
"Tapi kak, kenapa rasanya aku nggak terima banget sama perlakuan kak Raul? Aku nggak bisa seperti kakak. Untung saja Abah membawa kakak pulang, setelah ini kakak akan urus surat cerai kakak kan?" tanya Ira.
"Cerai? siapa yang mau cerai dek?" tanya Lea.
"Ya kakak lah, buat apa juga laki laki seperti itu di pertahankan kak? Masih banyak laki laki yang bisa menghargai kakak dan membahagiakan kakak," tukas Ira.
"Yang bisa membuat bahagia banyak, tapi kakak lebih memilih tinggal di ladang pahala kakak dari pada tinggal di istana yang kadang kemewahannya bisa membuat kita lalai," jawab Lea.
"Maksud kakak? Kakak akan bertahan dengan orang yang tidak menghargai kakak? Yang selalu menyakiti kakak?" tanya Ira.
"Bukan tidak menghargai ,tapi belum. Dan itu tugas kakak. Di situlah ladang pahala kakak. Bahagia itu hanya soal pandangan dan anggapan manusia, karena kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita berhasil melewati suatu ujian. Dan kebahagiaan tanpa ujian itu bagaikan pohon yang berakar dangkal, sekali terkena angin dia akan tumbang," tutur Lea kepada adiknya.
"Semua yang kakak ucapkan memang benar, tapi maaf kak. Ira tidak memiliki hati semulia kakak. Jadi rasa tidak terima ini masih begitu besar tersimpan entah sampai kapan?" sahut Ira.
__ADS_1
Lea tersenyum simpul mendengar ucapan adiknya.
"Kakak mengerti, sekarang kakak tanya. Dulu waktu kamu masih kecil dan melakukan kesalahan lalu umi memarahi kita, apa yang kamu lakukan?" tanya Lea.
"Ya minta maaf kak, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi," jawab Ira.
"Kalau Umi udah maafin apa perasaan kamu?" tanya Lea lagi.
"Senang dan ingin membuktikan bahwa kita akan menjadi lebih baik lagi," jawab Ira kemudian.
" Pasti sedih kak, apalagi kita benar benar ingin memperbaiki kesalahan kita," Ira masih setia menjawab pertanyaan pertanyaan kakaknya.
"Nah kan, kamu tahu rasanya. Berarti kamu juga tahu seperti apa rasanya jadi kak Raul." rupanya Lea sedang memberi perumpamaan kepada adiknya.
__ADS_1
"Tapi kan Umi ibu kandung kita kak? Sementara kak Raul adalah orang lain bagi kakak. Kakak bisa berhenti jika tak mampu bertahan." tukas Ira.
"Siapa bilang kak Raul orang lain? Dia orang lain ketika belum menikahi kakak, tapi setelah menikah ,surga kakak bahkan berada di kakinya. Surga yang sebelum menikah ada di kaki ibu, dan setelah menikah surga istri ada di kaki suami lalu dari mana bisa di katakan dia adalah orang lain?" Lea masih berusaha memberi pengertian kepada adiknya yang belum bisa terima atas perlakuan Raul padanya.
Ira terjebak dalam jawabannya sendiri, namun perlahan dia mulai mengikuti jejak pemikiran sang kakak.
Gadis itu sejenak terdiam beberapa waktu kemudian kembali bersuara.
"Maafkan Ira kak, Ira masih perlu banyak belajar dari kakak. Banyak kitab yang sudah Ira pelajari, tapi soal hati tetap diri kita sendiri yang menjadi gurunya. Karena tanpa suatu keadaan kita tidak akan pernah memahami keadaan itu sendiri," ucap Ira.
"Alhamdulillah jika kamu mengerti. Karena alhamdulilah yang paling berharga adalah alhamdulillah yang di ucapkan setelah astaghfirullah. Bukan alhamdulillah yang sering terlontar tanpa adanya istighfar," ujar Lea yang semakin di mengerti oleh adiknya.
Lea memang wanita istimewa, dia mampu mengendalikan api tanpa merusak abunya.
__ADS_1
Dan dia mampu mengendalikan angin tanpa merusak kesejukannya.