Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Si Pengacau, Una


__ADS_3

Tok ... Tok ...


Seseorang mengetuk pintu depan rumah. Rian yang pulang kerja lebih cepat dari biasanya melihat ke pintu depan.


Cekreeeeekkk. ..


"Hai ... " seorang perempuan berambut kecoklatan, dengan pakaian sexy muncul dari balik pintu. Rian sama sekali tak menenali siapa tamunya itu.


"Maaf, kamu siapa ya? Ada perlu apa?" tanya Rian sopan.


Perempuan itu tak menghiraukan pertanyaan Rian, dia menerobos masuk kedalam rumah. Rian terkejut melihat ketidak sopanan tamu itu.


"Maaf, tolong sopan sedikit. Jangan seenaknya masuk tanpa izin kerumah orang" nada bicara Rian mulai meninggi.


"Apa ini yang kamu sebut rumah? Ini seperti gudang dirumahku. Seleranya Naya dari dulu selalu betah hidup susah"


"Kamu kenal Naya?" tanya Rian.


"Kenal?! Apa itu penting bagimu?" perempuan itu menatap pada Rian. Diam-diam dia mengagumi sosok laki-laki yang ada dihadapannya.


"Tampan juga laki-laki ini. Kali ini aku acungi jempol untuk Naya" batinnya.


"Bagaimana kamu bisa mengenal Naya?!" Rian sekali lagi menanyakan hal yang sama pada perempuan tadi.


"Kanaya Davilla Myezha. Anak yang dibuang oleh ayah kandungnya itu, bukan?!"


Rian berusaha mengontrol emosinya. Perempuan ini sungguh menguji kesabarannya. Entah siapa perempuan cantik dan sexy yang ada dihadapannya. Pakaiannya yang minim juga menguji ketahanan hati Rian. Mereka hanya berdua didalam rumah itu. Perempuan itu sungguh menggoda bagi setiap laki-laki yang memandangnya.


"Kak .... " suara Naya yang memanggil dari depan rumah.

__ADS_1


Perempuan itu mendekati Rian dan memeluknya, lalu mencium bibir Rian bertepatan saat Naya berada di ambang pintu. Rian mendorong tubuh perempuan itu. Naya melihat semua nya dengan jelas. Rasa sakit dan sedih membungkus hatinya melihat suaminya dan saudara tirinya berciuman dihadapannya.


"Una ..." bentak Naya.


Rian terkejut mendengar Naya memanggil nama perempuan itu.


"Lama tidak berjumpa, Naya ... " sapa Una dengan seringai mengejek pada Naya.


"Bagaimana kamu bisa sampai disini? Bukannya kamu sedang di panti rehabilitasi?"


"Tidak penting bagaimana aku bisa sampai disini. Uang bisa mengatur segalanya. Oom David memang hebat, dengan pengaruhnya semua urusan beres"


"Kamu memanfaatkan, Papi?"


"Papi mu saja yang bodoh. Dia mudah sekali diatur dan gampang dibodohi"


Plaaakk...


"Lihat saja pembalasanku nanti, Naya. Kamu dan juga Papi mu akan mendapatkan akibatnya. Aku jamin itu. Ingat ucapanku ini" ancam Una.


"Pergilah kamu dari sini. Aku tak ingin melihat mu lagi" Naya mulai emosi menghadapi sikap Una. Una pergi dengan wajah yang marah. Dia menuju mobil yang terparkir di ujung gang. Didalamnya seorang laki-laki sudah menunggu nya. Mereka melarikan mobil itu menuju jalan lintas, menyebrang ke pulau Jawa, lalu menuju kota Bandung.


******


Naya terdiam di sudut tempat tidur. Masih dengan seragam sekolahnya. Dia masih kesal dengan kejadian tadi. Mengingatnya saja sudah membuat hatinya sakit.


"Dek ... " panggil Rian.


Naya diam. Dia menggeser duduknya. Membelakangi suaminya. Rian tak habis akal, dia berputar dan duduk tepat dihadapan Naya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Rian. Naya tetap diam. Rian memegang kedua pipi Naya manghadapkan wajahnya tapat didepan wajah istrinya.


"Ada apa, Sayang?!"


"Apa yang Kak Rian lakukan dengan Una tadi?" cecar Naya kesal.


"Kami tidak melakukan apa-apa!"


"Tadi aku melihat kalian berciuman"


"Itu cuma sebuah insiden kecil. Una yang menciumku. Dia memaksaku" bela Rian pada dirinya sendiri. Dia merasakan aura kecemburuan dan kemarahan dari istrinya itu.


"Dan Kak Rian, menikmati nya?!"


"Tidak, Sayang. Kamu jangan salah paham. Demi Tuhan, Kak Rian tidak seburuk yang ada dalam pikiranmu"


"Dulu Una merebut Papi dari ku, sekarang dia mau melakukan hal yang sama pada Kak Rian" mata Naya mulai menggenang. Rian tersenyum. Dia tau istrinya sedang dibakar api cemburu. Dia berusaha meyakinkan bahwa tidak ada apa-apa antara dia dan Una.


"Dek, percayalah pada Kak Rian. Kami baru kali ini bertemu. Tadi itu perempuan itu yang melakukannya padaku. Kak Rian tak menginginkannya. Kak Rian berani bersumpah demi apapun itu"


Naya terdiam. Dia tahu benar sifat suaminya dan juha watak saudara tirinya itu. Kak Rian benar, aku harus percaya pada suamiku sendiri. Begitu batinnya.


"Kak ... " panggil Naya.


"Hmm... "


"Maafkan, aku ya ... tadi aku sempat tidak kontrol emosi. Aku sudah mencurigai Kak Rian" Naya mengambil punggung tangan suaminya lalu menciumnya. Meminta maaf dan restu dari suaminya. Rian tersenyum dan membelai kepala istrinya dengan lembut.


"Kak Rian juga minta maaf pada mu ya, Dek. Kak Rian jadi membuat hatimu kesal dan marah" Rian mendekatkan wajahnya pada Naya, mencium lembut bibir mungil perempuan yang disayanginya itu.

__ADS_1


******


__ADS_2