara membuang nafasnya, sedikit lega karena setidaknya Juwita aman untuk saat ini. Hanya sementara saja, karena seperti yang sudah Jeff ceritakan padanya terakhir kali, sesuatu yang gawat mungkin akan terjadi meskipun tidak tahu entah kapan.
"Untung saja masih ada kakekmu yang berpihak kepadamu, Jeff! Karena kalau tidak kita semua akan habis," batin Anggara.
.
.
.
Itu masih belum cukup karena Jeff masih punya satu tugas lainnya yang belum terselesaikan, yaitu memangkas tanaman yang berfungsi sebagai pagar rumah dengan diawasi secara langsung oleh Bubu.
"Bagaimana rasanya patah tulang Bang?" tanya Jeff sembari melirik satu kaki yang penuh perban dan satu tangan yang diberi penyangga karena patah tulang.
"Lumayan," jawab Bubu singkat.
"Lumayan sakit?" tanya Jeff lagi.
"Lumayan enak. Setidaknya aku terbebas dari tugas negaraku," jawab Bubu.
__ADS_1
Bubu yang duduk di kursi roda itu terkekeh. Tentu saja maksudnya adalah menyindir Jeff yang harus melakukan semua pekerjaan yang seharusnya dia lakukan. Kalau Bubu pikir-pikir, kehidupannya setelah patah tulang sepertinya lebih menyenangkan. Selain istrinya yang semakin perhatian dan sayang padanya, kelima anaknya juga menjadi lebih penurut.
Lebih menyenangkan lagi ketika mengingat Jeff menjadi lebih mudah untuk disuruh-suruh. Kapan lagi punya kesempatan untuk memberikan sedikit pelajaran kepada menantu durhakanya itu kan?
Selain mudah disuruh-suruh, Jeff juga sempat memberikan sejumlah uang kepada Bubu secara pribadi. Mungkin Jeff sadar Bubu menjadi seperti ini karena melindungi Juwita. Jadi dia memberikan uang semacam bentuk kompensasi atau permainan maaf. Tapi apapun itu Bubu tidak peduli, meskipun dia tidak butuh uang karena uangnya sendiri lebih dari cukup, Bubu tetap menerimanya karena menganggap uang itu sebagai bakti seorang menantu kepada mertuanya.
Toh uangnya juga akan pergi ke Juwita karena Bubu berencana membelikan lebih banyak baju dan keperluan lainnya untuk Juwita. Bahkan dia juga sudah menambahkan perlengkapan bayi di list belanja rahasianya.
"Bang, tertawa apa?" tanya Jeff saat melihat Bubu tersenyum sendirian.
"Bukan apa-apa," jawab Bubu.
"Bang, Bang Bubu aneh akhir-akhir ini. Jangan-jangan Bang Bubu mau mati," kata Jeffsa.
Saat ini Jeff sudah duduk tidak jauh dari tempat Bubu. Maklum, pekerjaannya memangkas tanaman baru saja selesai. Jadi dia menepi untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Tapi harus tersedak karena Bubu memukulnya menggunakan sapu lidi yang biasanya digunakan untuk memukul lalat.
"Mati kepalamu! Bang Bubu kan belum punya cucu, mana bisa mati," protes Bubu.
"Bang, pamali!" teriak Jeffsa saat menyadari benda apa yang digunakan Bubu untuk memukulnya.
Bubu baru berhenti ketika mengingat satu celah kelemahan Jeffsa. Senyum itu mengembang sempurna, lalu segera menarik baju Jeff agar lebih mendekat. "Jeff, katanya jagoan. Tapi kok Juwita belum hamil juga?" tanya Bubu dengan memainkan alisnya.
"Bang, tetangga sebelah sudah mati duluan. Tapi kok Bang Bubu belum nyusul-nyusul juga?" jawab Jeff yang berakhir dengan sebuah timpukan bertubi-tubi.
Jeff yang kesabarannya makin menipis langsung bangkit. Memukuli Bubu berkali-kali sebelum menjelaskan situasi yang sebenarnya. "Bang, anak angkat kesayanganmu itu masih perawan. Jadi bagaimana mungkin bisa hamil?" ucap Jeff gemas.
"Masih p-perawan?" tanya Bubu selagi menghalangi pukulan Jeff menggunakan tangannya yang sehat.
Bubu langsung diam seketika. Bukannya meragukan ucapan Jeffsa, hanya saja Bubu merasa pengorbanannya demi melindungi Juwita sampai babak belur seperti ini tidak sia-sia. Selain itu, Bubu juga sangat bersyukur karena Sadewa dan Anggara juga datang menolong. Karena kalau tidak, penjahat itu pasti sudah merusak mahkota anak angkat kesayangannya.
Bubu segera menyudahi intermezzonya, lalu memukuli Jeff sekali lagi tanpa Jeff tahu apa kesalahannya.
"Bang, Jeff salah apa lagi?" tanya Jeff putus asa.
__ADS_1
"Jeff, bayangkan Juwita adalah sebuah gawang dalam permainan sepakbola dan kau pemainnya. Jadi kapan kau akan mencetak gol? Tahu tidak, kalau ada kejadian seperti kemarin aku tidak bisa melindunginya lagi karena kondisiku seperti ini. Kalau mahkota anakku rusak, setidaknya itu dirusak oleh menantu kurang ajar seperti dirimu. Bukannya dirusak oleh penjahat. Apa kau mengerti?" jelas Bubu dengan menoyor kepala Jeffsa.
...***...