
Sudah satu minggu ini Kanaya tidak fokus pada belajarnya. Padahal sejak dua hari lalu dia sudah memasuki ujian tengah semester genap.
"Ada apa, Dek? Belakangan ini kamu terlihat lebih diam dan murung? Apa ada masalah disekolah?"
Kanaya tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Adrian mendekati istrinya.
"Kamu yakin, sayang? Kalau ada masalah cerita sama Kak Rian" Rian mengusap kepala istrinya.
Naya hanya tersenyum kecil. Lalu mengalihkan pandangannya pada buku yang ia pegang. Padahal dia sama sekali tidak membaca buku itu. Pikirannya melayang entah kemana.
"Ya, sudah. Kak Rian pergi sebentar ya. Kamu hati-hati dirumah. Kunci semua pintu"
"Kak ..." panggil Naya.
"Hmmm..."
"Mau kemana hari minggu seperti ini?"
"Ada urusan dikampung sebelah. Kenapa, Dek?"
"Tidak ada apa-apa. Hati-hati dijalan, Kak"
Rian menghidupkan motornya lalu pergi menuju kampung sebelah yang jaraknya cukup jauh. Rasa penasaran Kanaya semakin menumpuk dihatinya. Siapa yang dia temui dikamoung sebelah itu?, batinnya.
Tok ... Tok ...
Seseorang mengetuk pintu depan.
Cekreeeeekkk ...
"Selamat siang, maaf mengganggu..."
Perempuan yang kemarin bersama suaminya muncul di balik pintu.
"Selamat siang. Mas Rian nya ada?"sapa Ratna sopan, namun dimata Naya senyumnya begitu menyebalkan
"Ooh, dia baru saja pergi"
"Pergi? Kemana?"
"Entahlah. Dia tidak bilang apa-apa"
__ADS_1
"Waah... Sayang sekali. Aku ingin mengajaknya keluar hari ini. Namun sepertinya dia ada urusan lain"
"Kalau urusan pekerjaan lebih baik dibicarakan besok saja dikantor" ucap Naya kesal.
"Ooh, bukan. Ini buka. Urusan pekerjaan. Aku hanya ingin mengajaknya jalan keluar. Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua"
"Hal sepenting apa yang harus dibicarakan berdua diluar jam kerja?" batin Naya.
Naya mulai kesal melihat tingkah perempuan yang ada dihadapannya. Dasar perempuan centil, berani sekali kamu mengajak suami orang, gerutu Naya didalam hati.
"Ah, bukan apa-apa ini hanya pembicaraan pribadi antara kami. Ya, sudah kalau begitu sampaikan saja pada Mas Rian kalau aku mencarinya kesini"
"Baiklah"
******
Tok... Tok ...
"Dek... " panggil Rian.
Cekreeeeekkk ... Dengan malas Naya membukakan pintu kamarnya.
Rian muncul didepan pintu dengan sebuah kue tart bertuliskan, "Happy Milad Pernikahan Pertama Istriku". Naya terkejut melihat itu. Dia lupa kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan nya yang pertama.
"Kak Rian, ingat hari ini?"
"Tentu saja, Sayang..."
"Kak Rian akan selalu ingat hari bahagia kita itu. Yuk, keluar. Kita makan kue nya" Rian mengajak istrinya duduk di ruang depan. Duduk bersila tanpa kursi dilantai. Naya mengambil dua buah piring dan sendok. Dua buah gelas dan jus jeruk. Lalu sebuah pisau kue.
Tanpa dikomando lagi, Rian memotong kue itu lalu meletakkannya diatas piring kue yang dibawa Naya. Mengambil sebuah sendok lalu menyuapi istrinya sepotong kue.
"Aaaaaag... "
Naya membuka mulutnya. Menerima suapan kue dari suaminya.
"Semoga rumah tangga kita bahagia, sakinah mawadah warahmah. Sampai akhir hayat"
"Aamiin ..." ucap Naya.
"Coba lihat ini, Dek"
__ADS_1
Rian menyodorkan sebuah buku tabungan. Naya membukanya.
"Apa ini, Kak?"
"Kak Rian, mengumpulkan sedikit dari gaji Kak Rian buat masa depan kita. Untuk kamu. Istri Kak Rian yang paling tersayang"
Naya terdiam. Dia tak bisa berkomentar apa-apa. Tapi dia bahagia melihat apa yang dipikirkan suaminya.
"Kak ..." panggil Naya.
"Hmmmm..."
"Apa benar Kak Rian sayang sama aku?"
"Tentu saja, Sayang"
"Kak Rian yakin?"
"Hei ... Ada apa ini? Pertanyaan mu tak biasanya, Dek?" Rian mengerutkan kedua alisnya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku berfikir kenapa Kak Rian mau menerima ku sebagai istri, padahal kan aku masih kekanak-kanakan. Manja. Cengeng. Dan tidak cantik. Diluar sana pasti banyak perempuan yang dewasa dan tidak cengeng. Cantik dan mandiri" ucap Naya sedikit emosional.
"Eeeh..." Rian bengong mendengar ucapan istrinya. Wahh, obrolan yang tak biasanya ini, pikirnya.
"Sayang ... Kemarilah .." panggil Rian.
Naya mendekat. Dia duduk bersisisan dengan suaminya. Rian memutar arah duduknya. Sekarang mereka saling berhadapan.
"Dengar Sayang, aku mencintai perempuan yang ada dihadapanku ini apa adanya. Dengan segala kekurangan yang dia miliki. Dengan segala ke-tidak sempurnaan nya. Kak Rian tak perduli dengan apapun yang ada diluar sana. Dimata Kak Rian, kamulah satu-satunya perempuan yang Kak Rian cintai dengan seluruh hidup Kak Rian. Kamu adalah perempuan cengeng yang paling ingin Kak Rian jaga dan lindungi seumur hidup. Yakinlah, dalam jiwa raga ini hanya Kak Rian abdikan untuk mencintai dan menjagamu seumur hidup" papar Rian panjang lebar.
Naya tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya meleleh bagai es yang mencair mendengarkan ucapan suaminya. Airmatanya mengalir dikedua pipinya. Rian dengan lembut menghapus airmata yang jatuh itu.
"Kak Rian percaya pada mu sama seperti kamu percaya pada Kak Rian. Percaya pada kekuatan cinta kita berdua. Apapun yang terjadi Kak Rian akan menjaga hati ini untuk mu" jelas Rian lagi.
Naya menganguk.
"Aku juga percaya dengan Kak Rian. Aku juga janji akan jaga hati, jiwa dan raga ini hanya untuk suamiku. Terima kasih ya kak, sudah mencintai aku seindah ini"
"Tidak, Sayang. Aku yang harusnya berterimakasih padamu. Kamu itu istri terbaik yang ada didunia ini" Rian mendekap istrinya didadanya. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Mereka menghabiskan malam dengan bercengkrama dan berbicara dari hati ke hati.
******
__ADS_1