Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Kasihan


__ADS_3

Perselingkuhan Siska semakin nyata terlihat di mata Lea, bahkan kadang tak segan Siska membawa selingkuhannya pulang ke rumah Raul.


Sama seperti yang dia lakukan bersama Raul, Siska juga sering bercumbu di sofa tempat biasanya dia melakukannya bersama suami Lea.


Lea selalu memalingkan pandangan ketika tanpa sengaja netranya menangkap kejadian maksiat tersebut. Entah mengapa hatinya merasa sakit melihat pengkhianatan Siska kepada Raul. Seharusnya Lea senang karena Raul mendapat balasan yang setimpal, tapi entah mengapa Lea malah sakit hati. Lebih tepatnya kasihan melihat Raul yang di permainkan.


Lea sendiri ragu dengan perasaannya, apakah selama ini diam diam dia mencintai Raul?


Rasa kasihan Lea semakin bertambah ketika indra pendengarannya menangkap pembicaraan Siska dan selingkuhannya.


"Kita jadi kan melakukan rencana kita?" tanya kekasih Siska.


"Jadi dong sayang" jawab Siska manja.


"Aku takut aja nanti kamu beneran suka sama dia terus ninggalin aku," ucap pria tersebut.


"Nggak mungkin lah sayang, siapa coba yang betah punya pasangan tengil kayak Raul? Laki laki super egois dan mau menang sendiri. Untung aja dia kaya, kalau nggak? ngapain aku bela belain tinggal di sini? dan kalau si cowok tengil itu kere, mungkin nikahnya sama pembantunya yang kolot itu, ha..ha..ha." Siska tertawa lepas ketika membicarakan Lea dan Raul.


"Aku percaya sama kamu, tapi jangan lama lama ya permainannya. Aku takut kalau nggak bisa menahan cemburu kalau kamu sedang sama dia" jawab kekasih Siska.

__ADS_1


"Iya sayang, sebentar lagi setelah aku dapatkan aset yang ku inginkan, akan aku singkirkan pria itu dari rumahnya sendiri. Dan kita akan menikah" kata Siska tanpa dosa.


Degh,


Entah mengapa jantung Lea berdetak kencang mendengar kalimat jahat dari Siska.


Dia tidak menyangka Siska akan setega itu kepada Raul yang biar bagaimanapun adalah suaminya.


Setelah selesai bercakap cakap, kekasih Siska pulang dan Siska ke dapur menghampiri Lea.


Lagi lagi perempuan itu menggertak Lea,


"Awas kalau berani mengadu!."


"Eh, malah diem aja. Denger nggak aku ngomong apa?" bentak Siska.


Kali ini Lea mengangkat wajahnya hingga matanya berani menatap wanita yang sudah mempermainkan suaminya.


"Kenapa lihatnya begitu? kamu berani melawan?" tanya Siska.

__ADS_1


Lea memalingkan pandangan dan hal itu membuat Siska marah.


"Dasar ! iiiih, pokoknya kalau kamu berani mengadu, akan aku buat kamu menyesal seumur hidup!" ancam Siska sekali lagi lalu pergi meninggalkan Lea di dapur.


Sore harinya.


Raul pulang dari kerja dengan raut wajah yang sangat lelah. Dia hempaskan tubuhnya di sofa tempat favorit Siska untuk bersantai di sore hari.


"Aku lelah sekali baby, maukah kamu memijat ku?" tanya Raul.


"What? nggak salah? emangnya aku tukang pijat? atau babu? Hello, wanita itu ratu di istananya. Belum jadi suami aja kamu udah nyuruh aku seenaknya, gimana kalau udah nikah? Bisa jadi pembantu aku di sini !"


Degh,


Hati Raul tiba tiba bergetar mendengar ucapan Siska. Mendadak dia teringat bahwa Lea dia jadikan pembantu setelah menikahinya namun Lea tetap setia meski selalu dia bentak bentak dan dia sakiti. Berbeda jauh dengan Siska yang selalu ingin di manja dan di ratukan.


"Ish, apaan sih ? kok jadi mikir yang nggak jelas !" ucap Raul dalam hati.


Pria itu beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Istirahatlah, aku lihat kamu selalu di dapur dari pagi hingga petang"


Degh, satu kalimat indah yang baru saja Lea dengar dari suaminya membuat jantungnya seakan sejenak berhenti berdetak.


__ADS_2