
Keesokkan hari Raul bangun dengan tubuh yang lebih bugar. Dia keluar kamar dan melihat sudah ada makanan di meja di jam yang masih sangat pagi.
"Itu perempuan nggak pernah tidur kali ya? jam segini udah selesai masak?" tanya Raul dalam hati.
Pria itu menoleh kesana kemari namun tidak menemukan sosok Lea,
"Ngapain juga aku nyariin dia?" gerutunya dalam hati.
Dia segera duduk dan menyantap makanan yang ada di meja. Dan ketika Raul sedang makan, terdengar Lea membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Melihat sang suami sudah berada di meja makan, Lea segera berbalik arah dan kembali masuk ke dalam kamar.
Rupanya dia mengambil satu suplemen untuk sang suami agar tubuhnya benar benar kembali pulih pasca demam tadi malam.
Meski Lea sendiri sampai saat itu tidak tahu apakah demam Raul sudah reda atau belum, tapi dia bisa menerka lewat raut wajah suaminya dan cara duduknya yang lebih fit dari tadi malam. Dan hal itu menandakan kondisinya pasti sudah membaik.
Lea kembali keluar kamar dan menghampiri Raul di meja makan. Dia menyodorkan satu pil untuk Raul minum.
Namun bukannya menerima, Raul malah menepis tangan Lea dan alhasil pil tersebut terlempar entah kemana. Karena bentuknya yang sangat kecil membuat Lea susah untuk mengetahui dimana jatuhnya pil tersebut.
__ADS_1
"Nggak usah sok perhatian, kamu pikir aku akan mengurungkan niatku untuk bercerai dari kamu jika kamu sudah merasa menyembuhkan ku? Tidak ! Itu salah besar, aku memang tidak bisa menceraikan kamu, tapi kita bisa bercerai jika kamu yang memintanya. Jadi akan aku buat kamu sendiri yang meminta perceraian itu !" ucap Raul sambil berdiri dan meninggalkan Lea yang masih terpaku mendengar ucapannya.
Air mata Lea kembai menetes dengan derasnya. Berkali kali hatinya hancur karena ucapan dan perlakuan menyakitkan dari suaminya. Namun kali ini sepertinya Lea sudah benar benar tidak tahan.
Di usia pernikahannya yang masih seumur jagung, sepertinya Lea tidak mampu untuk bertahan.
Lea lari ke kamar dan menumpahkan kepedihannya di sana. Ruangan yang selalu menjadi saksi dari setiap luka yang dia toreh.
Dengan susah payah dia menyembuhkan sendiri luka batinnya.
Istighfar, istighfar dan istighfar. Hanya itu kekuatan yang dia miliki untuk bertahan hingga saat itu.
Saat sedang meratapi kesedihannya, ponsel Lea berbunyi.
Ada satu pesan telah masuk, dan rupanya itu pesan dari abah Jefri.
"Assalamualaikum nak, hari ini kamu masak apa? sudah matang apa belum? abah rindu masakan kamu?"
Air mata Lea semakin mengalir deras membaca pesan dari sang ayah. Ingin dia adukan semuanya tapi dia tidak berani. Selain takut dengan ancaman Raul, Lea juga tidak mau serangan jantung ayahnya kambuh karena kaget mendengar berita yang dia sampaikan.
__ADS_1
Lea membalas pesan ayahnya dan menunjukkan seolah olah keluarganya baik baik saja.
"Waalaikumsalam , Lea udah mateng abah, ayuk sini kita sarapan bareng" Lea menambahkan emoji tertawa di belakang pesan balasannya.
"Alhamdulillah, abah sangat senang dan lega jika melihat rumah tangga kamu baik baik saja. Abah selalu mendoakan kamu nak" balas abah Jefri.
Lea memejamkan mata usai membaca pesan tersebut. Satu kiasan yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang dia alami. Namun di berharap doa sang ayah akan selalu menguatkan diri nya menghadapi segala cobaan.
" Iya abah, terima kasih. Abah juga harus jaga kesehatan ya" balas Lea.
"Iya nak sama sama, ya sudah cepat kamu siapin perlengkapan kerja suamimu. Jadi lah istri yang sholehah ya nak. Abah percaya padamu" pesan dari abah Jefri.
"Iya abah" balasan terakhir dari Lea.
Usai membalas pesan dari sang ayah Lea kembali menangis, dadanya terasa sesak dann nafasnya begitu berat.
Satu hal yang tiba tiba terlintas di benaknya, yaitu mengadukan sejujurnya semua kelakuan Raul kepada kakek Seno dengan harapan akan menemukan solusi untuk menghadapi suaminya.
Setelah cukup lama mempertimbangkan niatnya, akhirnya Lea sudah sangat bulat dengan tekadnya. Rencananya hari itu juga dia akan pergi ke rumah kakek Seno.
__ADS_1