
Petang itu ,seorang pria sedang duduk termenung melihat cahaya bulan.
Raul Febrio, dia bukan seorang manusia yang terlahir tengil, susah di atur dan egois.
Dulu dia juga sama seperti bayi bayi mungil lainnya yang menggemaskan. Dia kaya akan kasih sayang orang tuanya yang berlimpah . Bukan hanya kasih sayang, melainkan juga materi.
Namun kebahagiaan itu mulai surut ketika sang papa meninggal. Dia merasa terpukul karena kepergian beliau. Di tambah lagi, mamanya menikah dengan pria lain dan pergi entah kemana?
Kesempurnaan keluarga yang pernah dia rasakan rasanya di rampas begitu saja. Hanya menyisakan kakek Seno yang kini juga sudah berpulang.
Ratapan pria malang itu membuat netranya berkaca kaca. Di terangnya sinar rembulan membuatnya melihat semua kisah masa kecilnya.
Indah, tapi hanya tinggal kenangan. Kini yang bisa dia lakukan adalah meneruskan masa depan. Tidak mungkin dia akan terus bersenang senang dengan hartanya, dia harus memiliki keturunan agar ada yang menemaninya di masa tua.
"Lea," satu nama yang tiba tiba muncul di pikirannya.
Raul menaruh harapan lebih kepada Lea, wanita pilihan almarhum papanya yang ternyata memang sangat istimewa.
Jika mencari yang mencintai dirinya banyak, tapi jika mencari yang tulus mendampinginya mungkin hanya Lea wanita yang menerima semua kekurangan Raul, keegoisan Raul dan pengkhianatan Raul.
__ADS_1
Seketika itu muncul juga penyesalan terdalam di hati pria itu.
"Andai dari awal aku memperlakukan Lea layaknya seorang istri, mungkin sekarang aku sudah menimang bayi," ucap Raul dalam hati.
Pria itu menggelengkan kepala dengan memejamkan mata.
"Ya Allah, apakah masih ada pengampunan untuk diriku?" tanya Raul dalam hati.
Dengan menyebutkan nama Allah, Raul teringat bahwa waktu itu adalah menjelang magrib. Dia berniat untuk mendirikan sholat.
Segera dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Usai menjalankan sholat, Raul hendak pergi ke rumah istrinya. Namun ketika dia baru saja membuka pintu, ada sesosok wanita datang.
"Hai sayang, apa kamu mencium kedatanganku hingga kamu sudah membukakan pintu sebelum aku mengetuknya?" tanya wanita itu.
" Mau apa kamu datang kemari?" tanya Raul datar.
"Isssh, kasar gitu nanyanya? Yang romantis dong," sahut wanita yang bernama Monica itu sambil mulai menyentuh kerah baju Raul, namun pria itu menepisnya.
__ADS_1
"Aku mau pergi. Jika tidak ada yang penting, pulanglah !" jawab Raul.
"What? kamu mengusirku? Apa kamu sudah melupakan aku ? Wanitamu yang kamu juluki kelinci nakal?" tanya Monica.
"Aku sudah melupakannya, dan mulai sekarang berhenti mengejar ku karena aku sudah beristri," jawab Raul.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Istri? Istri yang mana? Siska wanita simpananmu itu atau istri yang seorang pembantu ?" tanya Monica dengan mengerutkan dahi. Dia adalah wanita yang Raul ajak pulang saat pertama kali menikahi Lea.
"Diam, pulanglah sebelum emosiku naik!" tegas Raul.
"No, aku yakin kamu hanya sedang badmood. Malam ini aku akan menyenangkan mu agar kamu kembali bersemangat." goda Monica dengan tangan yang mulai meraba tipis dada bidang Raul.
Pria itu lagi lagi menepis tangan Monica untuk kedua kalinya.
"Pergi!" bentak Raul.
Monica membuka lebar kedua kelopak matanya karena terkejut dengan bentakan dan penolakan Raul berulang ulang.
"Kamu akan menyesal karena menolakku, dan akan aku buat kamu bertekuk lutut untuk memintaku. Ingat itu ! Aku tidak terima dengan perlakuanmu malam ini !" wanita itu memasang wajah geram lalu membalikkan badan dan pergi.
__ADS_1