Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Cengkerama


__ADS_3

Raul menghembuskan nafas kasar setelah Monica pergi.


"Astaghfirullahaladzim," satu kata istighfar yang pertama kali muncul dari mulut Raul.


Usai beristighfar ,pria itu bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera meluncur ke rumah Lea.


"Assalamualaikum," Raul mengucap salam ketika tiba di rumah Lea.


"Waalaikumsalam," Ira keluar untuk membuka pintu. Namun ketika tahu siapa tamunya, wajahnya sedikit masam.


"Oh kak Raul?" tanyanya datar.


"Kak Lea ada?" tanya Raul.


"Ada," jawab Ira singkat. Gadis itu sepertinya belum bisa memaafkan sikap kakak iparnya.


"Siapa dek?" tanya Lea yang menghampiri adiknya. Dan dia terkejut ketika tahu yang datang adalah suaminya.


"Mari masuk," ajak Lea.


"Iya," jawab Raul dengan senyum.


Mereka duduk di kursi ruang tamu, sementara Ira memilih untuk undur diri dan masuk ke kamarnya.


"Abah kemana?" tanya Raul mengawali percakapan.


"Abah ada pengajian di luar daerah. Mungkin pulang habis shubuh besok pagi," jawab Lea dengan senyum manis.


"Oh begitu, Lea...," panggil Raul.


Gadis yang sudah berstatus menikah itu mendongakkan kepala ketika namanya di sebut.


"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Raul dengan menatap wajah istrinya yang memerah.


Lea justru kembali menundukkan kepala dan menyembunyikan senyumnya.


Raul yang sudah banyak pengalaman tentang wanita tentu paham dengan bahasa tubuh yang di tunjukkan oleh istrinya.


Lea pun juga tidak memungkiri bahwa selama ini diam diam rasa cinta sudah mulai tumbuh di hatinya, apalagi dengan perubahan dan penyesalan yang Raul tunjukkan.


"Kapan kita akan tinggal satu atap lagi?" tanya Raul kemudian.

__ADS_1


"Tergantung seberapa besar kamu bisa meyakinkan Abah," jawab Lea.


"Kalau kamu? Apa itu artinya kamu sudah yakin padaku?" tanya Raul lagi.


Lea menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Aku tidak tahu rasa apa yang ada di dalam hatiku. Ini cinta atau sekedar rasa empati pada seseorang yang akan kembali ke jalan yang lebih baik," jawab Lea.


"Itu cinta, karena aku suamimu. " sahut Raul.


"Entahlah," jawab Lea.


"Lea, maafkan aku yang telah meninggalkan kewajibanku sebagai seorang suami. Tapi apa itu berarti kita tidak halal?" tanya Raul.


"Selama kamu tidak pernah menjatuhkan talak, maka kamu tetap suamiku," jawab Lea.


"Boleh aku memelukmu?" Raul meminta izin.


Lea terdiam, lalu beberapa detik kemudian menjawab .


"Aku belum terbiasa mendapat pelukan dari mu, tapi aku akan berdosa jika menolaknya."


Dia sedikit mendekat kepada Lea hingga tidak ada jarak dalam duduk mereka.


Lea menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Dan hal itu membuat Raul tersenyum. Pertama kali baginya mendekati perempuan yang benar benar suci. Karena biasanya Raul bergaul dengan wanita wanita agresif yang sudah pandai urusan ranjang.


"Hei, aku hanya ingin memelukmu. Tapi kenapa kamu gugup seperti itu?" tanya Raul yang melihat istrinya nampak belum siap menerima sentuhannya.


Lea mendongakkan kepala lalu bertanya,


"Gugup? Apa aku terlihat gugup? Astaghfirullah, aku minta maaf. Aku hanya belum terbiasa. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Lea sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Kamu sangat gugup. Aku bisa melihatnya , tapi justru hal itu yang membuatmu istimewa. Dan aku tidak ingin menyentuhmu sebelum kamu benar benar siap untuk menerima sentuhan itu," ucap Raul.


"Terima kasih atas pengertiannya," jawab Lea.


Raul sedikit bergeser dan memberi jarak, agar istrinya merasa lebih nyaman.


"Apa kamu marah?" tanya Lea ketika melihat suaminya menjauh.


"Marah? Kamu yang seharusnya marah. Aku tidak ada hak sama sekali untuk marah. Apalagi sama kamu,"

__ADS_1


Ponsel Raul tiba tiba berbunyi ketika dirinya sedang asyik menjawab pertanyaan sang istri, namun Raul mengabaikan notifikasi pesan tersebut hingga ponselnya berbunyi dua kali.


"Ponselmu berbunyi, lihat lah dulu. Siapa tahu penting," ucap Lea.


Mendapat titah dari sang istri, Raul pun akhirnya meraih benda pipih di sakunya.


Namun wajahnya berubah masam ketika membaca pesan di dalamnya.


"Aku tunggu di kamar. Malam ini Kelinci Nakal tidak akan mengecewakan kamu."


Suami Lea segera menghapus pesan itu lalu menekan tombol off agar ponselnya tidak mengganggu kebersamaannya bersama sang istri. Usai mematikan ponsel, Raul menaruh benda asal di atas kursi tempat nya duduk.


"Kenapa di matikan?" tanya Lea yang sempat melihat suaminya menekan tombol off.


"Tidak penting," jawab Raul.


"Oh begitu," Lea tidak banyak bertanya.


Keduanya meneruskan cengkerama hangat layaknya suami istri pada umumnya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Sudah malam, aku pamit pulang dulu. Kamu harus banyak istirahat ya biar cepat pulih," tutur Raul.


"Iya, terima kasih. " sahut Lea sembari berdiri mengantar sang suami ke depan pintu.


Lea masih berdiri di sana hingga mobil Raul mulai melaju. Dan ketika Lea kembali masuk ke dalam rumah, dia terkejut karena mendapati sesuatu.


"Astaghfirullah, ponsel dia ketinggalan." seru Lea.


Lea berusaha keluar untuk mengejar suaminya barang kali saja masih berhenti di depan, namun ternyata mobilnya sudah tidak kelihatan.


Lea panik karena ponsel itu pasti sangat penting untuk Raul, sehingga dia berpikir untuk mengantarnya dengan menaiki taksi online.


Segera dia bergegas meraih ponsel dan mengambil dompet, Lea juga berniat mengajak Ira untuk menemaninya. Namun rupanya Ira sudah tidur sehingga Lea memutuskan untuk berangkat sendiri.


Mobil taksi online yang di pesan Lea sudah tiba di depan rumah, dan Lea segera masuk ke dalamnya. Setelah tiba di sana, dia meminta kepada sang driver untuk menunggunya sebentar.


Dengan terburu buru Lea masuk ke halaman rumah Raul, dan ketika di depan pintu Lea lihat pintu rumah sedikit terbuka dan mobil Raul terparkir di depannya.


Gadis itu berinisiatif untuk masuk, namun ternyata dia melihat sesuatu yang tak terduga.


"Astagjfirullahaladzim," lirih Lea beristighfar sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2