Menjemput Bahagia Bersamamu

Menjemput Bahagia Bersamamu
Dua Berita Duka


__ADS_3

"Innalilahi wa innailaihi roji'un ..."


Naya terdiam, airmatanya mengalir dikedua belah pipinya. Sesak nafas didadanya saat Doni menelepon nya mengabarkan bahwa Mami nya sudah dipanggil Tuhan. Naya sudah ditengah perjalanan menuju rumah sakit saat itu.


Begitu mendengar Mami Lis dalam keadaan kritis Naya langsung bergegas kerumah sakit. Namun ditengah jalan kabar duka itu datang. Setengah berlari dia mencari Doni.


"Dek ... " panggil Naya.


"Teh Naya ..." Doni langsung memeluk kakak tirinya. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Naya. Padahal hari ini dia baru menerima kabar kelulusannya dari SMA, dia hendak memamerkannya pada Maminya. Namun tak disangka keadaan maminya semakin menurun.


"Yang sabar, Dek. Yang sabar, Sayang ... " Naya memeluk dan membelai kepala adik tirinya. Dia mencoba menguatkan hati adiknya itu. Dia paham benar rasanya kehilangan itu seperti apa. Dia pernah merasakan duka itu saat mami nya meninggal dunia.


******


Suasana pemakaman Lis ramai oleh kolega Papinya serta teman-teman sekolah Doni. Mereka turut mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Lis. Karangan bunga masih menghiasi rumah keluarga Myezha. Para tamu takziah pun ramai yang hadir sampai hari ketujuh kematian Lis.


"Dek ..." panggil Naya, Doni menghapus airmatanya. Dia menoleh pada Naya yang duduk disebelahnya.


"Kamu harus kuat, Dek. Ini yang terbaik buat mami Lis"


"Teh, Doni mohon Teh Naya mau memaafkan semua kesalahan mami, semua perbuatan mami sama Teh Naya. Ikhlaskan semua yang telah mami perbuat sama teh Naya" pinta Doni yang masih terisak mengenang maminya.


"Tentu saja, Dek. Teh Naya sudah memaafkan mami Lis dari dulu. Kamu jangan khawatir"

__ADS_1


"Terima kasih, Teh"


******


"Maaf Sayang, sepertinya Kak Rian harus menunda untuk kesana menemuimu. Oom Yusuf kritis. Sejak semalam keadaannya memburuk"


"Oom Yusuf?"


"Ya, Dek. Sekarang Kak Rian ada di RS. Mount Elizabeth Singapura. Sudah seminggu Oom Yusuf dirawat disini. Dua hari terakhir keadaan nya memburuk"


"Ya, Tuhan ... Semoga Oom Yusuf segera pulih. Aku hanya bisa doakan dari sini, Kak"


"Ya, Sayang. Tidak apa-apa"


"Ya, sampaikan salamku buat Doni. Kak Rian turut berduka cita, maaf Kak Rian tidak bisa kesana"


"Ya, Kak. Nanti aku sampaikan pada Doni"


Naya menutup telepon nya. Sudah pukul sepuluh lima belas menit, sudah hampir tengah malam. Dia membaringkan tubuhnya dikasur. Mencoba untuk tidur.


Drr.... Drrr....


Ponselnya berbunyi. Naya meraih ponselnya yang terletak diatas meja. Dengan separuh mengantuk dia membuka layar ponselnya. Sebuah pesan WhatsApp dari suaminya.

__ADS_1


"Dek, Oom Yusuf baru saja meninggal dunia. Dokter gagal menyelamatkan nya"


Ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh diatas tempat tidur. Lagi, airmatanya mengalir mendengar kabar duka itu. Dalam waktu satu minggu, dua orang terdekatnya dipanggil Yang Maha Kuasa.


******


Tok ... Tok ...


"Teh ... " panggil Doni. Dia mengetuk pintu kamar Teh Naya nya.


Cekreeeeekkk. ..


"Baru bangun, Teh?" tanya Doni.


"Sudah, dari tadi. Hanya saja Teh Naya tidak enak badan. Semalam tidak bisa tidur. Kak Rian menelepon kalau Oom Yusuf meninggal dunia di rumah sakit Singapura. Pagi ini jenazahnya di bawa ke Pangkal Pinang"


"Innalilahi wa innailaihi roji'un ..." ucap Doni terkejut.


"Oom Yusuf begitu baik sama kami, dia yang mempertemukan Teh Naya dan Kak Rian lagi. Kalau bukan karena Oom Yusuf mungkin Teh Naya akan kehilangan komunikasi selamanya dengan Kak Rian" kenang Naya.


"Iya, Kak. Semoga Kak Rian tabah ya. Doni doakan kalian berdua segera menyatu kembali"


"Aamiin ... Terima kasih, Dek"

__ADS_1


******


__ADS_2