
Setelah melaksanakan sholat dzuhur, Lea bersiap siap untuk pergi ke rumah kakek Seno. Kali ini dia sedikit menyimpang dari ajaran almarhumah ibunya karena dia pergi keluar rumah tanpa seizin suami.
Tapi bagi Lea, apa yang di lakukannya saat itu sangat benar, karena niatnya pergi keluar rumah adalah demi kebaikan rumah tangganya. Di tambah lagi ketika dia ingat bahwa Raul sangat tidak menginginkan dirinya dan akan semakin senang jika dirinya pergi tak kembali lagi.
Lea ke rumah kakek Seno dengan menaiki ojol, sementara Raul sudah tidak ada di rumah. Mungkin dia sudah pergi ke kantor atau ke tempat teman temannya, Lea sendiri tidak tau.
Sesampainya di rumah kakek Seno, Lea di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang dulunya bekerja di rumah Raul. Namun kakek Seno pindah, wanita itu ikut tinggal di rumah baru kakek Seno.
"Silahkan masuk non,kakek Seno ada di dalam" sapa wanita itu.
Lea tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk non. Biar saya beri tahu kakek Seno kalau non datang" ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah sofa.
Lea pun duduk di sofa itu sambil menunggu kakek Seno keluar dari kamar. Namun beberapa menit kemudian hanya wanita itu yang keluar, sementara tak nampak ada kakek Seno ikut keluar.
__ADS_1
"Maaf non, kakek Seno sedang tidur. Sejak tadi pagi beliau mengeluh kepala nya pusing karena hipertensi nya kambuh" ucap asisten kakek Seno tersebut.
Lea terdiam sejenak untuk berpikir, dalam kondisi seperti itu sepertinya dia tidak mungkin bercerita tentang masalahnya.
Melihat Lea yang masih berdiam diri dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu, wanita paruh baya itu menawarkan sesuatu.
"Apa non ingin masuk untuk melihat keadaan kakek?" ucapnya.
Mendengar tawaran itu Lea mengangguk. Kemudian dia masuk ke kamar kakek Seni dengan di antar asisten itu.
"Kamu ke sini nak?" sapa beliau.
Lea tersenyum lalu mengangguk.
Tiba tiba kakek Seno batuk tak henti henti, hingga akhirnya Lea ikut membantunya duduk bahkan membuatkannya minuman hangat.
__ADS_1
Usai batuknya reda, Lea juga menyempatkan diri untuk membuatkan bubur untuk kakek Seno dan menyuapinya. Setelah makan , Lea menyiapkan obat yang biasa di konsumsi oleh sang kakek.
"Terima kasih nak, kamu mau merawat kakek seperti keluarga kamu sendiri. Cucu kakek sendiri saja tidak pernah menyentuh kakek" ucap sang kakek dengan wajah lesu.
Lea tertunduk diam mendengarkan perkataan kakek Seno.
"Kakek sendiri tidak mengira di hari tua kakek akan merasa kesepian seperti ini. Putra kakek hanya satu , yaitu papa Raul. Dan dia sudah lebih dulu di panggil oleh Allah. Hanya Raul satu satunya keluarga kakek, namun ya... seperti itulah, kamu tahu sendiri bagaimana sikap Raul. Kakek merasa gagal mendidiknya" kakek Seno menambahkan ungkapan hatinya kepada Lea dan hal itu tentu membuat Lea menunda tujuan awal dia ingin menemui kakek Seno.
Setelah hampir satu jam menemani sang kakek bercerita, Lea berpamitan untuk pulang.
Rencananya untuk mengadukan semua sikap Raul harus tertunda karena kondisi kakek Seno yang lebih mengenaskan dari pada dirinya.
Lea memang merasa tersiksa dan seakan tak mampu untuk bertahan, namun setelah mendengar ungkapan perasaan kakek Seno tadi justru membuatnya malu. Dia yang masih muda dan baru beberapa hari saja menghadapi Raul, sudah merasa tidak sanggup. Lalu bagaimana rasanya menjadi kakek Seno yang benar benar sendiri tanpa keluarga selain Raul? dan sudah menghadapi Raul sejak kecil?
Biar bagaimanapun juga, tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang sia sia di dunia ini. Meski pernikahannya dengan Raul atas perjodohan dan wasiat, namun semua itu tak lepas dari ketetapan takdir yang telah Allah tulis untuk dirinya. Dan Lea yakin, di balik semua ujian itu pasti tersimpan suatu hikmah besar yang tidak dia ketahui.
__ADS_1
Lea menghela nafas panjang sambil berulang ulang mengucap istighfar dalam hati . Dia berkesimpulan bahwa sepertinya dirinya harus menambah lagi tingkat ketebalan iman dan sabar dalam hatinya untuk menghadapi ujian rumah tangga yang kini dia alami.