Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli

Menikahi Gadis Bisu Dan Tuli
Bimbang


__ADS_3

"Lea? Kenapa kamu begitu baik? Kenapa kamu tidak pernah marah dan membenciku? Atau mungkin ingin membalas keburukanku?" tanya Raul.


"Pernah. Aku pernah marah sama kamu, aku pernah benci dan ingin pergi dari mu. Tapi ternyata Allah masih memberi amanat kepadaku untuk menuntun mu. Itulah alasan aku bertahan, karena Allah." jawab Lea.


"Lea, seandainya semua harta ku di ambil oleh Allah, apakah kamu akan tetap setia menemaniku?" tanya Raul.


Lea tertawa mendengar pertanyaan Raul.


"Kenapa tertawa?" tanya Raul.


"Sepertinya kamu mulai bimbang padaku?" sahut Lea.


"Bu_bukan, tapi aku hanya..." ucapan Raul terpotong.


"Hanya ingin tahu apakah aku setia kepadamu karena harta?" tanya Lea.


"Maafkan aku Lea, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu?" tutur Raul.

__ADS_1


"Terkadang seseorang tidak akan mengerti arti sebuah kebenaran jika belum pernah menemui kesalahan. Kamu tidak perlu meminta maaf." tukas Lea.


"Aku merasa malu pada diriku sendiri." ucap Raul dengan tertunduk.


"Sudahlah, jangan menyudutkan diri sendiri. Semua manusia pernah salah, termasuk juga aku. Aku pernah marah dan kecewa juga padamu , apalagi di awal pernikahan kita. Rasanya kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat sejak aku pindah dari rumahku dan tinggal bersamamu. Rasanya aku ingin teriak, mengadu dan marah. Tapi aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku adukan semua perasaanku dalam sujudku, hingga akhirnya Allah memberiku jawaban untuk bertahan. Rupanya Allah tidak meringankan bebanku, melainkan menguatkan hati dan jiwaku." ujar Lea yang langsung mendapat pelukan erat dari suaminya.


"Maafkan aku, maafkan aku. Mungkin beribu kali ku ucapkan tidak akan bisa menebus kesalahanku!" lirih Raul tepat di telinga Lea.


Sejak saat itu Raul tidak pernah berpikir untuk meragukan Lea apalagi mengenai harta. Dia semakin giat belajar ilmu agama kepada istrinya dan belajar menjadi pemimpin keluarga yang amanah dan bertanggung jawab.


"Ada apa istriku? Sepertinya kamu sangat bahagia?" tanya Raul.


"Iya suamiku, sepertinya setelah ini kamu akan punya panggilan baru dariku." jawab Lea.


"Panggilan?" tanya Raul.


"Iya." sahut Lea tetap dengan senyum yang merona.

__ADS_1


"Panggilan apa?" tanya Raul yang benar benar tidak paham dengan maksud istrinya.


"Abi." jawab Lea yang seketika membuat Raul paham.


"Abi? apa itu artinya aku akan di panggil abi?" Raul memastikan dan mendapat anggukan berkali kali dari Lea.


"Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih mempercayai pendosa ini untuk merawat titipan Mu." ucap Raul sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan kemudian memeluk istrinya.


"Umi, berarti aku akan memanggilmu Umi?" tanya Raul. Dan Lea pun kembali mengangguk.


"Baiklah, kita harus ke Dokter sekarang juga untuk memeriksa kandungan kamu. Aku ingin tahu bagaimana perkembangan calon bayi kita." ujar Raul dengan penuh semangat.


"Iya, tapi usianya masih sangat dini. Mungkin baru satu bulan dan masih berupa gumpalan darah." jawab Lea tetap dengan memasang senyum di wajahnya.


"Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan emas untuk menjadi seorang ayah. Aku akan menjaga dan melakukan yang terbaik untuk kalian." tukas Raul sambil mencium kedua punggung tangan istrinya.


"Terima kasih suamiku." jawab Lea yang kemudian menyandarkan kepalanya di dada Raul.

__ADS_1


__ADS_2