
"Abah," seru Lea.
"Abah," Raul ikut menyapa dan berjalan mendekat ke arah abah Jefri untuk mencium tangannya, namun dengan segera beliau menepis tangan Raul.
Sepertinya abah Jefri sudah mengetahui tentang sikap menantunya selama ini.
"Abah, kenapa menepis tangan suamiku?" tanya Lea ketika abahnya mendekat.
"Sudahlah nak, kamu tidak perlu menutupinya dari abah. Abah tahu semuanya,"
Degh, hati Lea begitu terkejut.
Bukan mau berprasangka buruk, tapi satu orang yang dia kira sudah memberitahu semuanya adalah Siska. Karena dia selalu mengancam Lea dengan membawa bawa nama abah dan adiknya.
"Apa maksud abah?" tanya Lea berlaga bodoh agar abahnya bercerita.
"Abah sudah mengetahui semua nya Lea, selama ini dia tidak menikahi mu, tapi hanya menjadikanmu seorang pembantu! " seru abah Jefri sambil menunjuk ke arah Raul.
__ADS_1
Pria itu mendongak karena merasa tertunjuk, namun dia sama sekali tidak melakukan pembelaan karena dia memang merasa bersalah.
"Abah, semua tidak seperti yang abah kira. Abah sudah salah paham. Semua bisa di jelaskan ," sahut Lea.
"Tidak. Jika nanti kamu sudah sembuh, pulanglah ke rumah dan tinggal bersama abah dan adikmu. Masih banyak laki laki yang lebih bisa memuliakan kamu sebagai seorang istri. Abah sakit hati, abah tidak terima putri abah yang bagaikan permata di jadikan budak di kandang singa." tegas abah Jefri dengan wajah penuh amarah.
"Tidak Bah, Lea harus pulang ke rumah suami Lea. Karena itu yang selalu almarhumah Umi ajarkan kepada Lea jika Lea sudah berumah tangga." tolak Lea.
"Almarhumah Umi kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Abah lakukan jika tahu bagaimana kelakuan suami kamu!" tegas Abah Jefri.
"Bahkan sekarang kamu bisa berada di sini pasti juga karena dia yang tidak becus menjadi seorang suami !" Abah Jefri kembali menambahkan tudingan mematikan yang tidak bisa di sangkal oleh Raul.
"Suamiku, kamu jangan diam saja. Bicaralah, bukankah sekarang kamu sudah berubah?" pinta Lea kepada Raul.
Pria itu seperti terkena sihir untuk diam tak bersuara, hingga lidahnya sangat kaku untuk bergerak.
"Jangan terlalu lugu Lea, kamu itu terlalu suci, terlalu bersih menghadapi manusia yang sangat kejam!" pandangan Abah Jefri masih tetap tertuju kepada menantunya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu membisu, Raul akhirnya buka suara.
"Aku minta maaf, Abah pasti sulit untuk memaafkan aku. Tapi aku sudah berjanji kepada Lea untuk berubah dan akan memulainya lagi dari awal ."
"Apa? Janji? Kamu pikir aku anak SD yang mudah kamu kasih janji? Kamu sudah mengecewakan banyak orang, istri kamu, mertua kamu, almarhum kakek dan papamu." tegas Abah Jefri.
"Abah, semua orang pernah melakukan kesalahan. Tidak baik jika kita menghakimi sendiri karena tugas kita hanyalah memberinya maaf dan kesempatan. Bahkan Allah saja Maha Pengampun, lalu betapa kejamnya kita jika tidak bisa menerima permintaan maaf dari sesama manusia," ucap Lea.
Abah Jefri menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Lihatlah, kamu lihat kan bagaimana bersihnya hati putriku? Meski di sakiti dia tetap membuka pintu maaf dan tidak dendam.Itulah sebabnya dia mendapat julukan gadis bisu dan tuli, sementara kamu seenaknya saja memperlakukan dia seperti seorang budak !!" ucap Abah Jefri kepada Raul dengan bibir bergetar dan mata berkaca kaca.
Sementara Raul hanya bisa memejamkan mata menahan sakit di dada atas semua ungkapan hati mertuanya.
"Jika kamu tidak suka, kembalikan dia padaku. Jangan kamu sia siakan dia dan kamu sakiti dia. Lea adalah jembatan surga bagiku, dia adalah harta berhargaku. Kenapa kamu tega menyakitinya? Kenapa?
Astaghirullahaladzim," nafas Abah Jefri naik turun tidak karuan meluapkan segala isi hatinya.
__ADS_1