
Tak terasa sudah sepuluh bulan Lea menikah dengan Raul, dan sikap Raul semakin hari semakin menjadi.
Namun kejanggalan rumah tangga itu tidak pernah di ketahui oleh abah Jefri karena Lea yang selalu pandai memberi alasan yang tepat untuk sang ayah ketika menanyakan tentang Raul.
Membawa wanita secara bergantian untuk dia bawa pulang ke rumah sudah hal biasa bagi Raul. Dan sudah biasa juga bagi Lea menyaksikan hal tersebut.
Hingga akhirnya Raul berbuat lebih parah dengan mengajak kekasihnya bernama Siska untuk tinggal satu atap dengan Lea.
Awalnya Lea hanya mengira Siska akan di antar pulang oleh Raul seperti wanita wanita lainnya, namun ternyata Siska ikut tinggal bersama mereka.
Pagi hari ketika Lea hendak memasak, dirinya di kagetkan dengan suara wanita yang menyapanya.
"Hei , kamu pembantu di sini ya? buatin aku susu dong" ucap Siska.
__ADS_1
Lea menahan sakit di hati dengan perkataan Siska. Entah di sengaja atau memang Siska tidak tahu siapa Lea.
Lea menuruti saja kemauan Siska, bukan karena takut tapi dia tidak ingin membuat keributan di rumah Raul.
Lea yakin dalam hatinya bahwa suatu saat Raul akan berubah dan mendapat hidayah. Asal dia tetap sabar mendampinginya, tapi jika Lea memilih pergi, mungkin selamanya Raul akan semakin tersesat dan yang pasti Lea tidak akan tenang karena mengingkari amanat almarhum kakek Seno dan papa Raul yang telah memilih dirinya sebagai pendamping Raul.
Setelah menyajikan dua gelas susu , dengan tanpa dosa mereka duduk berdua di meja makan dan menyantap masakan Lea bahkan saling menyuapi.
Lea memilih masuk ke dalam kamar dari pada harus menyaksikan kemesraan mereka berdua.
Seperti hal nya sore itu, ketika Lea keluar kamar untuk memasak. Waktu itu bersamaan Raul sedang pulang kerja, sementara Siska sedang menonton televisi di sofa. Raul justru sengaja mengagetkan Siska dengan mencumbunya secara mendadak dan parahnya Siska membalas cumbuan Raul dengan sangat agresif.
Lea segera memalingkan wajah dengan memejamkan mata menyaksikan kejadian itu.
__ADS_1
Tak hentinya hatinya beristighfar agar di beri kekuatan untuk menghadapi ujian yang sangat berat dalam rumah tangganya tersebut.
Sudah satu bulan Siska berada di rumah Raul, dan Lea sudah seperti mati rasa hatinya melihat kebersamaan Siska dan suaminya.
Dia masih tetap bertahan karena sebuah amanat, tapi kalau soal cinta rasanya dia sudah tidak ingin berharap lagi kepada Raul.
Entah rumah tangga macam apa yang Lea jalani, karena lebih tepatnya dia hanya di jadikan pembantu di rumah itu sejak awal pernikahannya.
"Eh kamu, nanti tolong cucikan sprei di kamarku ya, sekalian kamu cuci baju baju kotor yang ada di dalam keranjang" satu perintah dari wanita asing yang kini menduduki jabatan Lea sebagai seorang istri.
Bukan pertama kali Lea mendapat perintah seperti itu. Tapi hampir dua atau tiga hari sekali selama tinggal di rumah Raul, Siska selalu memerintah Lea melakukan ini dan itu sesuka hatinya.
Terkadang, tak jarang juga Siska memerintah dengan nada kasar hingga membentak Lea. Raul bukannya menasehati Siska, tapi malah memberi peluang lebar kepada Siska untuk bertindak semaunya. Tentunya hal itu sengaja di lakukan dengan harapan Lea akan sakit hati dengan sikap Raul lalu pergi dan meminta cerai.
__ADS_1
Namun sayang, Lea terlalu kuat untuk di tumbangkan meski sepertinya raganya terlihat sangat rapuh.