Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Hentikan


__ADS_3

Tak mau kecewa karena ucapan yang sempat membuatnya melayang, Lea memilih untuk mengangguk datar.


Raul berjalan menuju kamarnya, dan kini ganti Siska yang masuk ke dapur menemui Lea.


"Awas jika kamu berani mengadukan hal macam macam kepada Raul ! Kamu masih ingat ucapanku kemaren kan?" kata Siska tepat di telinga Lea.


Bukannya mengangguk, Lea malah menoleh ke arah Siska dan menatapnya. Satu tatapan misteri bagi Siska, apakah itu suatu tanda perlawanan? yang jelas hal itu mampu membuat Siska sedikit menciut karena sebenarnya Siska juga menyadari bahwa Raul adalah suami Lea.


Wanita itu masuk ke kamar menyusul Raul, dan di dalam sempat terjadi cekcok.


"Kenapa kamu mengacuhkan ku?" tanya Siska.


"Bukannya kamu yang lebih dulu mengacuhkan aku?" sahut Raul.


"Bukannya aku mengacuhkan, tapi aku hanya nggak mau aja kamu menganggap aku seperti pembantumu. Aku maunya di ratukan di istanaku. Maksudku calon istanaku!" jawab Siska yang sedikit grogi mengingat siapa dirinya.


Raul memilih diam, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Siska dengan wajah kesal keluar kamar. Setelah duduk di Sofa, Siska memanggil Lea yang kebetulan sedang lewat di belakangnya.


" Eh, sini kamu!" panggil Siska.

__ADS_1


Lea berhenti dan mendengar apa yang akan di ucapkan wanita itu.


"Pijitin dong, pundak aku pegal semua!" titah Siska tanpa dosa.


Lea masih terdiam terpaku, namun dia segera menjalankan perintah wanita itu setelah mendengar sesuatu.


"Nggak mau? oke malam ini juga aku akan bayar orang buat meneror keluarga kamu!" gertak Siska sambil mulai meraih ponselnya dan membuka bagian kontak nama tanda akan menghubungi seseorang.


Tak mau hal buruk terjadi kepada keluarganya, Lea memilih untuk menurut lalu memijat pundak Siska.


"Apa yang kamu lakukan?" pertanyaan Raul mengagetkan keduanya.


"Apaan sih sayang? lagian dia sendiri kok yang nawarin? iya kan Lea?" Siska membalikkan fakta.


"Terserah ! Aku tidak peduli siapa yang meminta, aku hanya nggak suka melihatnya!" tegas Raul.


Siska merasa kesal karena dua kali Raul bersikap kasar kepadanya.


"Masuklah ke kamarmu!" kata Raul dengan nada datar kepada Lea.


Lea pun menurut apa kata suaminya dengan hati berbunga bunga. Tak henti hentinya dia mengucap syukur atas sedikit perubahan pada suaminya.

__ADS_1


Malam itu pun Siska dan Raul sedikit berselisih hingga tiba keesokkan harinya.


Hari itu adalah hari minggu, Raul sedang libur tidak ke kantor.


Dia ingin bermalas malasan di rumah dan tidak ada acara keluar rumah. Padahal biasanya pria itu punya segudang jadwal untuk keluar.


Pukul delapan pagi dia keluar kamar, dan belum juga dia menikmati sarapan namun sudah di suguhkan dengan pemandangan tidak menarik.


Lea sedang memotong kuku di jemari kaki Siska. Sudah bagaikan tuan putri kerajaan yang menyuruh dayangnya.


Hati Raul tiba tiba bergetar melihat Lea di perlakukan seperti itu dan menurut saja. Padahal tidak Raul ketahui bahwa Siska selalu mengancamnya.


Tak mau mengulur waktu, Raul segera menghampiri keduanya.


"Hentikan, aku tidak suka kamu memperlakukan Lea seperti itu!"


Siska kembali naik pitam.


"Cukup, berhenti membela dia atau aku akan pergi!" ancam Siska.


Bukannya merayu Siska yang merajuk, Raul justru berjalan ke meja makan sebelum nafsu makannya hilang meladeni Siska.

__ADS_1


__ADS_2