
Baru kali ini Doni menghubunginya setelah berbulan-bulan tak ada kabar. Doni selalu menelepon ke ponsel Rian secara diam-diam, dia takut Papi atau Mami nya tahu tentang Naya. Doni tak ingin Teh Naya kesayangannya mendapat kesulitan kelak.
"Teh Naya dan Kak Rian apa kabarnya disana" tanya Donu diujung teleponnya.
"Alhamdulillah baik Dek, kami berdua sehat-sehat"
"Teh Una kemarin terciduk polisi, Teh" cerita Doni saat menghubungi Naya.
"Astaga, Una kenapa, Dek?"
"Tertangkap saat pesta sabu di sebuah diskotik bersama teman-temannya, Teh. Papi lagi mengusahakan agar Teh Una bisa direhabilitasi, tidak sampai masuk bui" papar Doni lagi.
"Mami Lis bagaimana mendengar berita itu? Dia pasti shock sekali ya, Dek?"
"Pasti, Teh. Mami bukan lagi panik saat polisi kerumah memberi kabar. Dia mati-matian membela Teh Una. Cuma dia tidak bisa mengelak, sudah ada barang bukti dan tes urin serta rambutnya yang positif"
"Yang, sabar ya, Dek. Teh Naya harap kamu tidak terjerembab dalam obat-obatan terlarang seperti Una. Teh Naya berharap banyak dari kamu, Dek"
__ADS_1
"Insha Allah, Teh. Doni akan jaga diri dari hal-hal buruk seperti itu"
"Aamiin..."
"Ya sudah, Teh. Yang penting Teh Naya dan Kak Rian jaga diri baik-baik disana. Salam sama Kak Rian ya, Teh. Doni tutup dulu telepon nya. Nanti ada yang dengar"
Naya meletakkan kembali ponsel Rian diatas meja. Dia duduk dilantai depan televisi. Dia memikirkan nasib saudara tirinya. Una memang tak pernah baik padanya, namun bagaimana pun dia adalah anak dari istri papi nya. Dia harus menghormati mereka, begitulah yang diajarkan mami pada nya.
"Dek ... Ada kabar apa dari, Doni?" tanya Rian yang sedari tadi mendengarkan obrolan istrinya dari dapur.
"Lalu?"
"Papi sedang mengusahakan untuk merehabilitasi nya agar dia tak masuk bui. Mami Lis pasti sedih ya, Kak. Anak perempuan satu-satunya jadi seperti itu"
"Sudah jalanan nasib Dek. Kita doakan saja semoga mereka dapat melewati semua ini dengan besar hati"
"Aamiin... Semoga saja, Kak"
__ADS_1
"Bagaimana sekolahmu, Sayang. Sebentar lagi kamu akan ujian nasional, bukan?"
"Iya, Kak. Semester besok disekolah mulai ada tambahan belajar untuk persiapan. Jadi sepertinya akan pulang lebih sore"
"Ya, sudah. Fokus saja dengan ujian mu. Urusan rumah tak usah di ambil pusing. Kalo kamu repot atau lelah, beli sayur matang saja di warung ujung. Kak Rian tidak mau istri kesayangan Kak Rian jadi sakit nantinya"
"Ya, Kak"
******
Bagi Naya yang sudah terbiasa menjalankan dua peran sekaligus, sebagai seorang pelajar yang sekarang ini sudah duduk dikelas tiga SMA dan sebagai seorang istri. Dia sangat beruntung memiliki suami yang mendukung pendidikan nya. Rian tak banyak menuntut istrinya harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna. Dia ingin istrinya tetap menikmati masa remajanya seperti teman sebayanya. Namun Naya pun cukup tau diri dan sadar akan posisi yang kini tidak sendiri lagi.
"Yang penting dalam sebuah ikatan pernikahan adalah keterbukaan dan saling percaya dengan pasangan kita. Tak perduli seberapa jauh jarak yang memisahkan, jika hati sudah saling percaya dan menyatu, pasti rumah tangga akan damai tentram. Tapi sebaliknya seberapa dekat jarak menyatukan, andai tidak ada lagi rasa saling percaya dan keterbukaan, niscara itu akan membuat rapuh biduk rumah tangga. Ketika pasangan kita tak sesuai dengan apa yang kita harap, hanya ada dua hal yang terbaik yang harus kita lakukan. Ikhlas menerimanya apa adanya atau setia temani dia berperoses menjadi seperti apa yang kita inginkan" ucapan Rian pada istrinya.
Kata-kata itulah yang selalu di ucapkan dan dipraktekkan Rian pada istrinya. Memasuki tahun kedua pernikahan mereka, cukup banyak ujian yang telah mereka lalui. Bahkan sampai saat ini kedua hati mereka masih tetap saling menyatu satu sama lain. Saling percaya dan saling terbuka, setia dalam mendampingi pasangan yang saling berproses dalam kebaikan.
******
__ADS_1