
Seratus hari sejak kematian Una, Lis tak juga menunjukkan perubahan.Bahkan keadaannya makin memprihatinkan. Doni dengan sabar menjenguk maminya setiap seminggu dua kali. Doni berharap maminya bisa menerima kenyataan ini dan segera sembuh.
"Mami, Doni harap mami segera sehat seperti dulu lagi. Doakan Teh Una agar jiwanya tenang disana. Mami harus sembuh. Mami harus kuat menghadapi semua ini"
Tak ada respon apapun dari Lis saat Doni kesana. Pandangan matanya kosong. Hatinya pun kosong.
"Bagaimana keadaan mami mu, Doni?" tanya David suatu pagi.
"Tidak ada respon, Pi. Mami sepertinya benar-benar telah kehilangan separuh jiwa ya sejak kepergian Teh Una"
"Papi juga tidak bisa berbuat apapun lagi, kemauan untuk sembuh dari mami mu sendiri yang tidak ada. Dia sangat terpukul. Papi harap akan ada kabar baik yang kita terima dari mamimu"
"Lalu bagaimana dengan para penjahat yang telah membunuh teh Una, Pi"
"Papi mendapat kabar dari intel yang disebar oleh pihak kepolisian, mereka sudah mendapatkan nama-nama tersangkanya. Hanya tinggal mengumpulkan bukti"
"Doni berharap mereka bisa segera diringkus, Pi"
"Papi, juga demikian"
__ADS_1
*****
Untuk mengumpulkan bukti-bukti kuat polisi membutuhkan waktu dua bulan lebih. Dan dengan terkumpul nya bukti Kevin dan teman-temannya berhasil dilumpuhkan. Kevin yang berusaha melarikan diri akhirnya mendapat hadiah timah panas dari polisi. David meminta mereka diadili dengan hukuman setimpal.
David mengawal jalannya persidangan sampai putusan hakim jatuh pada mereka. Setalah palu diketuk dimeja pengadilan barulah David merasa puas. Dia telah membalaskan kematian anak tirinya dengan menggiring pelaku ke balik jaruji besi.
******
"Papi senang akhirnya para pelaku yang menganiaya Teh Una mu mendapat balasan yang setimpal" ucap Doni membuka obrolan.
"Iya, Pi. Doni juga senang mendengarnya"
"Iya, Pi. Doni akan laksanakan semua nasehat Papi"
"Seandainya, Teh Naya mu ada disini Papi akan merasa senang sekali"
"Teh Naya?" tanya Doni.
"Ya".
__ADS_1
"Tumben sekali, Papi sampai terpikir teh Naya. Ada apa, Pi?" selidik Donu.
"Tidak apa-apa. Hanya saja ... " David tak melanjutkan ucapannya. Dia terdiam dikursinya.
"Hanya saja apa, Pi..."
"Sudah lama sekali dia tidak kesini? Papi tak pernah lagi mendengar kabarnya?"
"Papi tidak tahu apapun tentang Teh Naya?" Doni mulai tertarik dengan curahan hati papinya tentang Teh Naya nya.
"Ya, seingat Papi terakhir kalinya dia kesini waktu dia kelas satu SMP. Dan terkahir kali dia menghubungi papi sewaktu Mami Yam meninggal dunia?"
Doni tersentak dari tempat duduknya. Apa itu artinya papinya tak tahu kalau Teh Naya sudah menikah dan ikut suaminya ke Pekanbaru. Bukankah Teh Naya menghubunginya saat dia hendak menikah dulu.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Doni.
Namun dia tak berani menceritakan pada David, Doni hanya diam dan berpura-pura tidak tahu. Doni berfikir mungkin lebih baik begini, biarlah papinya tidak tahu dimana keberadaan Teh Naya. Doni tahu percis watak papinya. Keangkuhan dan ego nya yang tinggi pasti nanti akan menyusahkan Teh Naya.
Papi hanya menilai semuanya dari harta dan tahta. Kak Rian yang hanya seorang manager penjualan perusahaan sepatu lokal itu bukanlah tipe menantu idaman papinya. Walaupun dia tahu pasti kalau Teh Naya sangat bahagia bersama suaminya, Adrian.
__ADS_1
******