
Liburan sekolah adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Kanaya, dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dirumah. Dia bisa bersantai sejenak dari kepenatan sekolah.
"Nikmat sekali liburan bersantai dirumah. Semua pekerjaan sudah beres, waktunya menonton televisi sebentar" baru saja Naya hendak mencari chanel film kesayangannya, Rian pulang dari kantornya.
"Kak Rian..."
"Kak Rian mampir sebentar. Tadi mengecek persiapan buat ekspo didekat sini"
"Mau kusiapkan makan siang?"
"Ya, Dek. Kak Rian lapar sekali sampai lemas seluruh tubuh ini"
Naya tertawa melihat tingkah lucu suaminya. Dia menyusun makanan diatas seprah yang diletakkam dilantai.
Tok ... Tok ..
Rian bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. Dibalik pintu ada seorang pemuda remaja yang mencari Kanaya.
"Kamu siapa?" tanya Rian pada tamunya itu.
"Aku mencari seseorang bernama Kanaya Davilla Myezha. Apa benar dia tinggal disini?"
"Ada perlu apa kamu mencari Naya", tanya Rian pada tamunya itu penuh selidik.
"Siapa, Kak?" tanya Naya dari dalam. Dia mengambil hijabnya dan menyusul suaminya ke depan pintu.
"Doni?" Naya terkejut melihat sosok Doni dihadapannya.
"Teteh ... "
Naya langsung memeluk pemuda tadi. Doni mengambil tangam Naya dan mencium punggung tangannya. Naya terlihat senang dengan kedatangan Doni.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa sampai disini?" tanya Naya.
"Panjang ceritanya, Teh"
"Ya, sudah. Masuk dulu" Naya membawa Doni masuk. Rian mengikuti dibelakangnya.
"Kak ... " panggil Naya.
"Hmmm..."
"Ini Doni. Dia adikku. Satu ayah lain ibu" Naya memperkenalkan Doni pada Rian.
"Dek, ini Kak Rian. Suami teh Naya"
Doni terbengong mendengarnya. Namun dia menyalami Rian, mencium punggung tangan kakak iparnya itu.
"Ayo kita makan. Kebetulan kami baru mau makan siang. Sekalian saja makan siang bersama" ajak Rian pada adik iparnya.
Mereka makan dengan lahap. Dan menunda dulu cerita perjalanan Doni sampai ke Pekanbaru.
*****
Naya menyuguhkan secangkir coklat panas untuk kedua laki-laki itu.
"Teh Naya kok tidak ngabarin Doni kalo dah nikah?"
"Teteh dah kabarin papi dan mami Lis, Dek. Tapi tidak ada respon" ucap Naya.
"Mereka tidak kasih tahu Doni, mami ini keterlaluan ya..."
"Bagaimana kamu bisa kesini sendirian, Dek"
__ADS_1
"Aku tahu alamat ini dari pesan WhatsApp yang Teh Naya kirim kan ke mami. Dia belum sempat membacanya Doni sudah hapus semua pesan itu. Biar aman, Teh"
"Biar aman?" Rian mengeyitkan dahinya.
"Iya, Kak. Biar aman kalian disini tanpa di ganggu mami atau papi. Aku tidak rela kalau kebahagian Teh Naya di ganggu sama mami atau papi" cerita Doni pada kakak iparnya.
"Tapi nanti Papi marah sama kamu, Dek" raut wajah Naya berubah sedih dan khawatir.
"Biar saja. Aku sudah bosan dengan sikap mereka yang arogan. Teh Una juga semakin hari makin jadi. Lebih baik Teh Naya disini saja. Jauh dari mereka. Jadi Doni nabung buat kesini ketemu sama Teh Naya. Doni bilang akan liburan bersama teman di Bali" jelas Doni.
"Ya, ampun Dek. Kamu sampai bohong seperti itu. Kalau papi tahu kamu bisa di hukum, Dek"
"Biar saja, Teh. Doni sudah siap dengan semua resikonya"
Naya menarik nafas panjangnya. Sebenarnya hatinya sangat cemas dengan adik tirinya itu.
"Ya, sudah. Kamu mandi dulu sana. Biar seger"
"Ya, Teh..." Doni mengambil handuk dan baju salin dari tasnya.
"Apa ada masalah gawat, Dek. Kamu sepertinya cemas sekali" tanya Rian sesaat sebelum kembali kekantornya.
"Ini masalah keluarga ku, Kak. Sebenarnya hubungan ku dengan Papi dan Mami Lis, istri baru papi, serta anak perempuannya itu tidak begitu baik. Papi menikah lagi dengan Mami Lis, seorang janda beranak satu. Una dan aku seumuran. Dua tahun kemudian lahirlah Doni. Aku dan Doni sangat akrab. Dia anak yang baik dan penurut. Berbeda dengan Una. Mami Lis, tidak menyukai ku. Wajar, aku ini hanya anak tirinya. Tapi papi juga sampai sekarang pun bersikap acuh tak acuh padaku. Aku tidak begitu dekat dengannya. Memang sejak lahir papi sudah pergi meninggalkan aku dan mami" tutur Naya panjang lebar.
"Maaf ya, Dek. Kak Rian menanyakan hal ini. Jadi membuka luka hatimu"
"Tidak apa-apa, Ka"
"Kak Rian kembali ke kantor dulu, ya ..."
"Hati-hati dijalan, Kak"
__ADS_1
******