Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Sholat


__ADS_3

"Abah, sudah Abah. Istighfar," Lea berusaha menenangkan abahnya.


"Astaghfirullahaladzim," berkali kali Abah Jefri melafalkan kalimat tersebut untuk menenangkan hatinya.


"Saya benar benar minta maaf, tolong beri saya kesempatan untuk menunjukkan perubahan sikap saya kepada Lea," Raul memohon kepada mertuanya.


Abah Jefri masih terdiam tidak menjawab hingga beberapa menit, lalu Lea lah yang berusaha meluluhkan hati abahnya.


"Abah, jangan sampai kita menjadi golongan orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Jika orang lain menjadi berdosa karena kesalahannya kepada kita, maka kita jangan sampai ikut mengukir dosa juga dengan tidak memaafkan kesalahan mereka," tutur Lea.


"Beri Abah waktu, Insya allah Abah bisa memaafkan tapi untuk memberi kesempatan lagi rasanya Abah harus berpikir ulang," jawab Abah Jefri.


Semua terdiam hingga beberapa waktu dalam kekalutannya masing masing.


"Jika kamu benar benar ingin memperbaiki sikapmu, maka tunggulah beberapa waktu. Tenangkan pikiran kamu, renungkan kesalahanmu dan perbaiki sikapmu. Tapi selama proses itu semua ,biarkan Lea tinggal bersama Abah. Jika memang kamu benar benar berubah dan benar benar layak untuk mendampingi Lea, Abah pasti melepaskannya kembali," keputusan Abah Jefri sudah bulat.


Dengan keputusan yang beliau ambil, beliau berharap Raul benar benar bisa menata hati dan berpikir lebih jernih.

__ADS_1


"Terima kasih Abah, aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang Abah berikan," jawab Raul.


Setelah suasana sempat memanas, akhirnya berakhir damai. Abah berkunjung selama kurang lebih tiga jam, setelah itu beliau izin pamit karena masih ada keperluan.


"Abah pulang dulu, tolong jaga Lea. Tunjukkan keseriusan mu jika kamu ingin secepatnya membawa istrimu pulang ke rumahmu," pesan Abah Jefri kepada menantunya.


"Baik Bah, akan saya buktikan," jawab Raul.


"Ya sudah, Abah pulang dulu nak. Kamu banyak istirahat agar cepat sembuh. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," Raul mengantar mertuanya hingga keluar ruangan lalu dia kembali lagi ke dalam untuk selalu menemani istrinya.


"Iya, aku istirahat di sini saja," jawab Raul sambil merebahkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari Lea.


Mata Raul sempat terpejam beberapa waktu, hingga akhirnya dia terbangun ketika waktunya sholat magrib.


Dia dapati istrinya sedang sholat sambil duduk . Raul memperhatikan dari tempatnya duduk. Sholat, adalah satu kegiatan yang entah kapan terakhir dia melaksanakannya. Mungkin waktu dia duduk di bangku sekolah, itu pun ketika praktik sholat dalam mata pelajaran agama.

__ADS_1


Usai Lea sholat, Raul mendekatinya.


"Kamu tetap sholat meski sedang sakit?," tanya Raul dan Lea pun kemudian mengangguk dengan senyum.


"Bagaimana kamu bisa menjadi wanita yang kuat?" tanya Raul lagi.


"Karena sholat," jawab Lea singkat.


"Aku tidak pernah melakukannya," ucap Raul sambil menundukkan kepala.


"Lakukanlah sekarang juga," sahut Lea.


Raul menggeleng,


"Aku terlalu kotor," jawabnya.


"Bersihkan. Tubuh kita ibarat sebuah baju yang setiap hari bisa terkena kotoran dan debu, kita tidak bisa lepas dari hal itu. Yang bisa kita lakukan hanyalah membersihkan lalu menjaganya. Kita cuci, kita simpan dengan baik lalu di kenakan lagi dalam keadaan bersih. Sama halnya dengan diri kita. Semua manusia pernah melakukan dosa, bedanya hanya jumlahnya. Ada yang banyak atau sedikit, sering atau tidak, dan besar atau kecil. Jadi tugas kita setiap hari adalah membersihkan diri kita dari dosa. Dosa kita yang sengaja atau pun tidak. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan sholat," kalimat panjang yang Lea sampaikan mampu menembus dinding hati Raul yang begitu keras.

__ADS_1


"Ajari aku, tuntunlah aku. Bawalah aku ke jalan yang benar," pinta Raul dengan penuh harap kepada istrinya.


__ADS_2