
Rian berusaha bangun perlahan-lahan, entah sudah berapa lama dia berada disitu seorang diri. Dia duduk diam menghanyutkan diri dalam derasnya hujan. Sepi dan dingin yang menyelimuti sekelilingnya. Dia bangkit dan berjalan terseok-seok menuju rumahnya.
"Naya ... " ucapnya lirih.
Dia menyandarkan diri pada dinding rumah nya. Tak lagi dia rasakan luka lebam pada tubuhnya, yang ada dipikirannya adalah bagaimana keadaan istrinya sekarang.
******
Pesawat pribadi yang membawa David dan Naya sampai dibandara. Disana sebuah Fortuner hitam sudah menunggu mereka. David tetap memegang kuat tangan Naya. Menariknya naik kemobil. Mereka meluncur ke sebuah rumah besar diselatan kota. Rumah besar yang terlihat sepi. Penjagaan ketat membuat Naya tak bisa berbuat apa-apa.
"Teh Naya ..." Doni turun dari kamarnya dilantai dua.
Naya berlari memeluk adik tirinya.
"Mulai hari ini kamu tidak, Papi izinkan keluar rumah"
"Apa-apaan ini, Pi? Apa yang Papi lakukan? Mana Kak Rian?" tanya Doni dengan nada tinggi.
"Jangan pernah sebut lagi nama laki-laki itu dirumah ini, Doni"
"Tapi Kak Rian adalah suami Teh Naya. Apa maksud Papi melakukan ini. Papi mau memisahkan mereka?"
"Aku tidak pernah merestui pernikahan mereka!"
"Bukankah, Papi yang mengizinkan Teh Naya menikah. Papi juga yang mewakilkan wali nikah Teh Naya pada penghulu?"
"Aku tidak seserius itu mengatakannya"
"Apa, Pi? Jadi papi menganggap hidup Naya ini adalah mainan?! Tega sekali, Papi" protes Naya.
David berang mendengar ucapan Naya. Dia hendak memukul Naya, namun dengan cepat Doni menarik lengan tetehnya dan memeluknya. Hingga pukulan David hanya melawan angin.
"Bagaimanapun juga pernikahan teh Naya dan Kak Rian tetap sah di mata agama maupun hukum negara. Papi tak bisa berbuat seenaknya seperti itu" bela Doni pada kakak perempuan nya itu.
"Terserah apa katamu, jangan pernah ikut campur dengan urusan Papi"
__ADS_1
"Kalau itu menyangkut Teh Naya, Doni berhak ikut campur. Teh Naya adalah kakak Doni. Doni tak mau siapapun menyakiti dia. Termasuk papi" Doni tampil menjadi pembela bagi kakak perempuan satu-satunya itu.
David tidak memperdulikan ucapan Doni. Baginya Doni adalah anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang kerasnya kehidupan. David membawa naya kekamar atas. Lalu memerintahkan dua orang untuk berjaga di depan pintu.
******
"Maaf tuan muda, anda dilarang masuk" cegah pengawal didepan pintu kamar Naya. David memerintahkan dua orang pengawal bertubuh besar menjaga Naya didalam kamarnya agar tidak keluar.
"Menyingkirlah, aku ingin bertemu dengan kakakku" Doni tak memperdulikan para penjaga itu. Dia menyerobot masuk kedalam kamar.
Cekreeeeekkk. ..
Naya menangis diatas tempat tidur. Wajahnya sembab dan pucat. Sudah tiga hari dia dikurung didalam kamar.
"Teh ... " panggil Doni.
Naya menoleh. Dia menghapus airmatanya. Dia duduk diatas tempat tidur. Doni pun duduk dihadapannya.
"Teh Naya baik-baik saja?" Doni memegang kepala tetehnya. Wajah Naya begitu pias. Sembab karena puas menangis.
"Teh Naya demam?!"
"Doni ambilkan obat ya, Teh"
Naya menggeleng.
"Teh Naya, kangen dengan Kak Rian?"
Naya mengangkat kepalanya. Menatap mata adik tirinya. Airmatanya mengalir. Dia menjatuhkan kepalanya pada bahu Doni.
Doni mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Ponsel miliknya. Lalu dia mencoba menghubungi kakak iparnya melalui telepon vidio.
Tuuuut.... Tuuut ....
Tak lama telepon itu diangkat oleh Rian. Doni menyerahkan ponselnya pada Naya.
__ADS_1
"Kak ..." mata Naya berbinar melihat wajah laki-laki halalnya dilayar ponsel.
"Dek... Kamu baik-baik saja?" tanya Rian cemas. Naya tak dapat menutupi raut wajahnya yang sembab dan pucat dari Rian.
Naya tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia hanya menangis. Dia melihat banyak luka pada wajah dan tubuh suaminya. Hatinya semakin hancur melihat keadaan Rian.
"Kak Rian kenapa?" tanya Naya lirih.
"Tak usah khawatir dengan luka ini. Kak Rian baik-baik saja, Sayang"
"Bagaimana baik-baik saja wajahmu lebam begitu, Kak. Anak buah papi yang melakukan ini, bukan?"
Rian tak menjawab. Dia tak ingin istrinya cemas.
"Bagaimana kabarmu, Sayang. Kamu pucat sekali. Kami terlihat lebih kurus. Ya, Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa melindungimu disana"
Doni mengambil ponsel itu, dia bicara pada kakak iparnya dengan tegas.
"Kak Rian, tak usah khawatir selama masih ada Doni disini, tak akan Doni biarkan siapapun menyakiti Teh Naya. Doni akan menjaga Teh Naya disini menggantikan Kak Rian"
"Terima kasih, Dek. Tolong jaga Naya untukku" pinta Rian.
Doni mengangukkan kepalanya, lalu memberikan lagi ponselnya pada Naya.
"Dengar saya6ng, tunggulah disana sampai Kak Rian datang menjemputmu. Tunggulah sampai saat itu tiba. Kak Rian janji akan secepatnya kesana membawamu kembali. Jadi tenanglah. Bersabarlah, Sayang. Kamu percaya sama Kak Rian, bukan"
"Ya, Kak. Aku percaya pada Kak Rian. Aku akan tetap menunggu Kak Rian datang menjemputku. Aku akan bersabar dan bertahan sampai hari itu datang. Aku akan menjaga jiwa raga dan hati ini untuk mu"
Rian tersenyum. Dia percaya pada perempuan yang disayanginya itu seperti itu pun Naya padanya. Mereka harus menahan rindu untuk bisa bertemu walaupun hanya bisa lewat vidio call, sudah cukup sebagai pengobatnya.
Braaaakkk...
Tiba-tiba David masuk dan merampas ponsel itu. Dia mengeluarkan kartu sim dan mematahkannya. Lalu melemparkan ponsel itu keluar jendela hingga hancur berkeping-keping.
"Berani sekali kamu, Doni!!!" bentaknya.
__ADS_1
Naya dan Doni terpaku melihat apa yang diperbuat papi mereka. David menyeret Doni keluar dan mengunci Naya dalam kamar.
******