
Hari menjelang magrib, Lea bersiap untuk menunaikan sholat. Suasana rumah begitu sepi, dan Lea pikir mungkin Raul telah pergi lagi dengan kekasihnya karena sejak tadi siang Lea memilih berdiam diri di kamar.
Usai melaksanakan sholat Lea keluar karena perutnya terasa lapar. Lea tidak melihat suaminya, dan dia pikir mungkin Raul belum pulang.
Lea segera memasak makanan. Walaupun sikap Raul tidak pernah baik padanya, tapi Lea selalu berusaha menjadi istri yang baik sekuat hatinya. Dan mungkin jika suatu saat kebaikannya tetap tidak bisa merubah sikap Raul, maka Lea juga akan menyerah.
Setelah memasak Lea menyiapkan makanan di meja makan. Namun mendengar suara benda jatuh dari kamar Raul.
Lea berniat untuk mengeceknya, namun langkahnya terhenti ketika dia teringat bahwa tadi siang Raul pulang dengan seorang wanita. Bisa saja di dalam kamar itu mereka sedang berdua.
Lea membalikkan badan dan kembali ke meja makan. Namun baru satu langkah dia berjalan, Lea mendengar suara gagang pintu yang hendak terbuka.
Ceklek,
Lea berusaha tak menghiraukan siapa yang keluar dari pintu itu, namun ketika dia mendengar lagi benda jatuh Lea segera menoleh.
Dan begitu terkejutnya dia ketika melihat Raul menyandarkan tubuhnya di tembok dengan memegang kepalanya. Wajahnya juga begitu pucat, dan bisa di pastikan Raul sedang sakit.
Lea berusaha menopang tubuh Raul meski dia tahu suaminya akan menolak.
Dan benar saja sesuai perkiraan Lea, baru saja Lea hendak memberi pertolongan pria itu langsung membentaknya.
__ADS_1
"Lepasin, mau ngapain? Aku bisa sendiri . Pergi sana !"
Lea sedikit menjauhkan diri namun tetap bersiaga jikalau Raul terjatuh. Dan lagi lagi benar dugaan Lea, satu langkah Raul berusaha berjalan, dia terjatuh ke lantai.
Tanpa menghiraukan bentakan sang suami, Lea bersikeras menolongnya. Dia bantu Raul duduk ke kursi.
Setelah berhasil membawa suaminya duduk dengan baik, Lea sempat memeriksa dahi Raul dan ternyata tubuhnya demam.
Tanpa banyak bertanya, Lea pergi ke dapur untuk mengambil air hangat lalu mengompres suaminya.
Raul berusaha berontak namun Lea tidak peduli. Dia tetap memasangkan kompres itu di dahi Raul. Setelah merasa ada kenyamanan dari kompres yang di pasang oleh istrinya, Raul memilih diam dan menikmati kenyamanan itu hingga matanya sempat terpejam sesaat.
Usai memberikan kompres, Lea menuju meja makan dan mengambil satu piring makanan lengkap dengan air minum.
Setelah menyiapkan makanan dan obat untuk Raul, dengan perlahan Lea menggoyang lengan suaminya agar pria itu membuka mata.
Merasa ada yang menyentuhnya, Raul terbangun dan menoleh ke arah Lea.
Dia lihat istrinya sudah membawa makanan dan obat di kedua tangannya.
Raul memalingkan pandangan tanda menolak pemberian Lea. Namun rupanya Lea tidak berhenti di situ.
__ADS_1
Segera dia sendok makanan itu lalu dia dekatkan ke depan mulut Raul.
Meski sedikit menunggu akhirnya Raul pun melahapnya. Setelah melahap lima sendok makanan, Raul memberi tanda berhenti kepada Lea dengan menangkis sendok yang di pegang istrinya itu.
Lea mengerti maksud Raul, dia pun akhirnya mengambilkan air dan obat untuk di minum suaminya.
Raul sempat menolak obat tersebut. Namun berkat kegigihan Lea, obat itu akhirnya di telan juga oleh suaminya.
Merasa sedikit bertenaga, Raul berdiri dan hendak menuju kamarnya untuk tidur.
Lea senantiasa mengekor di belakang Raul karena takut jika suaminya akan terjatuh.
"Ngapain ngikuti aku? kamu pikir aku anak kecil yang harus di jaga? Pergi sana, hus.. hus.. hus menjauhlah !" bentak Raul bagaikan mengusir seekor ayam.
Namun Lea tidak menggubris bentakan itu karena baginya keselamatan suaminya lebih penting.
Raul telah sampai di kasur nya berkat bantuan Lea, karena waktu di depan pintu dia sempat akan terjatuh dan Lea segera menopang tubuhnya.
Selama di dalam kamar Raul memikirkan sesuatu, " Kenapa harus dia yang menolongku? padahal aku sering menyakitinya, tapi mengapa dia tidak ingin membalas atau meninggalkannya?"
Seketika Raul menjadi merasa kagum dengan ketulusan hati Lea. Namun saat itu juga bisikan jahat kembali merasuki jiwanya.
__ADS_1
"Ngapain kamu kasihan? harusnya yang kamu pikirkan itu bagaimana cara membuat dia tidak betah tinggal di sini, lalu pergi dengan sendirinya!" suara jahat itu muncul di telinga Raul.
"Ckk, bodoh ! ngapain juga aku kagum sama wanita itu? " umpat Raul dalam hati.