
"Apa??!! Megister ?" Naya setengah teriak pada Dima.
"Iya, keren kan. Dia lulusan terbaik diangkatannya. Sekarang melanjutkan megister nya difakultas yang sama disini?"
Naya menghela nafas panjang, artinya Aldi akan lebih lama menggangunya.
"Kenapa, Naya?" tanya Dima yang heran melihat helaan nafas Naya.
"Tidak apa-apa"
"Kenapa kamu benci sekali sama Aldi?"
"Tidak. Aku tidak benci. Hanya tidak suka saja melihat tingkahnya"
"Tapi sepertinya dia sungguh-sungguh mencintaimu, Naya"
"Itu hak dia" jawab Naya acuh.
"Kamu sendiri?"
"Aku tak ada perasaan apapun terhadapnya"
"Kenapa?" selidik Dima.
"Lah... Kenapa harus kenapa?"
"Ya, harus ada alasannya dong kalau tidak suka dengan seseorang"
"Aku tidak bisa"
"Masalah pacar mu itu?"
"Pacar?" Naya mengerutkan kedua alisnya.
"Ya, ampun Naya. Itu loh, laki-laki yang kamu sebut sebagai pacar dunia akhirat mu itu. Sepertinya kamu sudah mentok sama dia. Sudah tak bisa berpaling hati lagi. Aku jadi penasaran siapa dia"
Naya hanya tersenyum.
"Iiih .. malah senyum sendiri. Belakangan ini aku lihat kamu ceria sekali. Hatimu sedang berbunga-bunga ya. .. ada apa sih?"
"No, kepo ?!" Naya bangkit dari duduknya di teras kelas lalu masuk kedalam. Dima mengejarnya. Dia tetap mencecar Naya dengan serentet pertanyaan yang ada dibenaknya.
******
"Selamat siang, Nona..." lagi-lagi Aldi menggoda Naya. Naya dan Dima menoleh pada suara yang menyapa itu. Aldi dengan senyuman manisnya yang khas menghampiri mereka yang sedang menikmati makan siang di kantin kampus.
"Sedang makan siang?" tanya Aldi lagi.
__ADS_1
Dima menoleh pada Naya. Dia tidak bereaksi apa-apa. Dengan santai dia menghabiskan soto yang ada dihadapannya. Dima menoleh pada Aldi. Laki-laki itu masih menatap pada Naya.
Drrr... Drrr...
Ponsel Naya berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan pergi ke meja kosong paling ujung. Menjauh dari kedua orang yang terbengong melihatnya.
"Assalamualaikum, Dek ... "
"Waalaikumsalam, Kak ..."
"Sedang apa, Sayang?"
"Sedang makan siang dikantin kampus. Kak Rian sudah makan?" tanya Naya pada suaminya.
"Sudah. Tadi Kak Rian juga makan diluar. Kak Rian kangen masakan mu, Sayang"
"Nanti aku buatkan makanan apapun yang Kak Rian mau. Tapi harus dimakan ya?"
"Pasti, dong. Masakan kamu adalah masakan terlezat didunia" puji Rian.
Naya tersenyum mendengarnya. Aahh... Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar pujian romantis dari suaminya. Naya sampai lupa dua orang temannya yang memperhatikan dia dari jauh.
"Dek ... " panggil Rian.
"Iya, Kak ..."
"Nanti tolong kamu kirimkan no rekening mu ya, Sayang" pinta Rian diujung teleponnya.
"Kak Rian mau kirim uang buat kamu. Buat membeli semua kebutuhan kamu disana"
"Uang?" tanya Naya heran.
"Bukankah Kak Rian ini suamimu? Ini kewajiban Kak Rian untuk menafkahi istri. Walaupun disana pasti Papimu punya segalanya. Tapi Kak Rian tidak mau lepas tanggung jawab begitu saja" jelas Rian pasti. Lagi, Naya tersenyum dan merasa tersanjung dibuat nya. Adrian adalah laki-laki yang paling bertanggungjawab atas hidupnya. Makanya dia tak bisa menggeser posisi suaminya dalam hatinya.
Klik .... Naya menekan tombol kirim pada ponselnya. Dia mengirimkan nomor rekening yang diminta suaminya tadi.
"Telepon dari pacar mu?" Aldi menghampirinya.
"Bukan" jawab Naya.
"Kamu bohong! air mukamu terlihat begitu bercahaya dan sangat bahagia. Dari gesture tubuhmu mengisyaratkan adanya hubungan yang dekat antara kalian berdua" papar Aldi.
"Wah, rupanya aku salah berhadapan dengan mahasiswa megister psikologi terbaik. Tebakan mu boleh juga" cetus Naya sambil menarik sedikit ujung bibirnya.
"Jadi benar dia pacarmu?"
"Bukan" jawab Naya.
__ADS_1
"Kamu bohong lagi!"
"Permisi, jemputanku sudah datang"
"Siapapun dia, selama janur kuning belum terpasang dirumahmu, aku akan mengejarmu. Aku masih punya kesempatan"
"Maaf, kesempatan mu sudah tidak ada lagi ..." Naya tak menggubris lagi ucapan Aldi. Dia langsung naik kemob dan pergi menuju rumahnya.
******
Naya duduk dikursi belakang. Seorang sopir dan pengawal menjemput nya sepulang kuliah. Jika Doni tak bisa menjemput nya, maka utusan papi nya akan menjemputnya dikampus.
Drr.... drrr...
Sebuah pesan notifikasi masuk di ponselnya. Naya membukanya.
"Tiga puluh juta??" gumamnya.
Sejumlah dana masuk kedalam rekeningnya. Jumlah yang cukup banyak. Naya mengecek pengirimnya melalui aplikasi mobile banking nya.
"Adrian Fauzy Nugraha"
Ternyata sejumlah uang itu berasal dari suaminya. Banyak sekali Kak Rian transfernya.
"Kak, uangnya sudah masuk. Banyak sekali Kak Rian transfer nya. Tiga puluh juta"
Dia mengirim pesan WhatsApp pada suaminya. Dia tak berani menelepon. Bahaya kalau sampai didengar para bodyguard nya itu.
Klik....
Dia membuka balasan dari Rian.
"Semua milikmu, Sayang. Ambillah. Manfaatkan untuk kebutuhanmu disana. Maaf, Kak Rian tidak bisa kasih banyak"
"Ini banyak sekali loh, Kak"
"Buat istriku tersayang"
"Kak Rian disana bagaimana?" balas Naya lagi.
"Jangan khawatir, Kak Rian ada gaji disini. Cukup buat hidup Kak Rian"
"Terima kasih, Kak"
"Love you, Dear"
Klik ...
__ADS_1
Naya menutup ponselnya lalu memasukkannya kedalam tas. Rasanya tak sabar hati Naya ingin segera bertemu dengan laki-laki halal yang sangat dia rindukan itu, mungkin harus bersabar sedikit lagi. Sampai jalan takdir membimbing mereka bertemu.
******