
Hari itu Raul mengantar Lea pulang ke rumah mertuanya.
"Kakak," sapa adik Lea yang bernama Humaira , di panggil Ira.
"Iya dek," jawab Lea.
Keduanya berpelukan melepas rindu.
"Maafin Ira ya kak, Ira nggak bisa jenguk kaka di Rumah Sakit. Ira baru saja datang dari pesantren. Ada kegiatan di sana , jadi Ira harus menginap." ucap Ira.
"Iya, tidak apa apa." sahut Lea.
Sambil terus berbincang bincang , Ira membantu membawa barang barang kakaknya. Abah Jefri terburu buru untuk pergi lagi , begitu juga Raul. Dia harus pergi bekerja karena sudah beberapa hari meninggalkan pekerjaannya sehingga dia hanya mengantar Lea dan Abah Jefri sampai di depan rumah lalu kembali pulang.
"Ira, kamu temani kakak kamu dulu. Abah ada urusan di pesantren." pesan sang Abah.
"Iya Bah, Ira pasti temani kakak." jawab adik Lea tersebut.
Setelah Abah Jefri pergi, Ira mengajak kakaknya istirahat di kamar. Gadis itu sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga kakaknya.
"Kak, apa Ira boleh tanya sesuatu?" tanya adik Lea .
"Boleh, silahkan," jawab Lea.
__ADS_1
"Apa benar rumah tangga kakak sedang ada masalah?" tanya Ira.
"Kamu dengar dari siapa?" Lea kembali bertanya.
"Emmmm, denger denger aja kak," jawab Ira.
"Katakan, kakak bisa di percaya," sahut Lea.
"Beberapa hari lalu ada seorang wanita datang ke sini dan bercerita tentang kakak," jawab Ira.
"Wanita?" tanya Lea.
"Iya kak, orangnya cantik dan seksi. Memakai pakaian yang sangat ketat, namanya Siska," sahut Ira selanjutnya.
Lea menghembuskan nafas kasar mendengar cerita adiknya.
"Wanita itu mengancam Abah, jika berani datang ke rumah kak Raul dan mengadu, maka dia akan menyakiti kakak," jawab Ira.
"Astaghfirullah, wanita itu sudah mengadu domba kita." ucap Lea lirih.
"Mengadu domba?" tanya Ira.
"Iya, di sana dia mengancam kakak akan menyakiti kalian dan bertindak sesuka hatinya bahkan juga akan menyakiti kak Raul," jelas Lea.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kejam sekali wanita itu kak? Tapi dari mana dia datang?," tanya Ira yang rupanya dia tidak tahu asal kedatangan Ira.
"Apa dia tidak berkata apa apa lagi?" tanya Lea selanjutnya.
"Dia hanya bilang kalau dia adalah kekasih kak Raul yang tinggal bersama sebelum menikah dengan kakak," jelas Ira.
Lagi lagi Lea beristighfar sambil menggelengkan kepala.
"Apa itu benar kak?" Ira menanyakan kebenarannya.
"Benar dia tinggal bersama kakak dan kak Raul, tapi bukan sebelum kami menikah. Karena kakak pernah melihat wanita lain selain dia ," tukas Lea.
"Astaghfirullah kakak, bagaimana kakak bisa menjalani rumah tangga seperti itu? Kakak pasti sangat terluka? Dan bagaimana bisa kakak bersikap setegar ini menceritakan sesuatu yang sangat menyakitkan? Bahkan kakak masih bisa mengulas senyum," ucap Ira sambil menggelengkan kepala.
Lea justru tersenyum simpul,
"Ira, tidak semua luka harus selalu kita tangisi jika memang luka itu sudah mengering dan sembuh." jawab Lea.
"Sembuh? Tidak kak, luka seperti itu tidak akan sembuh ,apalagi dalam waktu singkat," bantah Ira.
"Bisa. Jika luka itu tidak bisa sembuh, berarti hati kita sebelumnya sudah menyimpan penyakit. Yaitu dendam." tutur Lea tetap dengan senyum manis.
"Tidak kak, Ira tidak bisa seperti kakak bahkan untuk membayangkannya saja. Apa mungkin kakak tidak pernah mencintai suami kakak?" tanya Ira kemudian.
__ADS_1
"Kalau kakak tidak cinta, kakak tidak akan bertahan hingga satu tahun,"
Ira benar benar tidak menyangka dengan prahara rumah tangga kakaknya yang sangat memilukan.