
"Lea, aku mau tanya sesuatu" kata Raul.
"Apa?" jawab Lea.
"Siapa yang membayar biaya Rumah Sakitku kemaren?" tanya Raul.
"Kenapa?" Lea balas bertanya.
"Jawablah, apakah kamu yang membayarnya?" tanya Raul sekali lagi dan Lea pun mengangguk.
"Dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu?" dengan penuh rasa keheranan Raul masih bertanya.
"Uang dari kamu" jawab Lea.
"Dariku?" Raul tak mengerti.
"Iya, bukankah setiap bulan kamu memberiku uang belanja?" tanya balik Lea.
"Iya, tapi kan itu untuk belanja. Dan hanya sedikit" jawab Raul.
"Sedikit jika di kumpulkan akan menjadi banyak" jawab Lea dengan senyuman.
Raul menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan,
"Aku tidak tahu bagaimana caranya merutuki betapa bodohnya diriku!" ucap Raul dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, semua manusia pasti pernah berbuat salah. Yang terpenting kita bisa menyadarinya dan berusaha memperbaiki" jawab Lea lembut.
Di kala Raul dan Lea sedang menikmati suasana yang mengharukan itu, ponsel Raul tiba tiba berdering.
"Iya, halo" Raul menerima panggilan.
"Halo Tuan , non Siska pergi bersama seorang laki laki dengan membawa dua koper" ucap seorang petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang rumah Raul.
"Biarkan saja !" jawab Raul.
"Baik Tuan, saya hanya memberi informasi" sahut orang di seberang telpon.
"Ya, terima kasih" Raul menutup panggilannya.
"Siapa?" tanya Lea berusaha bersikap baik baik saja seperti tidak terjadi masalah agar Raul bisa lebih rileks dan tidak selalu merutuki kesalahannya.
"Kamu pasti bersedih?" tanya Lea.
"Sedih? Enggaklah, justru aku bahagia bisa lepas dari wanita berbisa seperti Siska" ucap Raul.
"Apa kamu tidak mencintainya?" tanya Lea sekali lagi.
"Tidak!" dengan singkat dan cepat Raul menjawab.
Mendengar jawaban suaminya Lea harusnya senang karena ternyata suaminya tidak mencintai Siska. Namun bukannya senang, Lea malah tertunduk lesu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Raul.
"Tidak apa apa. Aku hanya sedang berpikir, jika dalam waktu selama itu dan dengan kedekatan kalian saja membuat kamu tidak mencintainya, bagaimana kamu bisa membina rumah tangga denganku? Perempuan yang amat kamu benci !" jawab Lea.
"Salah , kamu salah. Bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku setelah aku sempat membencimu, tapi kini aku sangat berharap kepadamu" sahut Raul.
Keduanya sama sama diam, hingga akhirnya Raul kembali bersuara.
"Lea, katakan padaku. Apa yang membuatmu bertahan? Bukankah aku selalu menyakitimu?" Raul mengatakan isi hatinya.
"Aku juga tidak tahu, aku juga pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Tapi keinginanku untuk berpisah akhirnya berubah arah karena pesan dari almarhum kakek Seno" jawab Lea sambil memandang ke arah jendela.
"Pesan kakek?" tanya Raul.
"Iya, pesan beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir" jelas Lea.
"Pesan apa yang kakek sampaikan?" tanya Raul dengan wajah serius.
"Kakek menitipkan kamu padaku dan aku di minta untuk tetap setia mendampingi mu. Kakek Seno yakin suatu saat kamu pasti bisa berubah" Lea menjelaskan semuanya.
Raul semakin merasa terpuruk. Dia tundukkan kepala dengan penuh penyesalan.
Setelah lumayan lama merenung, Raul mengatakan sesuatu.
"Lea, berilah kesempatan padaku untuk berubah. Akan aku perbaiki semuanya dan terimalah aku menjadi seorang suami yang sesungguhnya"
__ADS_1
Lea menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Dia menjawab kalimat yang di ucapkan oleh suaminya.
"Aku sudah memaafkan kamu dan kamu masih punya banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tapi, maaf. Aku belum bisa menerima kamu sepenuhnya. Berikanlah aku waktu agar kita bisa saling lebih mengenal satu sama lain dari awal"