Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 28 Pengakuan Jeff


__ADS_3

"Jadi kemana Juwita pergi?" tanya Sadewa setelah Melodi pulang.


"Kau tahu dia akan kemari?" sahut Jeffsa.


"Tentu saja aku tahu. Dia tidak mungkin masuk jika ada Melodi. Untuk itu kau mengusirnya kan?" jawab Sadewa.


Jeff tersenyum sembari mengalihkan pandangannya. Mengagumi tebakan Sadewa yang selalu tepat. Mungkin, jika Melodi itu tidak hamil duluan Sadewa benar-benar akan menikahi Juwita. "Tadi di kamar Bubu, sekarang di kamar Anggara. Apa kau mau kesana sekalian reuni keluarga?" tawar Jeffsa.


"Aku ingin kesana tapi tidak sekarang," tolak Sadewa.


"Kau ingin memberikan waktu pada mereka untuk berduaan?" tanya Jeffsa.


Kini giliran Sadewa yang tersenyum karena tebakan Jeff juga tepat. Banyak tahun Juwita dan Anggara menyandang status sebagai kakak dan adik angkat. Tapi selama itu pula tidak ada interaksi layaknya saudara. Karena Anggara sudah menyesal dan menunjukkan keseriusannya, maka Sadewa akan memberikan lebih banyak waktu bagi untuk mereka dan berharap hubungan yang buruk itu masih bisa diperbaiki.


"Jeff, tolong pijat kakiku!" kata Sadewa mengalihkan pembicaraan.


"Aku bukan tukang pijat!" tolak Jeff mentah-mentah kemudian pergi menuju jendela. Pria yang sebenarnya sedikit kalut itu mencari pemandangan indah yang mungkin tersaji sembari memikirkan kehidupan rumah tangganya bersama Juwita yang pasti sulit dimasa depan.


"Tapi kau termasuk adik iparku. Apa kau tidak ingin sedikit berbakti padaku?" tanya Sadewa.


Jeff yang sempat menjauh kembali mendekat. Tapi bukan untuk menanggapi ocehan Sadewa ataupun memijat. "Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," kata Jeff sembari merubah ekspresinya lebih serius.


"Katakan saja," kata Sadewa. Sama seperti Jeff, Sadewa juga sudah mulai serius sekarang.


"Apa kau tahu Firman Zane?" tanya Jeff santai. Tapi ucapan santai itu membuatnya mendapatkan pukulan dari Sadewa.


"Apa nama orang besar seperti beliau bisa kau sebut begitu saja? Jeff, jaga mulutmu kalau tidak ingin lidahmu di potong!" kata Sadewa memperingatkan.


"Sadewa, jika itu orang lain mereka pantas takut. Tapi aku tidak perlu takut karena aku ini cucunya," kata Jeffsa.


Jeff sudah menganggap Sadewa sebagai kerabatnya. Jadi tidak perlu menyembunyikan identitasnya lagi dari Sadewa. Karena jujur saja Jeff tidak tahu bagaimana rumitnya nanti. Tapi yang pasti Jeff membutuhkan orang yang benar-benar dia percaya untuk menjaga Juwita. Hanya untuk berjaga-jaga saja, karena jika sampai nenek dan orangtuanya sudah bertindak semua teman dan tetangganya saja masih belum cukup. Jeff juga sudah berencana memberitahu Anggara setelah ini.


"Kau serius, Jeff?" tanya Sadewa.


Sadewa tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang ini. Tapi yang jelas pengakuan Jeff membuatnya sedikit cemas. Bukan cemas karena sudah meminta Jeff memijat kakinya, tapi lebih mencemaskan Juwita.


"Aku serius," jawab Jeffsa dengan menundukkan kepalanya.


Jeff akhirnya menceritakan semuanya pada Sadewa. Dari awal hingga akhir tanpa ada satupun yang terlewat. Jeff yang kabur dari rumah, Jeff yang dicari-cari tapi dilindungi kakeknya, Jeff yang berjuang mencari sesuap nasi sendiri dan masih banyak lagi sampai pertemuannya dengan Juwita hari itu.


"Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantumu?" tanya Sadewa setelah mengerti garis besar masalah yang dihadapi Jeffsa.

__ADS_1


"Saat ini tidak ada," jawab Jeffsa.


"Tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu," lanjut Sadewa.


"Ini karena Juwi. Aku ingin memberikan kehidupan yang tenang dan nyaman untuknya. Untuk itu aku belum berani mengatakan apapun karena aku takut itu akan membuatnya terbebani. Tapi kalau aku tidak bercerita, aku takut dia akan marah dan membenciku lalu meninggalkanku," terang Jeffsa.


"Jeff, apa kau benar-benar jatuh cinta dengan adikku?" tanya Sadewa.


Jeff memukul kasar bagian luka Sadewa yang diperban. Tapi ekspresi yang ditunjukkan Jeff malah membuat Sadewa terbahak-bahak.


"Pertanyaan macam apa itu, Sadewa? Tentu saja aku jatuh cinta padanya, kalau tidak kenapa juga aku harus memusingkan masalah ini," protes Jeffsa.


"Jeff, Juwita itu setia. Kalau kau tidak ingin kehilangannya, maka kau hanya perlu berkata jujur dan mendapatkan cintanya," kata Sadewa memberi solusi.


"Apa kau bisa dipercaya?" tanya Jeffsa.


"Tentu saja bisa. Jeff, apa kau lupa sebelum menikah denganmu dia pernah mencintaiku," jawab Sadewa.


