Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Satu kamar


__ADS_3

Lea menangis hingga dirinya tiba di rumah. Dengan segera di masuk ke kamar lalu menumpahkan kesedihannya.


Ponsel Lea berdering berkali kali , namun dia abaikan karena saat melihat nama pemanggilnya adalah Raul.


Kedua insan itu sama sama frustasi. Raul sangat menyayangkan kejadian malam itu, dan kenapa dia harus teledor sampai meninggalkan ponsel di rumah Lea dan juga teledor hingga Monica bisa menyelinap masuk.


Pria itu mengacak acak rambutnya dengan terus merutuki kebodohan yang dia lakukan. Ratusan pesan dia kirim untuk istrinya , karena Lea tak kunjung menanggapi panggilan darinya.


"Lea, maafkan aku. Kamu salah paham. Aku tidak melakukan apa apa. Itu hanya sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja"


"Lea, percayalah aku sudah berubah. Aku tidak akan menyentuh wanita lain dan tidak akan pernah mencintai wanita lain"


"Lea, aku mohon kamu jangan salah paham. Tolong dengarkan penjelasanku"


"Lea , apa kamu benar benar tidak mau memaafkan ku?"


Kiranya pesan seperti itu yang Raul kirim untuk Lea. Untuk pertama kalinya Lea bersikap acuh kepada suaminya, karena biasanya dia hanya diam jika Raul berbuat semaunya sendiri.


Mungkin kali ini di hati Lea mulai tumbuh benih cinta untuk Raul, sehingga rasa sakit hati yang dia rasakan kali itu bercampur cemburu.


Setelah semalaman bergelut dengan kekecewaan, pagi pun datang menyapa mereka berdua.


Lea nampak begitu lesu pagi itu. Raul pun juga tak kalah lesu. Dia sangat tidak bersemangat untuk menjalani hari.


"Ada apa Lea?" tanya Abah Jefri yang sudah kembali dari luar daerah sehabis shubuh.


Lea menggeleng lalu tersenyum merunduk.


"Tidak ada apa apa abah?" jawab Lea.


"Apa kamu rindu dengan suamimu?" tanya Abah Jefri namun Lea kembali menggelengkan kepala.


"Tidak apa apa Abah, Lea hanya lelah kurang tidur aja," jawab Lea asal dan terpaksa berbohong. Dia tidak ingin Abah nya kembali melihat keburukan Raul.


"Baiklah, kalau begitu setelah sarapan kamu istirahat aja lagi biar cepat pulih," tukas Abah Jefri yang akhirnya di jawab dengan anggukan oleh putrinya.


Pagi itu Raul masih tetap berusaha mengirimi pesan kepada istrinya, walaupun Lea nampak enggan melihat pesan tersebut. Ada beberapa pesan yang sempat Lea balas, namun hanya menggunakan kalimat yang singkat dan datar.


Dua hari sudah Lea mengacuhkan Raul, namun Raul masih tetap gigih dan hal itu membuat Lea luluh.


"Aku tidak sekuat yang kamu kira. Aku juga bisa menangis dan kecewa. Aku akui bahwa aku mulai mencintaimu dan itu adalah kebodohan terbesar bagiku" pesan Lea untuk Raul.


"Jangan katakan kamu bodoh. Cinta itu datang sendiri dari hati kamu," balas Raul.


"Entahlah, dulu ketika aku tidak mencintaimu , aku mampu bertahan menghadapi sikap acuh dan kasar mu. Namun sekarang, aku menjadi lemah karena cinta," balas Lea kemudian.


"Aku akan menjemputmu ! " satu pesan lagi dari Raul.

__ADS_1


"Menjemput? Tidak, Abah belum mengizinkan!" balas Lea.


"Aku pasti bisa menjemputmu malam ini dan kita akan membina bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah,"


"Tapi bagaimana dengan Abah?" tanya Lea.


"Lihat saja nanti malam. Aku pasti akan berhasil membawamu kembali ke rumah kita," Raul berkata dengan sangat yakin.


Sementara Lea terdiam dan tidak bisa membayangkan apapun yang akan terjadi malam hari nanti jika Raul benar benar datang dan membawanya pergi.


Malam telah tiba.


