
Sudah dua minggu ini kota Pekanbaru dilanda hujan angin hampir setiap harinya. Hari ini sejak sore hari sudah hujan, dan malam ini hujan semakin deras disertai angin yang cukup kencang. Naya menunggu kepulangan suaminya dengan cemas. Sudah pukul sembilan malam Adrian belum sampai juga dirumah.
Dia bolak-balik mengintip di jendela. Suara petir yang menyambar membuatnya takut. Hampir pukul sepuluh baru terdengar suara motor berhenti didepan rumah. Buru-buru Naya membukakan pintunya. Dengan basah kuyup Rian memasukkan motornya kedalam rumah.
"Ini handuknya, Kak. Keringkan dulu badannya, aku sedang merebus air untuk mandi Kak Rian"
Rian membuka kemeja nya, lalu memberikan pada Naya. Dia mengeringkan tubuh dan kepalanya yang basah oleh air hujan. Naya menuang sepanci air panas dan mencampurnya dengan air dingin, memastikan air itu cukup hangat untuk suaminya mandi.
"Kak, airnya sudah siap" ucap Naya.
Rian langsung membersihkan diri dan menyiram seluruh tubuhnya dengan air hangat. Setelah mengganti pakaian Rian duduk di depan televisi.
"Ini teh panas nya, Kak. Buat menghangatkan badan" Naya meletakkan secangkir teh panas didepan suaminya.
"Terima kasih, Dek"
Gledaaarrrr.....
Suara kilat menggelegar dan seketika lampu rumah padam. Naya berteriak saat guntur menggema lalu dengan refleks dia memeluk suaminya. Rian hanya tersenyum, dia gemas melihat istrinya yang ketakutan mendengar suara petir.
"Kak ... " ucap Naya ketakutan.
"Hmmm... "
"Gelap sekali"
"Bagus dong, sayang", goda Rian.
__ADS_1
Naya mencubit pinggang Rian, dia kesal malah di ledek seperti itu oleh suaminya.
"Aauuww ... iyayayaa ... Maaf sayang. Habisnya aku senang dipeluk kamu seperti ini" ucap Rian sambil mencium pucuk kepala istrinya.
"Takut, Kak .." Naya mempererat dekapannya.
"Tenang saja, ada Kak Rian disini" Rian menyalakan senter yang ada pada ponselnya. Naya tetap memeluk suaminya. Dia tak berani membuka matanya. Rian makin gemes dibuatnya.
Klip...
Tak lama listrik kembali menyala. Naya membereskan gelas minum Rian tadi, lalu pergi tidur. Diluar hujan masih mengguyur kota. Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Entah kenapa dia tiba-tiba terbangun dan tak bisa tidur lagi. Naya membuka pintu kamarnya, hendak mengambil segelas air minum di dapur.
Dia melihat kearah ruang depan, suaminya sedang tertidur. Dia mendekati nya.
"Ya, Tuhan ... Panas sekali, Kak. Kak Rian demam?"
Tubuh Adrian menggigil kedinginan namun suhu tubuhnya sangat tinggi. Naya kembali kekamarnya dan mengambil obat penurun panas dan multivitamin.
"Tidak usah, Dek. Jangan khawatir ini hanya demam biasa. Efek kehujanan tadi"
Naya tak dapat memejamkan matanya. Dia kembali lagi dan melihat keadaan suaminya. Keringat mengucur dari tubuh Rian. Naya mengambil sebaskom air dan handuk kecil dia. Mengelap dan membersihkan keringat ditubuh suaminya. Lalu memberikannya baju ganti, karena pakaian Rian sudah basah dengan keringat.
"Kak, lebih baik Kak Rian masuk saja kekamar. Aku takut Kak Rian makin menggigil tidur dilantai seperti ini" pinta Naya dengan nada khawatir.
Rian mengangukkan kepala. Lalu Naya membantunya bangun dan berjalan menuju kamar. Dia mengambil sebuah selimut tebal dari dalam lemari. Menyelimuti suaminya, lalu meletakkan handuk basah di kepalanya agar demamnya segera turun.
******
__ADS_1
Rian terjaga dari tidurnya, dia memegang kepalanya. Rupanya demamnya sudah kabur. Naya tertidur di kursi disebelah tempat tidurnya. Masih pukul tiga pagi. Dia turun dari tempat tidurnya dan memindahkan Naya ke atas tempat tidur. Tepat disebelahnya. Dia menyandarkan kepala Naya dalam lengannya dan berbagi selimut dengan istrinya.
Malam berlalu dengan cepatnya. Naya terbangun mendengar suara adzan subuh dari masjid yang tak jauh dari kontrakan mereka. Naya mencium aroma tubuh yang tak asing baginya.
"Kak Rian ... " Dia melihat dirinya sudah berada diatas tempat tidur. Rupanya Kak Rian yang memindahkan nya. Naya memegang kepala laki-laki yang tidur disebelahnya.
"Alhamdulillah ... Panas nya sudah turun"
Aaaaaghh...
Rian menarik tangan Naya hingga dia terjatuh diatas dada suaminya.
"Kak, Rian sudah bangun..." tanya Naya.
"Sudah dari tadi"
"Kenapa tidak ke masjid. Biasanya Kak Rian jama'ah ke masjid"
"Tidak bisa" jawab Rian singkat.
"Kenapa"
"Kamu tertidur didalam pelukanku, kepalamu menghimpit lenganku, sayang"
"Kenapa tak membangunkan ku saja, Kak" Naya merasa tidak enak.
"Aku tak tega mengganggu tidurmu, sayang. Maaf ya .. "
__ADS_1
Naya terdiam. Itulah suaminya. Gaya romantismenya yang khas selalu bisa membuat hatinya meleleh.
******