Salah satu bibir Jeff terangkat mendengar jawaban Sadewa. Soal itu Jeff juga sudah tahu, tapi bisakah jika Sadewa tidak mengungkitnya lagi?


"Kau pasti sengaja mengatakannya kan?" tanya Jeff dengan melemparkan bantal kearah Sadewa. Tapi tidak mengenai sasaran karena Sadewa sudah lebih dulu bangkit untuk pergi ke ruangan Anggara.


.


.


.


"Dia asisten pribadi Pak Anggara. Dia sudah ada sejak semalam," jawab suster kemudian pergi setelah Juwita mengucap terimakasih.


Juwita sempat ragu, terlebih saat melihat wanita itu menangis dan buru-buru mengelap air matanya. Cukup lama Juwita menunggu sebelum memberanikan diri untuk masuk karena ingin melihat keadaan Anggara.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Juwita kepada gadis yang baru saja menyiapkan air hangat dan kain untuk membasuh Anggara.


Gadis itu segera menoleh, lalu segera menyambut Juwita dengan sopan. Wajah yang cantik, senyum yang tulus. Entah kenapa Juwita menyukainya meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Oh, sama sekali tidak. Apa namamu Juwita?" jawab gadis itu.


"Kau tahu namaku?" tanya Juwita dengan ekspresi kaget. Seharusnya ini pertemuan pertama mereka, apa Juwita salah ingat?


"Pak Anggara sering menceritakan semua tentangmu. Namaku Prita, senang berkenalan denganmu," jawab Prita.

__ADS_1


"Menceritakan tentangku?" tanya Juwi. Tapi dijawab hanya dengan senyuman oleh Prita.


Prita geser, lalu mengambil tasnya sebelum berpamitan. "Kau ingin melihatnya kan? Kalau begitu aku permisi."


Prita sempat tersenyum dan menunduk. Tapi langkah kakinya terhenti karena pertanyaan Juwita. "Apa kau menyukai kakakku?" tanya Juwita.


"Apa?" tanya Prita.


"Prita, kau mencintai kakakku kan?" ulang Juwita sembari menunjuk Anggara yang masih menutup mata.


"Aku membantainya tapi dia mencintaimu. Sangat mencintaimu sampai terpikir untuk memutuskan hubungan keluarga dengan orangtuanya demi dirimu," jawab Prita.


Dunia Juwita sempat berhenti sejenak. Apa yang baru saja Prita katakan. Apa dia sadar dengan apa yang dia ucapkan. Apa ini benar, tapi bagaimana mungkin bukankah Anggara membencinya selama ini.


"Jangan bercanda. Dia sangat membenciku. Dia bahkan tidak pernah melihatku sebelumnya," kata Juwita.


"Tapi aku tidak bercanda. Alasan dia membencimu, karena dia tidak suka kau jadi adiknya. Dia tidak pernah membencimu, sama sekali tidak pernah. Baiklah, aku akan keluar sekarang!" pamit Prita.


Prita segera keluar dari ruangan Anggara. Sementara Juwita segera duduk dan melihat luka yang Anggara dapat karena melindunginya. Untuk sejenak, Juwita berpikir. Bagaimana bisa pria yang dia benci selama ini menyukainya. Inikah alasan Anggara membencinya saat dia memanggilnya dengan sebutan kakak?


Jujur Juwita mulai semakin bersimpati. Dia pernah mengalami bagaimana rasanya mencintai tapi tidak bisa memiliki dan itu sangat menyakitkan. Tapi siapa yang mengira Anggara juga mengalami hal yang sama dibalik sikapnya yang dingin? Berapa banyak rasa sakit yang dia terima karena terjebak dalam situasi seperti itu dan tidak pernah bisa mengungkapkannya?


"Apa yang dikatakan Prita benar, Kak? Maafkan aku, Kakak!" kata Juwita setelah beberapa saat termenung di tempatnya.


Juwita menarik nafas panjang dan mengambil kain di ember tadi. Lalu melanjutkan pekerjaan Prita yang tertunda dan menyeka bagian-bagian yang bisa dia seka. Terkadang tersenyum, terkadang menahan air matanya agar tidak tumpah. Tapi Juwita harus canggung karena sentuhan air hangat di kulit Anggara membuatnya terbangun.


"Juwita?" panggil Anggara.


"Kau sudah bangun, Kak?" tanya dengan memasang wajah ceria.


Anggara tersenyum, sudah sangat lama dia tidak melihat Juwita tersenyum hangat kepadanya seperti ini. Sudah lama juga mereka tidak bertegur sapa. Selama bertahun-tahun, Anggara selalu membenci sebutan kakak yang sempat Juwita sematkan di pertemuan pertama mereka. Tapi sebutan kakak itu, kenapa sekarang sangat menyenangkan?


"Apa kau baik-baik saja, Wi?" tanya Anggara.


"Aku tidak baik-baik saja," jawab Juwita.


"Apa, mana yang sakit. Kenapa masih kemari kalau kau tidak baik-baik saja. Ayo, kakak akan mengantarmu kembali ke ruanganmu dan memanggil Dokter," kata Anggara panik. Pria itu segera bangkit. Melupakan rasa sakitnya sendiri dan lebih mengutamakan Juwita.


"Tapi aku tidak butuh Dokter," tolak Juwita.


"Juwita?" ucap Anggara. Bukankah Juwita bilang dia tidak baik-baik saja. Tapi kenapa menolak memanggil dokter? Bagaimana jika terjadi sesuatu, bagaimana jika ada yang salah karena kejadian kemarin?

__ADS_1


"Aku hanya ingin dipeluk kakak, Apa boleh?" tanya Juwita.


...***...


__ADS_2