
Dan benar saja , malam itu juga Raul telah menghafal doa yang di gunakan sebelum berhubungan suami istri.Tak mau banyak menunggu dia pun mempraktekkannya juga malam itu.
Lea tidak menolak meski sebenarnya dia masih belum terbiasa ,karena dalam menikah hal tersebut termasuk kewajiban bagi seorang istri untuk suami. Akan berdosa jika menolaknya, bahkan wanita di sunah kan untuk lebih dulu menawari.
Usai saling berpeluh dalam kegelapan, mereka tertidur hingga tiba waktu fajar.
Lea bangun dengan badan yang lumayan berat dan segera berjalan ke kamar mandi untuk mandi junub. Setelah mandi, badan Lea terasa lebih segar lalu segera menunaikan sholat subuh.
Raul menggeliat di kasur lalu tangannya meraba di sebelahnya dan segera membuka kedua mata ketika dia sadari istrinya sudah tidak berada di sana.
"Lea," panggilnya.
Dan setelah kesadarannya terkumpul sempurna, dia perhatikan sang istri sedang berdzikir di atas sajadah yang tak jauh dari ranjangnya.
Raul pun bangkit dari tidurnya lalu menuju ke kamar mandi. Dan ketika dia melangkah, Lea memanggil.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi," jawab Raul.
"Berjunub lah lalu segera melaksanakan sholat subuh karena waktunya masih ada." ucap Lea.
Raul mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi untuk bersuci. Setelah mandi junub, Raul melaksanakan sholat subuh di sebelah istrinya. Lalu Lea mencium tangan Raul ketika usai salam.
"Terima kasih istriku, kamu sudah mengembalikan ku ke jalan yang benar." ucap Raul.
"Sekali lagi aku katakan, bukan aku yang mengembalikan kamu, tapi Allah. Aku hanya sebagai lantaran. Maka dari itu, cintailah aku karena Allah. Bukan karena nafsu duniawi." jawab Lea.
Sejak pagi itu Raul dan Lea memiliki rutinitas baru yaitu sholat subuh bersama.
Tiap jam tiap waktu Lea selalu memberi siraman rohani berbalut cinta hingga membuat sang suami menjadi lebih baik akhlaknya.
Perubahan Raul tentu saja mengundang perhatian para sahabatnya. Ada yang menilai positif, tapi banyak pula yang menilai negatif.
Selain tentang ibadah, Lea juga sering mengajak Raul untuk bersedekah. Satu kegiatan yang tidak pernah Raul lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Namun, tidak ada suatu pahala tanpa ujian. Saat Raul sudah memantapkan hati berjalan di jalan yang lurus, selalu saja ada godaan yang menguji keimanannya.
"Hei bro, apa kabar?" tanya salah seorang teman pria Raul yang dulu suka dugem dan main wanita bersamanya.
"Baik. Kamu sendiri gimana?" Raul bertanya balik.
"Sial bro. Usahaku bulan ini merosot drastis. Banyak klien yang membatalkan kerja sama. Udah gitu kekasihku juga ikut kabur ninggalin aku karena udah nggak ada duit." jawab teman Raul bernama Niko.
Raul tersenyum simpul mendengar cerita Niko, lalu dia berusaha memberi nasehat.
"Sabar kawan, cobalah untuk lebih dekat kepada sang pencipta agar di mudahkan urusan rejeki dan juga jodoh."
"Alah, gayamu bro. Udah kayak ustad aja. Baru juga beberapa hari insaf. Ngomong ngomong istri kamu pakai pelet apa sih buat menaklukkan kamu?" pertanyaan Niko sontak membuat Raul naik darah.
"Jaga ucapan kamu. Tuduhan kotor mu itu tidak pantas kamu tuding kan kepada istriku. Bahkan untuk menyebut namanya saja kamu perlu bersuci lebih dahulu." geram Raul dengan tatapan tajam.
"Wiiih, santai bro. Segitu amat nanggepinnya? Eh bro, semua wanita itu nempel kalau ada duit. Untung aja kamu kaya , coba kalau kamu miskin. Apa mungkin tuh wanita yang pernah kamu perlakukan seperti pembantu mau tetap bertahan jadi istri kamu? Sadar bro, kamu hanya termakan mulut manis dan ceramah!"
__ADS_1
Raul sejenak terdiam memikirkan ucapan Niko. Benteng keimanan pria itu mulai sedikit goyah, namun dia berusaha menenangkan diri agar benteng tersebut tidak hancur.