
Tok .... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Ada apa, Bi?" tanya Rian
"Maaf tuan, Tuan besar memanggil anda diruang kerjanya!"
"Papi memanggilku?"
"Benar, Tuan"
"Baiklah, sebentar lagi aku kesana, Bi"
Rian terdiam. Ada apa mertuanya memanggilnya. Biasanya mereka tak pernah saling bicara. David tak perduli dengan keberadaannya dirumah itu. Rian menyiapkan diri. Menata hatinya. Mengatur pola nafasnya. Dia berjalan perlahan menuju ruang kerja David.
Tok... Tok...
Cekreeeeekkk ....
__ADS_1
David menoleh kearah pintu masuk. Rian berdiri dibalik pintu.
"Masuklah" kata David singkat.
Rian masuk kedalam ruang kerja yang besar itu.
"Duduklah"
David mempersilakam Rian duduk di sofa. Rian menanggapinya dengan tenang dan sopan. Dia berusaha sebaik-baiknya mengendalikan diri, karena orang yang dihadapinya adalah Papi kandung istrinya.
"Maaf memanggilmu tiba-tiba begini"
"Kamu akan membawa istrimu bersamamu ke Batam, bukan begitu?"
"Iya, Pi"
"Apakah kamu sanggup menjaga putri kesayangnku dengan seluruh hidupmu? Jangan sampai aku mendengar Naya menderita disana. Kalau sampai itu terjadi kamu tak akan selamat dari tanganku" tantang David dengan pandangan mata serius pada Rian. Dia benar-benar ingin memastikan putri kesayangannya aman bersama laki-laki selain dirinya.
Rian tersenyum. Jiwa kelaki-lakiannya tertantang mendengar ucapan mertuanya itu. Dengan tegas Rian menjawab tantangan mertuanya itu.
__ADS_1
"Papi tidak perlu khawatir. Karena Rian akan menjaga istriku dengan segenap jiwa dan ragaku. Sejak ijab kabul Rian ucapkan, Naya telah sah menjadi istri Adrian Fauzy Nugraha, dan sejak saat itu hidup Naya adalah tanggung jawab Rian, lahir dan batinnya" jawab Rian tegas.
Mata David menatap tajam pada menantunya itu, dia membaca kesungguhan dan ketulusan hati dari Rian.
"Baiklah, kali ini Papi percaya padamu. Pegang janjimu sebagai laki-laki!!"
"Rian janji akan pegang teguh janji Rian tadi pada Papi juga pada Tuhan"
"Sejak kecil Naya tidak pernah aku hiraukan. Aku meninggalkan nya hanya karena keegoisan ku sendiri. Dia dan maminya sudah banyak menderita karena ku. Jadi aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak ingin Naya menderita lagi. Aku tak pernah memeluknya sejak kecil, tapi dia sudah lari dalam pelukanmu. Aku tidak pernah memperdulikan dirinya sejak kecil, namun dia selalu menjadi memperhatikan dirimu. Bisa kamu bayangkan betapa cemburunya aku melihat putri kecilku dulu jatuh dalam pelukan laki-laki lain. Betapa panasnya hatiku saat dia memperhatikan laki-laki lain selain aku papinya" papr David.
"Tapi setelah aku fikir, aku tak mungkin terus-menerus mengekangnya disini. Dia sudah memilih jalannya. Dan sekarang saatnya aku melepaskan nya pergi bersama laki-laki yang dicintainya. Dan aku harus belajar mengikhlaskannya untuk mu" lanjut nya.
Rian terdiam. Dia sama sekali tak menyangka kalau mertuanya yang terkenal berhati batu dan sangat dingin itu mempunyai sisi melankolis. Baru kali ini David menunjukkan kelemahan hatinya terhadap Rian. Keangkuhannya selama ini runtuh saat dia harus merelakan putri satu-satunya pergi bersama laki-laki yang dicintainya.
Rian mendekat ke arah David, dia mengambil tangan mertuanya dan mencium punggung tangan mertuanya. Meminta restu dari sosok laki-laki hebat yang sangat menyayangi istrinya itu.
"Pi, Rian minta restu papi. Doakan kami bisa melalui segala ujian dalam rumah tangga dengan baik. Doakan agar rumah tangga kami menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dunia dan akhirat. Izinkan Rian membawa putri kesayangan papi dan membahagiakannya"
David tersenyum. Hatinya begitu tersentuh dengan ucapan manantunya itu. David memeluk Rian erat-erat ,seolah berkata "Terima kasih telah menjaga dan membahagiakan putriku"
__ADS_1
******