Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Penolakan Rian


__ADS_3

Sejak siang tadi Ratna terus mendekat pada Rian. Mereka satu team namun beda ruangan. Secara struktural posisi Rian di kantor lebih tinggi dari Ratna. Namun mereka terlihat akrab sejak mereka berada dalam satu team yang sama.


"Sedang sibuk, Mas Rian?"


"Ooh.. kamu Ratna. Tidak juga. Hanya mengecek beberapa proposal saja"


"Kemarin aku kerumahmu"


"Kerumah?" Rian terkejut mendengar ucapan Ratna.


"Iya, tapi kata adik mu kamu sedang tidak dirumah"


"Kamu bertemu Naya?"


"Ya, apa adikmu tidak bilang kalau aku datang kemarin"


"Tidak" Rian terdiam. Sepertinya dia paham apa yang terjadi pada istrinya beberapa hari ini.


"Mas Rian, aku ingin mengatakan sesuatu"


"Ada apa? Ada hubungannya dengan laporan kemarin?"


"Tidak. Ini sifatnya pribadi. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan"


Rian tak menyimak kata-kata Ratna. Matanya tertuju pada foto yang ada di wallpaper layar ponselnya. Foto Naya, istrinya yang sangat ia sayangi.


"Mas Rian ... Mas ... Kamu mendengarkan aku?"


"Ya, kamu mau bicara masalah pribadi, bukan?"


"Iya, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu, tapi aku tak punya kesempatan untuk menyampaikannya"


"Dan sepertinya kamu tak punya kesempatan itu lagi"


"Maksud Mas Rian?"


Rian menunjukkan wallpaper ponselnya.


"Itu adikmu, bukan?"

__ADS_1


"Ini Kanaya Davilla Myezha. Perempuan cantik berhati bidadari. Dia istriku"


"Istri? Mas Rian bercanda, bukan?!"


"Tidak. Naya adalah istriku"


"Mana mungkin dia masih SMA?"


"Ya, memang dia masih SMA. Tapi dia adalah istriku. Pernikahan kami sah menurut agama dan hukum negara. Dan tercatat dalam buku nikah. Kami menikah setahun yang lalu"


"Aku tidak percaya!!"


"Ini, cincin pernikahan ini saksi cinta kami. Aku harap kamu mengerti maksudku. Aku tak mungkin dan tak akan pernah membagi hatiku untuk perempuan lain selain istriku, Kanaya. Maafkan aku"


Ratna terdiam. Dia begitu terpukul mendengar ucapan Rian tadi. Rian meninggalkannya seorang diri diruangan. Airmatanya mengalir dikedua pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia yang sudah lama menyimpan rasa pada Adrian harus menerima kenyataan ini, tentunya sangat berat baginya


******


Tok ... Tok ...


Naya bergegas membuka pintunya. Dan Ratna sudah ada dihadapannya.


"Maaf, ada apa kamu kesini lagi?" tanya Naya sedikit kesal.


"Ada apa ini? Apa maksudmu? Kak Rian memang suamiku. Dan kami sudah menikah setahun yang lalu"


"Tidak mungkin. Aku tak percaya"


"Terserah kamu percaya atau tidak. Itu tidak penting buatku. Yang terpenting aku ingatkan padamu, jangan merusak rumah tangga kami. Kamu juga seorang perempuan bukan. Aku rasa kamu pasti paham bagaimana rasanya ada diposisiku. Saat suaminya didekati oleh perempuan lain" kali ini Naya bicara sedikit tegas pada perempuan yang juga mencintai suaminya itu.


"Kenapa kamu mau menikah dengan Mas Rian. Bukannya kamu masih sekolah? Tinggalkan mas Rian"


"Hatilah yang bicara. Aku menemukan kenyamanan bernaung didalam hati Kak Rian. Maaf ... Tolong menjauh dari suamiku. Aku tahu kamu mempunyai perasaan pada Kak Rian. Tapi dia adalah suamiku. Dan aku tak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga kami"


"Kenapa kamu tak mau meninggalkan Mas Rian?"


"Tentu saja. Kamu tahu jawabannya. Dia suamiku. Bagiku dialah sosok laki-laki soleh yang sempurna. Aku tak akan membiarkan siapapun merusak kebahagian kami. Siapapun itu. Kamu cantik, menarik bahkan kamu bisa mencari laki-laki lain yang jauh lebih hebat dari Kak Rian. Jadi pergilah dari hidup Kak Rian"


Ratna hanya bisa menangis. Dia makin terpuruk mendengar apa yang dikatakan Naya.

__ADS_1


"Rupanya mereka berdua saling mencintai, dan itu artinya tak ada lagi kesempatan buat aku masuk diantara mereka", batin Ratna.


Dia pergi meninggalkan Naya tanpa mengucap sepatah katapun. Tanpa menoleh lagi kebelakang.


******


"Kamu kenapa, Dek. Melamun saja dari tadi!?" tanya Rian.


"Kak ... " panggil Naya.


"Hmmm.... "


"Tadi temanmu Ratna datang lagi"


"Ooo..."


"Ooo...???" protes Naya.


"Kenapa?"


"Kok kenapa sih, Kak?!" Naya mulai kesal dengan reaksi yang ditunjukkan suaminya.


"Lalu Kak Rian harus bilang apa, Sayang"


"Perempuan itu mencintaimu" ucap Naya.


"Tapi aku hanya mencintaimu, Sayang"


"Aku serius loh, Kak Rian"


Rian memegang kedua bahu istrinya dan dia tersenyum dan menatap mata istrinya dalam-dalam.


"Sayang, terserah apapun yang ada dihatinya. Bagi Kak Rian cuma ada satu perempuan yang ada dihati adalah kamu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu dihati Kak Rian. Kamu istri Kak Rian, sekarang dan selamanya" Rian memeluk Kanaya. Memberikan ketenangan pada perempuan yang sangat disayanginya itu.


"Kak Rian senang kamu seperti ini? Artinya kamu sangat menyayangi Kak Rian bukan?" ucap Rian sambil membelai-belai kepala perempuan halalnya itu.


"Janji ya, Kak. Jangan pernah berubah. Tetaplah menjadi Kak Rian yang seperti sekarang ini" pinta Naya dengan sangat.


"Iya, Kak Rian janji. Kamu percaya sama Kak Rian kan, Dek?"

__ADS_1


"Iya, Kak ... " Kanaya memeluk suaminya. Hatinya merasa sedikit tenang mendengar ucapan suaminya itu. Dia berharap semoga rumah tangganya aman damai sentosa. Saling menjaga hati masing-masing.


******


__ADS_2