
Hari telah petang. Seperti biasa Lea meyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan juga suaminya.
Meskipun dia sakit hati, tapi dia tidak mau di bilang sama buruknya dengan membalas keburukan sang suami dengan keburukan yang serupa.
Ibarat Raul telah memberi kobaran api yang panas, Lea berharap bisa menjadi air yang memadamkan dan menyejukkan. Bukan sama sama menjadi api yang sama panasnya dan akhirnya akan membakar diri mereka masing masing.
Raul tiba ketika makanan sudah terhidang di meja, namun kali ini sepertinya Lea harus menerima perlakuan tidak baik lagi karena wajah Raul nampak nampak begitu kesal.
Tapi dengan sekuat hati Lea berusaha untuk lebih tenang menghadapi sikap Raul dan agar dirinya tidak terbakar dengan kata kata kasarnya.
Raul berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Lea, dia masuk ke kamarnya dengan menutup pintu dengan kasar.
Brakkh,
Lea terkejut lalu mengelus dadanya sambil beristighfar. Tak mau berlama lama meratapi perlakuan suaminya yang selalu kasar, Lea segera masuk ke kamar dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat magrib.
Sejak waktu itu Raul lebih sering membisu. Walaupun bagi telinga lebih tenang karena tidak menerima ucapan kasar, namun tetap saja sikap Raul tidak bisa lembut dan sengaja menunjukkan sikap kasarnya di depan Lea.
Tiga hari sudah berlalu, malam itu di rumah Raul kedatangan tamu. Dan setelah Raul membuka pintu, rupanya yang datang adalah asisten kakek Seno yang membawa kabar bahwa sang kakek sedang sakit parah dan di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa nggak mati aja sekalian tuh pak tua?" gerutu Raul dalam hati.
"Kakek meminta Tuan dan non Lea untuk menemui beliau di rumah sakit" ucap wanita paruh baya itu.
"Kamu bilang sendiri saja ke kamarnya, aku malam ini sedang sibuk!" jawab Raul lalu malah pergi dengan membawa mobilnya.
Lea keluar kamar ketika mendengar suara percakapan di luar , dan dia segera bersiap siap ke rumah sakit ketika wanita itu memberi kabar tentang kondisi kakek Seno.
Sesampainya di rumah sakit Lea duduk di sebelah sang kakek yang kondisinya semakin memburuk.
Kakek Seno membuka mata ketika melihat kehadiran Lea. Meski sangat lemah, tapi penglihatan dan pendengaran beliau masih sangat tajam.
"Lea, kakek titip Raul sama kamu ya. Kakek mohon kamu jangan pernah meninggalkannya, karena hanya kamu yang suatu saat mampu menunjukkan arah untuk cucu kakek ke jalan yang benar" ucap kakek Seno dengan meneteskan air mata.
"Kakek sudah gagal mendidik Raul, semoga dengan keputusan kakek menitipkan Raul kepadamu akan meringankan beban kakek di akhirat kelak"
Lea memejamkan mata mendengar menelaah ucapan kakek Seno, tanpa dia sadari bersamanya waktu matanya terpejam, Kakek Seno pun juga turut memejamkan mata untuk selamanya.
"Innalillahi wainna ilaihiroji'un"
__ADS_1
Kakek Seno di nyatakan meninggal dunia malam itu.
Lea sangat terpukul, harapannya untuk mencurahkan segala beban di hatinya telah kandas dan yang ada dia malah memikul beban yang lebih berat dengan mengemban amanat dari Kakek Seno.
Dada Lea terasa sesak, namun sekali lagi dia harus tetap berusaha menguatkan hati dan jiwanya.
Malam itu juga jenazah kakek Seno telah di pulangkan di rumah duka. Raul cucu semata wayangnya bahkan hanya menanggapi dengan santai mendengar kabar kematian sang kakek.
Di tengah duka yang menyelimuti, Lea sedikit bahagia karena pada momen itu dia bertemu dengan abah dan adiknya karena mereka datang untuk melayat.
Mereka saling berpelukan dan berusaha menghibur Lea. Tangis Lea yang sebenarnya lebih dia tujukan untuk perlakuan suaminya, sama sekali tidak terbaca oleh abah dan adiknya karena mereka kira Lea bersedih karena kakek Seno telah berpulang.
Walaupun tidak bisa mengungkapkan isi hati yang sebenarnya, namun hati Lea sedikit lega karena bisa meluapkan tangisnya di pelukan orang yang menyayanginya. Tentunya semua kerabat dan tetangga yang datang juga memberi support kepada Lea.
"Yang sabar ya nak Lea, kamu pasti mampu melewati semua ini dan pasti mampu menjadi istri yang baik untuk Raul"
Hampir semua pelayat mengucapkan hal yang sama, karena mereka semua sudah tahu bagaimana kelakuan Raul sebelum menikah dengan Lea.
Ucapan ucapan yang datang dari orang orang yang datang untuk melayat itu sedikit menjadi kekuatan bagi Lea ,meski mereka tidak sepenuhnya tahu bagaimana perasaan Lea sesungguhnya.
__ADS_1
Rencananya jenazah kakek Seno akan di kebumikan besok pagi sehingga malam itu Lea meminta abah dan adiknya untuk menginap di rumah tempat kakek Seno tinggal, sementara Raul memilih untuk pulang ke rumah nya sendiri malam itu.
Tidak ada yang berani mengusik atau menasehati Raul, karena mereka berpikir saat itu pasti pria itu sedang berbela sungkawa atas meninggalnya sang kakek. Namun rupanya salah besar, Raul justru semakin bebas bergerak dan merasa lebih tenang dengan kepergian sang kakek.