Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Air mata bahagia


__ADS_3

"Baiklah aku mengerti perasaanmu, biar waktu yang menjawab semuanya." tukas Raul.


Sejak saat itu Raul memperlakukan Lea layaknya seorang istri yang semestinya demi menunjukkan penyesalan yang dia rasakan.


Namun sayangnya hal itu masih belum bisa di sambut baik oleh Lea. Bukan karena masih sakit hati, tapi Lea masih belum terbiasa di perlakukan spesial oleh Raul.


"Kamu mau makan?" tanya Raul.


Lea menggeleng.


"Kalau mau perlu apa apa, bilang saja padaku." ucap Raul selanjutnya.


"Sebenarnya aku," ucapan Lea terputus.


"Kenapa?" tanya Raul.


"Aku, aku mau ke kamar mandi" jawab Lea dengan senyum malu.


"Oh, ke kamar mandi? mari aku bantu," sahut Raul.


"Ti_ tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Lea yang sudah mengira pasti Raul akan menawarkan diri untuk menemani ke kamar mandi.


"Jangan ngeyel, kamu masih sakit ! " tegas Raul.

__ADS_1


"Tapi," Lea nampak ragu.


Tanpa banyak menunggu, Raul segera meraih botol infus beserta selangnya, lalu dengan pelan mengangkat tubuh Lea dan menggendongnya.


"Eh , eh, mau ngapain? cepat turunin aku," pinta Lea.


"Tidak, kamu akan menolak jika aku meminta izin dulu." jawab Raul sambil tetap membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.


Lea jelas nampak sangat kaku dan risih ketika tiba tiba Raul menyentuh area pahanya, namun demi menjaga keseimbangan dia terpaksa berpegangan pada lengan sang suami. Bahkan tatapan keduanya sempat bertemu, namun Lea segera berpaling.


Ketika tiba di depan pintu kamar mandi, Raul menurunkan Lea.


"Masuklah, biar aku jaga dari sini. Bisa kan? kalau tidak bisa, biar aku panggilkan perawat perempuan. Karena aku yakin kamu pasti melarang ku ikut masuk ke dalam , walaupun hal itu sebenarnya wajar bagi seorang suami. Tapi sayangnya bukan untuk suami keji seperti aku." Raul berkata dengan sedikit menundukkan kepala meratapi kesalahannya.


"Tidak perlu panggil perawat, aku bisa sendiri. Dan jangan bicara seperti itu. Kamu tidak keji, kamu hanya khilaf dan belum mengerti. Setelah ini semoga kamu bisa menjadi suami idaman," jawab Lea berusaha memberi semangat kepada suaminya.


Raul tersenyum simpul mendengar ucapan istrinya yang dia duga hanya untuk menghiburnya .


"Ya sudah, aku tunggu di sini," tukas Raul.


Lea akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dengan Raul yang setia menunggu di balik pintu.


Lima menit kemudian, Lea keluar dan Raul bersiap untuk kembali membopongnya.

__ADS_1


"Aku bisa jalan, nggak perlu di gendong," ucap Lea.


"Tidak apa apa, biar kamu cepat sembuh." sahut Raul.


Lea tidak bisa melawan , hingga akhirnya memilih untuk diam tidak berontak.


Raul meletakkan Lea di tempat perawatannya dengan pelan. Namun tubuhnya tidak segera dia jauhkan dari sang istri.


Raul justru menatap lembut mata Lea, dan gadis itu menjadi salah tingkah.


"Kenapa aku begitu bodoh? kenapa dari awal aku tidak menyadari bahwa di rumahku tinggal seorang bidadari? namun aku malah memilih seorang iblis untuk menemaniku." tutur Raul tepat di depan wajah Lea.


Hembusan nafasnya mulai terasa di rongga hidung Lea karena jarak mereka semakin mendekat.


"Maafkan aku Lea, maafkan aku. Entah dengan apa aku menebus semua kesalahanku? Aku mohon kepadamu, terimalah semua perubahanku yang mungkin menurutmu sangatlah mendadak. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku dan segenap jiwaku." ucap Raul dengan sungguh sungguh hingga membuat Lea meneteskan air mata.


"Jangan menangis, dan jangan pernah keluarkan lagi air mata itu lagi dari mata kamu karena hal itu akan semakin menyiksaku. Aku berjanji akan menyakiti diriku sendiri jika kamu sampai terluka lagi karena diriku," pinta Raul dengan nada lembutnya.


Lea menggelengkan kepala sambil berkata,


"Ini air mata bahagia, bukan air mata luka"


Keduanya larut dalam suasana haru itu, sepasang suami istri yang baru saja bisa saling mengungkapkan rasa setelah satu tahun menikah. Namun tiba tiba suasana itu berubah dalam sesaat.

__ADS_1


" Menjauh lah , jangan dekat dekat. Kamu sudah terlalu banyak menyakiti !" satu suara itu membuyarkan angan Raul tentang bayang lembaran barunya.


__ADS_2