Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Hari Terakhir


__ADS_3

Hari terakhir ujian nasional siswa SMA hari ini berjalan lancar. Naya yang mendapatkan sessi terakhir pun sudah selesai mengerjakan soal-soal nya. Dia pulang kerumah dengan hati lega.


"Semoga saja hasilnya memuaskan dan aku bisa lulus dengan nilai yang baik" gumam Naya sambil berjalan pulang.


Tiiin....tiiiinn...


Suara kelakson motor terdengar dari belakangnya. Naya menoleh.


"Kak Rian" Naya tersenyum melihat kedatangan suaminya. Rian menghentikan motornya tepat disebelah Naya.


"Sudah pulang, Dek? Bagaimana ujianmu?"


"Sudah, Kak. Alhamdulillah, lancar"


"Syukurlah. .. Kak Rian senang mendengarnya. Ayo, pulang!?"


Naya naik diboncengan belakang, merangkul pinggang suaminya. Menyandarkan kepalanya pada punggung Rian. Mereka menuju rumah kontrakan sederhana mereka. Tepat pukul lima sore mereka sudah sampai di depan rumah.


Drrr..... Drrr...


Ponsel Rian berbunyi saat mereka memasuki rumah. Rian melihat pada layar ponselnya.


"Doni?!" batinnya.

__ADS_1


Dia menggeser tombol hijaunya.


"Assalamualaikum ... Dek?"


"Waalaikumsalam, Kak Rian. Apa kabar?"


"Alhamdulillah, kami baik-baik semua disini. Teh Naya mu baru selesai ujiannya. Kami baru sampai dirumah. Kamu apa kabar disana?"


"Kabar buruk, Kak!"


"Kabar buruk? Apa yang terjadi, Dek?"


Doni menceritakan semua nya pada Rian tentang maminya yang tak kunjung sembuh.


"Terima kasih, Kak. Doni tutup dulu ya, Kak. Samapaikan salam pada teh Naya"


"Ya, Dek" Rian kembali menekan tombol di layar ponselnya. Naya yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian datang membawakan secangkir coklat hangat untuk suaminya.


"Minumnya, Kak"


"Ya, Dek. Terima kasih"


"Telepon dari siapa, Kak"

__ADS_1


"Dari Doni. Dia titip salam buat kamu katanya"


"Ooo... Doni. Bagaimana kabar anak itu? Dia jarang-jarang menelepon"


Rian menyeruput coklat hangat, sensasi manis dan hangatnya coklat menyeruak diseluruh rongga mulutnya. Lalu masuk ke dalam kerongkongannya dan berjalan kedalam perutnya. Rasa hangat membungkus perut nya.


Rian menarik nafas panjang. Menyiapkan hatinya untuk menceritakan semuannya pada Naya. Rian mengatakan semuanya tentang Lis yang berkali-kali mencoba bunuh diri dikamar perawatan tentang David yang merindukan putrinya. Tentang ketidak tahuan David akan pernikahan mereka.


Naya merasa sedih mendengarnya.


Airmatanya mengalir dikedua pipinya. Dia turut merasakan apa yang dirasakan Doni. Mami Lis adalah ibu kandung Doni. Pasti Doni merasa sedih dengan kejadian ini, pikir Naya. Rian mendekati istrinya. Menguasap lengan istrinya. Memberi ketenangan dan kekuatan pada perempuan nya itu.


"Papi pasti sedih sekali, Kak. Aku tak tega melihat papi bersedih seperti itu. Dia sangat menyayangi Una dan Mami Lis. Papi pasti menjalani hari-hari yang berat. Begitu juga Doni. Dia masih terlalu muda untuk mengalami cobaan seberat ini" tutur Naya sedih. Matanya mulai berair dia tak dapat menahan airmatanya.


"Sabar, Sayang. Ini adalah ujian dari Tuhan. Kita harus berbesar hati menerimanya. Yakinlah, pasti ada hikmah dari semua ini" Rian membujuk Naya. Naya menatap pada suaminya. Laki-laki nya itu sangat bijaksana. Dia mengangguk. Meng-iya-kan apa yang dikatakan suaminya.


"Kak Rian mandi dulu, ya Dek"


"Ya, Kak"


Naya mengunci semua pintu dan jendela. Menutup semua gorden jendela. Lalu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Setelah Rian pulang dari masjid untuk sholat magrib berjamaah, Naya sudah menyusun semua hidangan makan malam. Mereka menikmati makan malam bersama nya hari itu.


******

__ADS_1


__ADS_2