Mobil Raul benar benar datang untuk menjemput Lea.


"Assalamualaikum Abah" sapa Raul.


"Waalaikumsalam," sahut Abah Jefri.


" Saya ke sini untuk menjemput istri saya pulang," ucap Raul dengan percaya diri


"Pulang? bukankah ini rumah Lea?" tanya Abah Jefri.


"Iya Abah, ini rumah lamanya dan rumah barunya ada bersamaku," jawab Raul.


Setelah lama di pertimbangkan akhirnya Raul pun di izinkan membawa Lea.


Gadis itu mengangguk pelan lalu menyiapkan barang barang yang harus dia bawa.


Ternyata benar, tekad Raul yang besar dan sungguh sungguh mampu menerjang dinding hati Abah Jefri yang sempat mengeras.


Tidak lama kemudian mereka berpamitan dan Raul merasa sangat lega karena bisa bersatu kembali dengan sang istri, walaupun hati Lea masih membeku.


"Maafkan aku " Lea memecah keheningan dalam perjalanan mereka.


"Meminta maaf untuk apa?" tanya Raul.


"Maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang semestinya untuk kamu. Aku belum siap!" ucap Lea.


"Apa kamu masih begitu sakit hati kepadaku?" tanya Raul.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," sahut Lea.


"Baiklah, aku akan menunggumu. Walaupun aku sendiri tidak tahu sampai kapan bisa menjaga batasanku karena aku hanya laki laki biasa. Namun aku akan selalu berusaha agar tidak sampai menyakitimu hanya demi keegoisan naf*suku," jawab Raul kemudian kembali fokus untuk menyetir.


Sesampainya di rumah, Lea membawa barang bawaannya ke kamar dengan di bantu oleh Raul.


"Mau kemana?" tanya Raul ketika melihat Lea menarik kopernya ke arah kamar tamu.

__ADS_1


"Mau masuk kamar," jawab nya.


"Kamarmu bukan di situ, tapi di sini," ucap Raul.


Lea berhenti sejenak dan mematung, mendengar pernyataan itu.


"Itu kamar kamu," jawab Lea.


"Bukan, ini kamar kita," tukas Raul.


"Apa kamu ingin menjadi istri yang melawan?" tanya Raul lagi


"Tidak, tapi aku..." pertama kalinya Lea beralasan.


"Ku mohon, beri aku kesempatan," pinta Raul yang kepada istrinya.


Dengan sedikit keberatan akhirnya Lea pun menyetujuinya. Dia masuk ke dalam kamar Raul, dan mereka tinggal bersama.


Usai menaruh pakaian di almari, Lea duduk di kursi dalam kamar itu. Dia termenung dan takut jika berada pada posisi yang salah.


"Apalah aku berdosa jika menunda tugasku sebagai seorang istri ya Allah?" ucapnya dalam hati.


Sementara Raul saat itu sedang di luar kamar. Setelah lama berpikir, akhirnya Lea memutuskan sesuatu.


Lima belas menit kemudian terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek,


Ketika Raul berhasil masuk ke dalam kamarnya, jantungnya seakan mau copot melihat pemandangan baru di kamarnya.


Yakni Lea.


Namun bukan menjadi Lea yang merupakan seorang wanita hijab, melainkan Lea yang mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


Kedua kelopak mata Raul terbuka lebar ketika melihat kaki dan tangan Lea yang berkulit putih terpampang jelas di netranya karena saat itu Lea hanya mengenakan dress setinggi lutut. Keindahan itu tak cukup sampai di situ.


Rambut hitam pekat nan panjang dan lebat itu menjadi mahkota terindah bagi Lea, paras cantiknya semakin terlihat jelas tanpa ada pembatas.


Perlahan Raul berjalan mendekati bidadari syurga yang baru saja dia temui. Antara percaya dan tidak percaya, tapi itu nyata.


Raul begitu terpesona melihat pesona sang istri, namun ketika dia mendekat dan ingin menyentuhnya, gerakan tangannya terhenti sebelum berhasil menyentuh kulit putih Lea.


Pria itu tertunduk lesu sambil berkata,


"Apa tangan dan raga keji ini pantas menyentuh kesucianmu?"


.

__ADS_1


__ADS_2